Skip to content
Sudut Edukasi
Menu
  • Humaniora
    • Dikbud
    • Analisis
    • Materi Umum
    • Referensi
    • Opini/Artikel
  • Sekolah
    • Supervisi
    • Peraturan
    • Kurikulum
    • Evaluasi
    • Guru
    • Siswa
  • Ilmu Pengetahuan Sosial
    • IPS 7
    • IPS 8
    • IPS 9
    • LKPD IPS VII
    • LKPD IPS VIII
    • LKPD IPS IX
    • LKPD Geografi X
    • LKPD Geografi XI
    • LKPD Geografi XII
  • PBM
    • English
    • Bahasa Indonesia
    • Strategi Mengajar
    • Teknologi Pembelajaran
    • Manajemen Kelas
  • SMPN 3 Sinjai
    • Aktivitas Kepala Sekolah
    • Aktivitas Guru
    • Pengelolaan Kinerja Guru
    • Aktivitas Sekolah
  • Kebijakan Privasi
  • Disclaimer
Menu

Model Pendidikan Yang Dibutuhkan Generasi Z

Posted on February 17, 2022December 16, 2022 by SudutEdukasi

Mayoritas siswa saat ini berasal dari Generasi Z, yaitu generasi yang lahir pada pertengahan 1990-an hingga sekitar tahun 2010. Mereka adalah generasi yang ditentukan teknologi, yang tidak bisa melihat dunia tanpa teknologi.

Pembelajaran jarak jauh secara daring pada pandemi Covid-19 ini sejatinya memperkuat Generasi Z. Paling tidak mereka mempunyai kesadaran lebih baik dibanding Generasi Alpha, lahir setelah tahun 2010, yang mungkin belum menyadari dampak pandemi ini pada pendidikan mereka.

Sebuah survei terhadap Generasi Z pada sekolah internasional di India menyebutkan, 93 persen siswa merasa percaya diri karena mereka memahami teknologi dengan baik. Sebanyak 60 persen mengatakan suka berkolaborasi dan berbagi pengetahuan dengan orang lain secara daring.

Meski tidak bisa dikatakan mewakili kondisi global, tetapi paling tidak survei tersebut dapat mencerminkan relasi yang kuat Generasi Z dengan teknologi, bagi mereka yang memiliki akses. Karena itu, teknologi disarankan menjadi bagian pembelajaran bagi sekolah yang melayani Generasi Z.

Pandemi ini mempercepat kebutuhan teknologi untuk pembelajaran. Selama masa pandemi, pembelajaran daring menjadi salah satu solusi untuk menjaga keberlanjutan pendidikan ketika sekolah ditutup. Permasalahan yang muncul merupakan hal wajar karena ada “pemaksaan” adaptasi teknologi secara mendadak dan tanpa persiapan.Manusia mempunyai kemampuan luar biasa untuk beradaptasi, dan anak-anak, lebih luwes untuk beradaptasi dengan teknologi.

Siswa bisa mandiri dengan teknologi dalam pembelajaran jarak jauh, meski untuk memahami materi pelajaran perlu bantuan orangtua terutama siswa sekolah dasar. Mahasiswa dinilai paling mandiri dan paling siap untuk pembelajaran daring.

Generasi muda yang memasuki pendidikan tinggi memiliki titik tolak yang sama sekali berbeda dari generasi sebelumnya. Sebagai digital natives, mereka selalu memiliki teknologi yang sepenuhnya terintegrasi ke dalam sebagian besar aspek kehidupan mereka.

Karena itu, sejumlah penelitian yang dikutip weforum.org menyebutkan, akses ke teknologi yang tepat dan metode pembelajaran yang tepat bisa membuat belajar secara daring lebih efektif. Rata-rata siswa dapat mempertahankan 25-60 persen lebih banyak materi saat belajar daring dibandingkan dengan hanya 8-10 persen saat belajar tatap muka di kelas.

Hal tersebut sebagian besar karena siswa dapat belajar lebih cepat secara daring. Pembelajaran daring membutuhkan 40-60 persen lebih sedikit waktu untuk belajar daripada di ruang kelas karena siswa dapat belajar sesuai kecepatan mereka, membaca ulang materi pembelajaran sesuai keinginan mereka.

Karena itu, saatnya mendefinisikan kembali peran pendidik. Gagasan pendidik sebagai pemegang ilmu yang menanamkan kebijaksanaan kepada murid-muridnya tidak lagi sesuai di era teknologi digital ini. Siswa dapat memperoleh akses ke pengetahuan, dan bahkan mempelajari keterampilan teknis menggunakan telepon seluler, tablet, atau komputer mereka. Ini jaman paling demokratis, kekuasan keilmuan bukan lagi pada guru dan dosen, peran mereka sebagai fasilitator, memberi inspirasi.

Pendidikan juga harus diubah mengikuti perkembangan jaman. Sekolah yang berfokus pada keterampilan akademis dan pembelajaran hafalan , sudah tidak relevan. Keterampilan berpikir kritis dan kemampuan beradaptasi akan lebih penting untuk menentukan kesuksesan di masa depan. Menurut laporan, 85 persen pekerjaan di tahun 2030 yang akan dimasuki oleh Generasi Z dan Alpha belum ditemukan. Menurut laporan, 6 persen anak sekolah dasar saat ini akan bekerja pada jenis pekerjaan yang belum ada.

Konsep otomasi dalam Revolusi Industri 4.0 akan mengubah struktur dan lapangan pekerjaan. Beberapa pekerjaan akan menjadi otomatis dan yang lainnya akan berubah secara signifikan karena teknologi. Manajerial yang membutuhkan keahlian spesifik dan interaksi dengan para pihak termasuk bidang yang sulit diotomasi pada 2030. Sekitar 14 persen pekerjaan di negara-negara anggotanya sangat otomat dan 32 persen lainnya akan berubah secara radikal oleh kemajuan teknologi. Sebuah kajian 23 juta pekerjaan di Indonesia bakal digantikan proses otomasi pada tahun 2030.

Sistem pendidikan harus jauh lebih responsif terhadap tuntutan zaman. Survei kecocokan bidang studi dengan pekerjaan di Amerika Serikat, rata-rata hanya 25 persen. Jadi tidak penting bahwa orang yang belajar sejarah itu pekerjaannya di bidang sejarah, meskipun akan membantu kalau bisa linier.

Sumber : kompas.id

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

TERBARU

  • Potensi Sumber Daya Alam Indonesia dan Pengaruhnya Terhadap Kehidupan: Geografi XI
    By SudutEdukasi
    LKPD Geografi XI
    October 13, 2026
  • Laporan Evaluasi, Refleksi, Dan Tindak Lanjut Hasil Supervisi Akademik
    By SudutEdukasi
    Evaluasi
    October 12, 2026
  • Aspek-Aspek Geografi dan Fenomena Keruangan: LKPD Geografi X
    By SudutEdukasi
    LKPD Geografi X
    October 8, 2026
  • Review, Finalisasi, dan Integrasi Visi, Misi, dan Tujuan Dalam Perencanaan Satuan Pendidikan
    By SudutEdukasi
    Aktivitas Sekolah, Analisis
    October 8, 2026
  • Tata Ruang dan Dinamikanya dalam Pembangunan Wilayah: LKPD Geografi SMA XII
    By SudutEdukasi
    LKPD Geografi XII
    October 7, 2026
  • Pengelolaan Pembelajaran Mendalam (PM) Fokus Lingkungan Belajar dan Pemanfaatan Digital (2)
    By SudutEdukasi
    Kurikulum
    October 6, 2026
  • Analisis Letak Indonesia Secara Geologis: Geografi SMA XI
    By SudutEdukasi
    LKPD Geografi XI
    October 4, 2026

POPULER

Categories

  • Aktivitas Guru
  • Aktivitas Kepala Sekolah
  • Aktivitas Sekolah
  • Analisis
  • Bahasa Indonesia
  • Dikbud
  • English
  • Evaluasi
  • Guru
  • IPS 7
  • IPS 9
  • Kepala Sekolah
  • Kurikulum
  • LKPD Geografi X
  • LKPD Geografi XI
  • LKPD Geografi XII
  • LKPD IPS IX
  • LKPD IPS VII
  • LKPD IPS VIII
  • Manajemen Kelas
  • Materi Umum
  • Opini/Artikel
  • Pengelolaan Kinerja Guru
  • Peraturan
  • Referensi
  • Siswa
  • Strategi Mengajar
  • Supervisi
  • Teknologi Pembelajaran
Sudut Edukasi (sudutedukasi.com) adalah situs web (blog) independen di bidang pendidikan yang menyajikan beragam modul pembelajaran, analisis pedagogis, serta dokumentasi aktivitas sekolah.
Statistik Pengunjung
  • Today's visitors: 49
  • Today's page views: : 52
  • Total visitors : 154,006
  • Total page views: 170,411
©2026 Sudut Edukasi | Design: Newspaperly WordPress Theme