Skip to content
Sudut Edukasi
Menu
  • Humaniora
    • Dikbud
    • Analisis
    • Materi Umum
    • Referensi
    • Opini/Artikel
  • Sekolah
    • Supervisi
    • Peraturan
    • Kurikulum
    • Evaluasi
    • Guru
    • Siswa
  • Ilmu Pengetahuan Sosial
    • IPS 7
    • IPS 8
    • IPS 9
    • LKPD IPS VII
    • LKPD IPS VIII
    • LKPD IPS IX
    • LKPD Geografi X
    • LKPD Geografi XI
    • LKPD Geografi XII
  • PBM
    • English
    • Bahasa Indonesia
    • Strategi Mengajar
    • Teknologi Pembelajaran
    • Manajemen Kelas
  • SMPN 3 Sinjai
    • Aktivitas Kepala Sekolah
    • Aktivitas Guru
    • Pengelolaan Kinerja Guru
    • Aktivitas Sekolah
  • Kebijakan Privasi
  • Disclaimer
Menu

Menyelamatkan Bahasa Daerah dari Kepunahan

Posted on February 24, 2022December 16, 2022 by SudutEdukasi

Puluhan bahasa daerah sebagai khazanah kekayaan budaya, pemikiran, dan pengetahuan yang dimiliki bangsa Indonesia terancam punah. Karena itu, pewarisan bahasa daerah yang dapat digunakan sehari-hari dan relevan bagi anak muda perlu dilakukan semua pihak. Termasuk melibatkan komunitas dan keluarga yang masih menuturkan bahasa daerah.

Daftar Isi

Toggle
  • Pentingnya Bahasa Daerah
  • Revitalisasi
  • Pewarisan yang Sulit Berjalan
  • Model Revitalisasi

Pentingnya Bahasa Daerah

Indonesia memiliki 718 bahasa daerah. Saat ini, 25 bahasa daerah terancam punah, 6 bahasa daerah kritis, dan 11 bahasa daerah telah punah. Punahnya bahasa daerah terutama karena para penutur tidak menggunakan lagi, tidak mewariskan kepada generasi selanjutnya. Serta penutur bahasa daerah mengganggap bahasa daerah tidak mendesak lagi digunakan.

Bahasa daerah bukan hanya sekumpulan kata, tapi bagian dari identitas sebagai kekayaan bangsa dan kebinekaan. Kalau bahasa daerah punah, tidak hanya akan kehilangan identitas, tapi juga kehilangan kebinekaan dan kearifan lokal. Karena itu, mesti membuktikan komitmen menyelamatkan bahasa daerah dari kepunahan dengan karya nyata berupa program revitalisasi bahasa daerah.
Banyak bahasa daerah di Indonesia yang juga terancam punah. Karena penutur jati tidak lagi menggunakan dan tidak mewariskannya kepada generasi berikutnya. Akibatnya, bahasa daerah bisa hilang pada generasi berikutnya.

Revitalisasi

Guna mengatasi punahnya bahasa daerah di Indonesia, ada program revitalisasi bahasa daerah secara serius dilakukan pada tahun 2022. Program dilakukan dengan prinsip dinamis, adaptif, regenerasi, dan merdeka berkreasi dalam penggunaan bahasanya. Dinamis, berorientasi pada pengembangan dan bukan sekadar memproteksi bahasa. Adaptif dengan situasi lingkungan sekolah dan masyarakat. Regenerasi dengan fokus pada penutur muda di tingkat sekolah dasar dan menengah, serta merdeka berkreasi dalam penggunaan bahasanya.

Tujuan revitalisasi bahasa daerah tersebut adalah agar penutur muda menjadi penutur aktif. Anak muda harus mulai mengenal bahasa daerah, selain bahasa Indonesia dan bahasa Inggris. Karena itu, kreativitas dan inovasi untuk mengembangkan bahasa daerah yang relevan dengan kebutuhan generasi muda didukung.

Daerah dapat mengembangkan berbagai program yang menyasar sekolah dengan melibatkan komunitas penutur asli bahasa daerah agar bahasa daerah semakin populer dan relevan bagi generasi muda. Jika bahasa daerah dalam kondisi kritis, maka bersama bahasa daerah itu, budaya dunia dan sistem pengetahuan leluhur ikut terancam punah.

Pelindungan dan pelestarian bahasa daerah bertujuan menjamin hak masyarakat adat melestarikan, merevitalisasi, dan mempromosikan bahasa mereka serta mengarusutamakan keragaman bahasa dan multibahasa ke dalam semua pembangunan berkelanjutan yang berjalan. Harus memastikan bahwa teknologi digital dapat mendukung penggunaan dan pelestarian bahasa dan keragaman bahasa ini.

Pewarisan yang Sulit Berjalan

Anggapan berbahasa daerah tidak keren atau kampungan membuat pewarisan bahasa daerah jadi terhenti. Orangtua dan anak-anak tidak lagi menggunakan bahasa ibu/daerah sehingga bahasa daerah yang ada bisa masuk ke fase kritis lalu punah. Penyelamatan bahasa daerah mulai dilakukan dengan sejumlah inisiatif baru. Sejak tahun 2021 sudah dimulai revitalisasi bahasa daerah di Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Sulawesi Selatan. Program ini utamanya menyasar 1 juta siswa SD dan SMP untuk mulai berbahasa daerah dengan sukacita.

gambar. kompas.id

Pada tahun 2022, ada 38 bahasa daerah yang jadi obyek revitalisasi di 12 provinsi, antara lainyaitu Sumatera Utara, Jawa Barat, Jawa Tengah, Bali, Nusa Tenggara Timur, Nusa Tenggara Barat, Sulawesi Selatan, Kalimantan Timur, Kalimantan Tengah, Maluku, Maluku Utara, dan Papua. Model revitalisasi dirancang tidak seragam. Sasaran revitalisasi bahasa daerah ini meliputi 1.491 komunitas penutur bahasa daerah, 29.370 guru, 17.955 kepala sekolah, 1.175 pengawas, serta 1,5 juta siswa di 15.236 sekolah.

Sementara itu, untuk komunitas penutur, akan dilibatkan secara intensif keluarga, para maestro, serta pegiat pelindungan bahasa dan sastra dalam penyusunan model pembelajaran bahasa daerah, pengayaan materi bahasa daerah dalam kurikulum, serta perumusan muatan lokal kebahasaan dan kesastraan.

Akan ada pelatihan para guru utama serta guru-guru bahasa daerah; mengadopsi prinsip fleksibiltas, inovatif, kreatif, dan menyenangkan yang berpusat kepada siswa; mengadaptasi model pembelajaran sesuai dengan kondisi sekolah masing-masing; serta membangun kreativitas melalui bengkel bahasa dan sastra.

Model Revitalisasi

Ada tiga model revitalisasi yang disesuaikan dengan kondisi di lapangan. Model A, dengan karakteristik daya hidup bahasanya masih aman, jumlah penuturnya masih banyak, dan masih digunakan sebagai bahasa dominan di dalam masyarakat. Pendekatan yang dilakukan adalah pewarisan dilakukan secara terstruktur melalui pembelajaran di sekolah (berbasis sekolah). Contohnya bahasa Jawa, Sunda, dan Bali. Selanjutnya model B, karakteristik daya hidup bahasanya tergolong rentan, jumlah penuturnya relatif banyak, dan bahasa daerahnya digunakan secara bersaing dengan bahasa-bahasa daerah lain.

Pendekatan pada model ini adalah pewarisan dapat dilakukan secara terstruktur melalui pembelajaran di sekolah jika wilayah tutur bahasa itu memadai dan pewarisan dalam wilayah tutur bahasa juga dapat dilakukan melalui pembelajaran berbasis komunitas.

Kemudian, model C, karakteristik daya hidup bahasanya kategori mengalami kemunduran, terancam punah, atau kritis, serta jumlah penutur sedikit dan dengan sebaran terbatas.Pendekatan yang dilakukan pada model ini berupa pewarisan melalui pembelajaran berbasis komunitas untuk wilayah tutur bahasa terbatas dan khas serta pembelajaran dilakukan dengan menunjuk dua atau lebih keluarga sebagai model tempat belajar atau dilakukan di pusat kegiatan masyarakat, seperti tempat ibadah, kantor desa, atau taman bacaan masyarakat.

Puncak Revitalisasi Bahasa Daerah akan berujung pada Festival Tunas Bahasa Ibu. Festival ini merupakan media apresiasi kepada para peserta revitalisasi bahasa daerah yang dilakukan secara berjenjang, mulai dari sekolah atau komunitas belajar.Akan ada tujuh materi, yaitu membaca dan menulis aksara daerah, menulis cerita pendek, membaca dan menulis puisi (sajak, gurit), mendongeng, pidato, tembang tradisi, dan komedi tunggal.

Daftar Pustaka : kompas.id

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

TERBARU

  • Potensi Sumber Daya Alam Indonesia dan Pengaruhnya Terhadap Kehidupan: Geografi XI
    By SudutEdukasi
    LKPD Geografi XI
    October 13, 2026
  • Laporan Evaluasi, Refleksi, Dan Tindak Lanjut Hasil Supervisi Akademik
    By SudutEdukasi
    Evaluasi
    October 12, 2026
  • Aspek-Aspek Geografi dan Fenomena Keruangan: LKPD Geografi X
    By SudutEdukasi
    LKPD Geografi X
    October 8, 2026
  • Review, Finalisasi, dan Integrasi Visi, Misi, dan Tujuan Dalam Perencanaan Satuan Pendidikan
    By SudutEdukasi
    Aktivitas Sekolah, Analisis
    October 8, 2026
  • Tata Ruang dan Dinamikanya dalam Pembangunan Wilayah: LKPD Geografi SMA XII
    By SudutEdukasi
    LKPD Geografi XII
    October 7, 2026
  • Pengelolaan Pembelajaran Mendalam (PM) Fokus Lingkungan Belajar dan Pemanfaatan Digital (2)
    By SudutEdukasi
    Kurikulum
    October 6, 2026
  • Analisis Letak Indonesia Secara Geologis: Geografi SMA XI
    By SudutEdukasi
    LKPD Geografi XI
    October 4, 2026

POPULER

Categories

  • Aktivitas Guru
  • Aktivitas Kepala Sekolah
  • Aktivitas Sekolah
  • Analisis
  • Bahasa Indonesia
  • Dikbud
  • English
  • Evaluasi
  • Guru
  • IPS 7
  • IPS 9
  • Kepala Sekolah
  • Kurikulum
  • LKPD Geografi X
  • LKPD Geografi XI
  • LKPD Geografi XII
  • LKPD IPS IX
  • LKPD IPS VII
  • LKPD IPS VIII
  • Manajemen Kelas
  • Materi Umum
  • Opini/Artikel
  • Pengelolaan Kinerja Guru
  • Peraturan
  • Referensi
  • Siswa
  • Strategi Mengajar
  • Supervisi
  • Teknologi Pembelajaran
Sudut Edukasi (sudutedukasi.com) adalah situs web (blog) independen di bidang pendidikan yang menyajikan beragam modul pembelajaran, analisis pedagogis, serta dokumentasi aktivitas sekolah.
Statistik Pengunjung
  • Today's visitors: 50
  • Today's page views: : 53
  • Total visitors : 154,007
  • Total page views: 170,412
©2026 Sudut Edukasi | Design: Newspaperly WordPress Theme