Gravitasi Dapat Memperlambat Penuaan

Salah satu implikasi teori relativitas umum Albert Einstein, adalah orang yang tinggal di gunung akan lebih cepat tua dibanding mereka yang tinggal dekat laut. Meski bedanya superkecil, perbedaan usia itu sudah terbukti.

Teori Relativitas

Dibangun oleh Albert Einstein dan dipublikasikan pada 1915 telah mengubah pemahaman manusia tentang alam semesta. Teori ini memiliki banyak implikasi, salah satunya dampak pada perjalanan waktu yang nyatanya sama sekali tidak stabil. Semakin jauh dari benda bermassa, waktu akan bergerak lebih cepat.

Dalam teori relativitas umum tersebut, gravitasi digambarkan sebagai kelengkungan ruang dan waktu. Benda masif atau sumber gravitasi akan membelokkan ruang dan waktu. Yang merupakan medium empat dimensi, yaitu tiga dimensi ruang dan satu dimensi waktu.

Dimensi ruang bergerak ke kanan-kiri, depan-belakang, dan atas-bawah. Sementara dimensi waktu bergerak antara masa lampau dan masa depan. Gravitasi, dalam model relativistik, akan mendistorsi atau melengkungkan ruang dan waktu secara bersamaan atau menjadi satu.

Akibatnya, semakin dekat sebuah obyek dengan benda bermassa, maka pengaruh gravitasinya semakin kuat. Sehingga pembelokan ruang dan waktunya akan semakin besar. Konsekuensinya, waktunya menjadi berjalan lebih lambat. Sebaliknya, makin jauh jarak sebuah obyek dari benda bermassa, maka gravitasinya makin lemah dan waktu berjalan lebih cepat.

Namun, efek yang bernama dilatasi waktu gravitasional itu, perbedaan waktu yang terjadi itu hanya bersifat relatif. Artinya, cepat atau lambat waktu yang dialami seseorang bersifat relatif terhadap waktu yang dialami orang lain.

Pengaruh Gravitasi

Seseorang yang berada di wilayah dengan pengaruh gravitasi kuat akan merasa waktunya berjalan normal dan melihat orang di daerah dengan gravitasi lemah memiliki waktu yang berjalan lebih cepat. Sebaliknya, orang dengan gravitasi lemah juga akan merasa waktunya berjalan normal, tetapi melihat orang dengan gravitasi kuat akan memiliki waktu yang berjalan lebih lambat.

baca juga : Benua Bumi Terbentuk oleh Tumbukan Meteorit Raksasa

Tidak ada yang salah dengan jam yang digunakan. Namun, waktu melambat atau menjadi lebih cepat secara relativistik sesuai besaran pembelokan ruang dan waktu. Dengan dilatasi waktu gravitasional itu, maka seseorang yang berada di puncak gunung atau di daerah ketinggian akan memiliki waktu yang berjalan lebih cepat. Akibatnya, proses penuaan yang dialaminya pun menjadi lebih cepat. Atau lebih cepat menjadi tua dibandingkan orang yang tinggal di dekat permukaan laut.

Namun, jangan membayangkan waktu yang bergerak lebih cepat itu akan membuat umur mereka yang tinggal di gunung terpaut jauh umurnya hingga dalam hitungan hari, apalagi tahun. Perbedaan umur antara mereka yang tinggal di gunung dan laut itu hanya dalam rentang milidetik selama beberapa dekade.

Seseorang yang berada di puncak Gunung Everest di Himalaya pada ketinggian 8.848 meter di atas permukaan laut selama 30 tahun akan lebih tua 0,91 milidetik atau 0,00091 detik. Dibandingkan orang yang 30 tahun hidup di daerah dengan ketinggian sama, seperti permukaan laut. (Fisikawan NIST, James Chin-wen Chou/kompas.id/22/12/2022.

Contoh Pengaruh

Demikian juga jika sepasang orang kembar tinggal di tempat terpisah selama 30 tahun. Satu orang tinggal di daerah dengan ketinggian 1.600 meter, seperti di Boulder, Colorado, atau Dieng, Jawa Tengah, serta satu orang lagi tinggal di dekat pantai. Saat mereka dipertemukan kembali 30 tahun kemudian, orang yang tinggal di tempat tinggi akan lebih tua 0,17 milidetik atau 0,00017 detik dibandingkan orang yang tinggal dekat laut.

Bahkan, eksperimen yang dilakukan NIST dengan menggunakan jam atom paling akurat juga mampu menghitung beda umur seseorang yang tinggal pada ketinggian 0,2 milimeter dari permukaan air laut. Perbedaan kecepatan waktu berjalan sebagai implikasi dari teori relativitas umum Einstein itu nyata. Meski sangat kecil, perbedaan itu tetap terukur. Gravitasi (yang kuat) membuat kita relatif menua lebih lambat.

Proses penghitungan kecepatan waktu berjalan berdasarkan jaraknya dari permukaan Bumi atau besarnya gravitasi yang dialami benda itu bukanlah perhitungan biasa. ‚ÄĚKami telah melihat perubahan detak jam pada jarak kira-kira selebar rambut manusia.

Apa pun yang memiliki massa akan memengaruhi ruang dan waktu. Di sekitar obyek bermassa, ruang dan waktu akan terdistorsi hingga menghasilkan pembengkokan ruang dan pelebaran waktu. Efek pembengkokan ruang dan pelebaran waktu itu nyata dan terukur. Namun, karena sangat kecil, maka dalam kehidupan sehari-hari bisa diabaikan. (Andrew Norton, profesor astrofisika di Universitas Terbuka (Open University) Inggris/kompas.id/22/12/2022.

Kepentingan Ilmiah

Meski diabaikan untuk keperluan praktis sehari-hari, perlambatan waktu untuk obyek yang jauh dari sumber gravitasi itu tetap harus diperhitungkan. Untuk pengukuran yang membutuhkan presisi tinggi atau untuk kepentingan ilmiah. Jika perubahan waktu yang kecil itu diabaikan, maka dampaknya bisa menimbulkan kekacauan.

Sebagai contoh, satelit sistem navigasi global (GNSS), seperti Global Positioning System (GPS) milik AS, yang mengitari Bumi pada ketinggian 20.186 kilometer. Waktu di satelit tersebut berjalan lebih cepat 45,7 mikrodetik atau 0,0000457 detik dalam 24 jam dibandingkan waktu yang ada di permukaan Bumi.

Efek relativitas waktu yang paling terasa dampaknya di Bumi adalah keakuratan GPS.Karena satelit GPS bergerak dengan kecepatan tinggi dan jaraknya jauh dari Bumi, maka efek relativitas dari kecepatan dan gravitasi itu perlu diperhitungkan hati-hati agar manusia bisa menyimpulkan posisi obyek tertentu di permukaan Bumi dengan akurasi tinggi. (Chou/kompas.id/22/12/2022)

Makin dekat dengan Bumi membuat proses penuaan berjalan lebih lambat secara waktu relativistik walau perbedaannya sangat kecil dalam skala milidetik dan dalam jangka waktu yang lama. Karena itu, tinggal atau meringkuk di dekat laut bukanlah strategi pencegahan penuaan yang jitu. Namun, yang pasti, waktu adalah hal yang sangat berharga dan cepat berlalu, terutama saat kita jauh dari benda-benda bermassa.

Sumber : kompas.id

Recommended For You

About the Author: SudutEdukasi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *