Potensi Sumber Daya Alam Indonesia dan Pengaruhnya Terhadap Kehidupan: Materi untuk Lembar Kerja Peserta Dididk (LKPD) Geografi SMA Kelas XI
Wilayah Indonesia memiliki keunggulan geografis, geologis, dan ekologis yang menempatkannya sebagai salah satu negara dengan kekayaan sumber daya alam paling beragam di dunia. Terletak di antara dua benua (Asia dan Australia) serta dua samudra (Hindia dan Pasifik), Indonesia memiliki wilayah daratan seluas
dan wilayah perairan yang sangat luas. Posisi astronomis di sabuk khatulistiwa beriklim tropis, dipadukan dengan konfigurasi geologi di pertemuan tiga lempeng tektonik aktif (Eurasia, Indo-Australia, dan Pasifik), memicu pembentukan deposit mineral yang kaya serta ekosistem hayati berkeanekaragaman tinggi. Pemahaman mendalam mengenai potensi, sebaran, serta paradigma pengelolaan sumber daya alam yang berkelanjutan merupakan prasyarat mutlak dalam mewujudkan ketahanan nasional dan kesejahteraan masyarakat.
Pengertian dan Klasifikasi Sumber Daya Alam
Pengertian Sumber Daya Alam
Sumber daya alam (natural resources) merupakan seluruh potensi lingkungan biofisik, baik berupa komponen biotik maupun abiotik, yang berada di biosfer, litosfer, hidrosfer, dan atmosfer yang dapat dimanfaatkan oleh manusia untuk memenuhi kebutuhan hidup serta meningkatkan kualitas kesejahteraan. Dalam lanskap pemikiran geografi dan lingkungan, para ahli memberikan formulasi teoretis mengenai batas dan cakupan sumber daya alam.
J.A. Katili (1983) mendefinisikan sumber daya alam sebagai seluruh unsur tata lingkungan biofisik yang secara nyata maupun potensial dapat dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan manusia. Penekanan Katili terletak pada dualitas sifat sumber daya, yaitu nilai aktual yang telah tereksploitasi dan nilai potensial yang belum tergarap namun memiliki guna di masa depan. Sejalan dengan pandangan tersebut, Soerianegara (1977) merumuskan sumber daya alam sebagai unsur-unsur lingkungan alam, mencakup dimensi fisik dan hayati, yang dibutuhkan manusia untuk meningkatkan kesejahteraan hidupnya. Sementara itu, Walter Isard (1972) mengaitkan sumber daya alam dengan bahan mentah dan kondisi lingkungan yang diintegrasikan ke dalam proses produksi ekonomi guna memperbaiki standar hidup masyarakat.
Dari perspektif regulasi nasional, Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup menegaskan bahwa sumber daya alam adalah unsur lingkungan hidup yang terdiri atas sumber daya hayati dan nonhayati yang membentuk satu kesatuan ekosistem utuh. Keberadaan sumber daya alam tidak dapat dipisahkan dari dinamika ekologis; perubahan pada salah satu unsur fisik atau hayati akan menimbulkan dampak berantai terhadap ketersediaan dan kualitas sumber daya tersebut.
Klasifikasi Sumber Daya Alam
Pengelompokan sumber daya alam dilakukan secara sistematis berdasarkan berbagai kriteria, antara lain tingkat pemulihan, sifat materi pembentuk, potensi pemanfaatan, habitat keberadaan, serta keutamaan yuridis dalam undang-undang.
| Kriteria Klasifikasi | Kategori Klasifikasi | Deskripsi Karakteristik | Contoh Komoditas / Unsur Alam |
| Kemungkinan Pemulihan | Dapat Diperbarui (Renewable) | Sumber daya yang dapat pulih kembali melalui proses reproduksi, siklus biologis, atau pengembangbiakan alami dalam waktu relatif singkat. | Hutan, hewan ternak, tanaman pertanian, mikroorganisme. |
| Tidak Dapat Diperbarui (Non-renewable) | Sumber daya yang jumlahnya terbatas dan membutuhkan waktu geologis hingga jutaan tahun untuk terbentuk kembali. | Minyak bumi, batu bara, gas alam, bijih nikel, emas. | |
| Senantiasa Tersedia (Sustainable) | Sumber daya yang selalu tersedia secara berkelanjutan akibat siklus alami bumi yang terus menerus berulang. | Sinar matahari, angin, air, pasang surut air laut. | |
| Sifat dan Materi | Biotik (Hayati) | Sumber daya yang bersumber dari makhluk hidup (organik), baik kelompok flora, fauna, maupun mikroba. | Kayu hutan, hasil perkebunan, biota laut, peternakan. |
| Abiotik (Non-hayati) | Sumber daya yang berasal dari benda mati atau kondisi fisik lingkungan (anorganik). | Batuan mineral, tanah, air, udara, barang tambang. | |
| Potensi Pemanfaatan | SDA Materi | Dimanfaatkan dalam bentuk fisiknya secara langsung sebagai bahan baku industri atau konstruksi. | Besi, tembaga, kayu, serat kapas, batu kapur. |
| SDA Energi | Dimanfaatkan kandungan energi di dalamnya untuk menghasilkan tenaga listrik atau bahan bakar. | Batu bara, minyak bumi, panas bumi, air terjun. | |
| SDA Ruang | Berupa hamparan wilayah atau tempat yang dibutuhkan manusia untuk melangsungkan aktivitas kehidupan. | Lahan pertanian, kawasan permukiman, kawasan industri. | |
| Lokasi Habitat | Terrestrial | Sumber daya yang berada dan diperoleh di wilayah daratan. | Hutan tropis, bahan tambang darat, tanah alluvial. |
| Akuatik | Sumber daya yang berada dan diperoleh di wilayah perairan. | Perikanan laut, rumput laut, terumbu karang, Garam. | |
| Bahan Galian (UU No. 11/1967) | Golongan A (Strategis) | Penting bagi pertahanan, keamanan, dan stabilitas perekonomian negara. | Minyak bumi, gas alam, batu bara, uranium. |
| Golongan B (Vital) | Menguasai hajat hidup orang banyak dan menjadi bahan baku industri penting. | Emas, perak, tembaga, nikel, bauksit, timah. | |
| Golongan C (Non-strategis/Vital) | Digunakan secara langsung untuk keperluan industri konstruksi dan bahan bangunan. | Marmer, pasir, batu gamping, pasir kuarsa |
Potensi dan Sebaran Sumber Daya Alam Indonesia
Potensi Sumber Daya Alam Indonesia
Sektor kehutanan Indonesia memiliki peran sentral dalam menjaga keseimbangan iklim global. Indonesia menguasai kawasan hutan hujan tropis terluas ketiga di dunia setelah Brasil dan Republik Demokratik Kongo. Berdasarkan data statistik kehutanan, total luas hutan Indonesia mencapai kurang lebih
, atau sekitar
dari total luas daratan nasional. Kekayaan hutan ini mencakup berbagai tipe ekosistem utama. Hutan hujan tropis di Kalimantan, Sumatra, Papua, dan Sulawesi menyimpan potensi kayu komersial seperti meranti, agathis, dan kerang, serta keanekaragaman flora endemik seperti Rafflesia arnoldii dan anggrek hitam.
Hutan musim yang terdistribusi terutama di Pulau Jawa didominasi oleh spesies menggugurkan daun seperti kayu jati (Tectona grandis) dan sengon. Di Nusa Tenggara dan Baluran, kondisi iklim kering membentuk ekosistem hutan sabana yang didominasi rumput dan pohon akasia. Selain itu, Indonesia memiliki lahan gambut seluas
yang tersebar di Sumatra, Kalimantan, dan Papua. Hutan gambut ini berfungsi sebagai penyimpan karbon raksasa yang mengikat sedikitnya
karbon, sehingga degradasi pada kawasan ini berpotensi memicu emisi karbon secara masif.
Potensi kelautan dan kemaritiman Indonesia
Potensi kelautan dan kemaritiman Indonesia sangat berlimpah mengingat statusnya sebagai negara kepulauan. Luas perairan laut yang dominan menjadikan sektor perikanan tangkap dan budidaya sebagai penopang gizi dan ekonomi nasional. Potensi lestari perikanan mencakup spesies pelagis besar seperti tuna dan cakalang, pelagis kecil, demersal, serta krustasea. Selain perikanan, Indonesia berada di pusat Coral Triangle dengan keanekaragaman terumbu karang tertinggi di dunia. Ekosistem pesisir disempurnakan oleh keberadaan padang lamun (seagrass) dan hutan mangrove yang berfungsi sebagai nursery ground bagi biota laut, penangkap sedimen, pendaur zat hara, serta penyerap karbon biru (blue carbon).
Sektor pertanian dan perkebunan berkembang pesat didukung oleh keberadaan tanah vulkanik yang subur hasil pelapukan material gunung api. Pemanfaatan lahan pertanian terbagi atas sistem basah (sawah irigasi) dan sistem kering (ladang dan tegalan). Komoditas pangan utama yang dihasilkan meliputi padi, jagung, dan kedelai. Pada sektor perkebunan, Indonesia merupakan salah satu produsen dan pengekspor utama dunia untuk komoditas kelapa sawit, karet, kopi (seperti kopi Gayo, Kintamani, dan Tanggamus), kakao, teh, cengkeh, dan tembakau.
Di sektor pertambangan dan energi, kondisi geologi Indonesia yang kompleks melahirkan cadangan mineral dan bahan bakar fosil yang kaya. Indonesia tercatat sebagai salah satu pengekspor batu bara termal terbesar di dunia dengan jumlah cadangan terbukti yang menduduki peringkat keenam secara global. Indonesia juga memegang cadangan dan produksi bijih nikel terbesar di dunia yang terkonsentrasi di pulau Sulawesi dan Maluku, menjadikannya pemain kunci dalam rantai pasok industri baterai kendaraan listrik global. Selain nikel dan batu bara, bumi Indonesia menyimpan cadangan minyak bumi, gas alam, emas, tembaga, bauksit, dan timah dalam jumlah signifikan.
Sebaran Sumber Daya Alam Indonesia
Potensi Sebaran sumber daya alam di wilayah Indonesia tidak merata antar-pulau. Variasi spasial ini dipengaruhi secara mendasar oleh tiga faktor determinan: faktor geologis (interaksi pergerakan lempeng tektonik yang membentuk zona intrusi magmatis dan cekungan sedimen), faktor geografis (variasi morfologi daratan, ketinggian, dan bentang perairan), serta faktor iklim (pola curah hujan, suhu, dan kelembapan udara).
Pulau Sumatra kaya akan deposit minyak bumi yang ditambang di wilayah Riau (Dumai dan Sungai Pakning), Sumatra Utara (Tanjung Pura), Aceh (Lhokseumawe), dan Sumatra Selatan (Plaju dan Sungai Gerong). Cadangan batu bara terbesar di Sumatra dikelola di Ombilin (Sumatra Barat) dan Bukit Asam (Sumatra Selatan). Pulau Bangka, Belitung, dan Singkep menjadi pusat penambangan timah nasional. Dari sektor vegetasi, Sumatra didominasi oleh perkebunan kelapa sawit, karet, kopi Gayo dan Tanggamus, serta kawasan hutan gambut dan mangrove pesisir timur.
Pulau Jawa dan Bali dicirikan oleh intensitas vulkanisme yang tinggi, menghasilkan tanah vulkanik subur yang dimanfaatkan untuk pertanian sawah irigasi intensif serta perkebunan teh, kopi, dan tembakau. Wilayah pegunungan kapur seperti Pegunungan Seribu dan Kendeng menghasilkan batu gamping untuk industri semen. Sumber minyak bumi dan gas alam Jawa terkonsentrasi di lepas pantai dan kilang darat seperti Balongan (Jawa Barat), Cilacap dan Cepu (Jawa Tengah). Ekosistem hutan musim jati tersebar luas di bagian tengah dan timur Pulau Jawa.
Pulau Kalimantan, Sulawesi dan Papua
Pulau Kalimantan dikenal sebagai wilayah dengan kekayaan batu bara dan bahan galian strategis terbesar. Penambangan batu bara dan minyak bumi tersebar di Kalimantan Timur (Kutai, Balikpapan, Bontang) dan Kalimantan Selatan. Kalimantan Selatan juga memiliki pusat penambangan intan di Martapura. Hutan hujan tropis Kalimantan menghasilkan kayu komersial dan rotan, sementara lahan gambut seluas jutaan hektare membentang di bagian selatan dan tengah pulau ini.
Pulau Sulawesi dan Kepulauan Maluku merupakan pusat keterdapatan nikel terbesar di Indonesia, dengan area eksploitasi utama di Soroako, Pomalaa, Kolaka, dan kawasan Danau Towuti. Maluku kaya akan komoditas rempah-rempah sejarah seperti cengkeh dan pala. Perairan laut di sekitar Sulawesi dan Maluku memiliki ekosistem terumbu karang berkualitas tinggi, seperti di Taman Nasional Bunaken dan Wakatobi, yang mendukung sektor perikanan tangkap dan pariwisata bahari.
Pulau Papua menyimpan cadangan logam mulia dan gas alam raksasa. Kompleks tambang Grasberg di Tembagapura mengelola salah satu cadangan emas dan tembaga terbesar di dunia. Di Teluk Bintuni, terdapat proyek ekstraksi gas alam Tangguh. Papua juga memegang kawasan hutan hujan tropis dan hutan gambut terluas yang masih utuh di Indonesia, dengan ekosistem pesisir bernilai ekologis tinggi seperti di Raja Ampat.Kepulauan Nusa Tenggara memiliki iklim relatif kering dengan tipe vegetasi dominan berupa hutan sabana. Wilayah ini dimanfaatkan untuk sektor peternakan komersial serta komoditas kayu akasia dan gaharu. Penambangan emas dan tembaga di Nusa Tenggara berpusat di Batu Hijau (Sumbawa, NTB). Perairan Nusa Tenggara berkembang sebagai kawasan marikultur rumput laut dan pariwisata bahari.
Tabel Potensi Sumber Daya Alam Setiap Pulau
| Wilayah Pulau Utama | Penjelasan Determinan Geologis & Iklim | Fokus Komoditas Tambang Utama | Fokus Komoditas Kehutanan & Pertanian | Ekosistem Laut & Pesisir Khas |
| Sumatra | Cekungan sedimen tersier luas di bagian timur & jalur magmatis barat. | Minyak bumi, batu bara, timah, gas alam, bauksit. | Kelapa sawit, karet, kopi Gayo/Tanggamus, kayu meranti. | Hutan gambut pesisir, mangrove, padang lamun Belitung. |
| Jawa & Bali | Busur vulkanik aktif dengan deposisi abu vulkanik subur & iklim musim. | Minyak bumi, gas alam, batu kapur/gamping, marmer. | Padi sawah irigasi, hutan musim jati, teh, tembakau. | Terumbu karang selatan, kawasan ekowisata pesisir. |
| Kalimantan | Cekungan sedimen non-vulkanik tua dengan hamparan lahan basah. | Batu bara, minyak bumi, gas alam, intan, bauksit. | Hutan hujan tropis, kayu bulat, rotan, kelapa sawit. | Estuari sungai besar, hutan bakau pantai barat/selatan. |
| Sulawesi & Maluku | Kompleks batuan ultramafik hasil obduksi kerak samudra. | Nikel, emas, tembaga, bijih besi, granit. | Cengkeh, pala, kayu eukaliptus, kayu hitam/eboni. | Segitiga terumbu karang Bunaken & Wakatobi, perikanan pelagis. |
| Papua | Tumbukan lempeng pasifik & eurasia membentuk intrusi magmatis emas. | Emas, tembaga, gas alam Tangguh, nikel, batu bara. | Hutan hujan tropis utuh, kayu sagu, hutan gambut Papua. | Perairan Raja Ampat, perikanan udang & demersal Arafura. |
| Nusa Tenggara | Iklim semi-arid curah hujan rendah dengan iklim sabana. | Emas, tembaga, batu kapur, mangan. | Hutan sabana, akasia, peternakan sapi/kuda, gaharu. | Marikultur rumput laut, ekosistem perairan Komodo. |
Pengelolaan Sumber Daya Alam (SDA) yang Berkelanjutan dan Permasalahannya
Pengelolaan sumber daya alam yang berkelanjutan dibangun atas dasar kesadaran bahwa eksploitasi alam tanpa batas akan merusak daya dukung (carrying capacity) dan daya tampung lingkungan. Pembangunan berkelanjutan menuntut agar setiap pemanfaatan sumber daya memenuhi tiga pilar utama: keberlanjutan fungsi ekologis, pertumbuhan ekonomi yang inklusif, serta keadilan sosial antar-generasi.
Secara operasional, pengelolaan berkelanjutan menerapkan prinsip ekoefisiensi. Prinsip ekoefisiensi mengarahkan agar setiap aktivitas ekstraksi dan pengolahan sumber daya alam mengoptimalkan penggunaan bahan baku dan energi secara efisien serta meminimalkan limbah dan emisi beracun. Kebijakan hilirisasi pertambangan, seperti pengolahan bijih nikel secara domestik menjadi ferronickel atau bahan baterai sebelum diekspor, merupakan contoh penerapan ekoefisiensi. Strategi ini meningkatkan nilai tambah ekonomi (economic value added) sekaligus mengurangi volume limbah kasar.
Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL)
Instrumen pengendalian lingkungan diwujudkan melalui Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL). AMDAL merupakan studi terpadu untuk mengidentifikasi, memprakirakan, dan mengevaluasi dampak penting suatu rencana usaha atau kegiatan ekstraksi terhadap lingkungan biofisik dan sosial-ekonomi. Pelaksanaan AMDAL secara transparan dan teruji menjadi syarat mutlak dalam penerbitan izin operasi industri pertambangan, kehutanan, dan infrastruktur skala besar. Di samping itu, pengelolaan SDA wajib menganut sifat selektif, hemat, dan menjaga daya regenerasi hayati.
Meskipun kerangka regulasi telah dibentuk, praktik pengelolaan sumber daya alam di Indonesia masih menghadapi persoalan lingkungan yang kompleks. Deforestasi dan degradasi hutan terus terjadi akibat pembalakan liar (illegal logging), kebakaran hutan dan lahan (karhutla), serta ekspansi perkebunan monokultur. Kerusakan hutan gambut di Sumatra dan Kalimantan memicu pelepasan karbon secara drastis serta menimbulkan bencana asap lintas negara.
Di sektor perairan dan pesisir, ekosistem laut menghadapi ancaman dari praktik penangkapan ikan ilegal dan destruktif (destructive fishing), pembuangan sampah plastik, serta abrasi. Pencemaran limbah cair dari industri dan pemukiman melampaui kapasitas asimilasi sungai, sebagaimana terlihat pada kondisi pencemaran berat di sepanjang aliran Sungai Citarum. Sektor pertambangan kerap memicu kerusakan topografi tanah, erosi, serta pencemaran logam berat akibat limbah tailing dan aktivitas penambangan tanpa izin. Masalah ini diperparah oleh konflik agraria tata ruang dan ketimpangan pembangunan antara wilayah barat dan timur Indonesia.
Permasalahan dan Solusi Strategis Berkelanjutan
| Bidang Sektor | Isu Utama Permasalahan Lingkungan | Dampak Ekologis & Sosial-Ekonomi | Solusi Strategis Berkelanjutan |
|---|---|---|---|
| Kehutanan | Deforestasi, pembalakan liar, alih fungsi gambut, dan kebakaran lahan. | Pemanasan global, hilangnya keanekaragaman hayati, kabut asap. | Moratorium izin hutan primer, restorasi gambut, reboisasi, dan patroli terpadu. |
| Pertambangan | Dekstrusi lahan, limbah tailing beracun, dan penambangan tanpa izin. | Pencemaran tanah dan air oleh logam berat, erosi, hilangnya vegetasi. | Penegakan instrumen AMDAL, kewajiban reklamasi lahan, dan hilirisasi ekoefisiensi. |
| Kelautan & Pesisir | Overfishing, penggunaan bom/sianida, dan akumulasi sampah plastik. | Kerusakan terumbu karang, penurunan stok ikan, pencemaran laut. | Perluasan Kawasan Konservasi Perairan (KKP), sistem kuota tangkap terukur. |
| Pertanian | Konversi lahan produktif dan penggunaan pestisida kimia berlebih. | Kerusakan mikroba tanah, pencemaran air tanah, penurunan produksi. | Penerapan pertanian organik, rotasi tanaman, dan perlindungan lahan pangan. |
| Energi | Ketergantungan tinggi pada bahan bakar fosil batu bara dan minyak. | Emisi gas rumah kaca tinggi dan pencemaran udara beracun. | Akselerasi transisi menuju Energi Baru Terbarukan (EBT: surya, angin, panas bumi) |
Kesimpulan
Indonesia memiliki kekayaan sumber daya alam yang melimpah dan tersebar heterogen di seluruh wilayah kepulauan. Keberagaman sumber daya ini terbentuk akibat perpaduan unik antara kondisi geologis tektonik, posisi geografis strategis, dan iklim tropis. Eksploitasi sumber daya alam memberikan kontribusi nyata bagi pertumbuhan ekonomi, penyediaan lapangan kerja, dan penerimaan devisa negara. Namun demikian, pola pengelolaan yang tidak terkontrol terbukti mengakibatkan degradasi lingkungan seperti deforestasi, karhutla, kepunahan hayati, pencemaran perairan, dan ketimpangan sosial.
Oleh karena itu, tata kelola sumber daya alam Indonesia harus konsisten mengadopsi prinsip pembangunan berkelanjutan berbasis ekoefisiensi, analisis dampak lingkungan (AMDAL) yang ketat, serta penegakan hukum tata ruang. Melalui integrasi antara konservasi lingkungan, penerapan teknologi ramah lingkungan, dan partisipasi aktif masyarakat, pemanfaatan potensi sumber daya alam Indonesia dapat terus menopang kehidupan bangsa secara optimal tanpa mengorbankan hak-hak generasi mendatang.
Rincian Kegiatan Pembelajaran
1. Metode Pembelajaran yang Direkomendasikan
Untuk mengajarkan topik ini secara mendalam, pendekatan Problem-Based Learning (PBL) digabungkan dengan teknik Collaborative Inquiry dan Spasial Analysis (Pemetaan).
Sintaks Pelaksanaan (Model PBL)
- Orientasi Siswa pada Masalah:Guru menyajikan studi kasus atau fenomena aktual (misalnya: dampak tambang nikel terhadap ekosistem pesisir atau dilema deforestasi hutan gambut).
- Mengorganisasi Siswa untuk Belajar: Siswa dibagi menjadi kelompok-kelompok kecil (4–5 orang) yang bertindak sebagai “Tim Penilai Lingkungan & Ekonomi”.
- Membimbing Penyelidikan Mandiri/Kelompok: Siswa melakukan penelusuran peta sebaran SDA Indonesia, menganalisis data ekologis/ekonomi, dan merumuskan argumen berbasis data.
- Mengembangkan dan Menyajikan Hasil Karya: Setiap kelompok membuat output digital/visual (seperti peta tematik sederhana, infografis, atau matriks analisis dampak) dan mempresentasikannya di depan kelas.
- Menganalisis dan Mengevaluasi Proses Pemecahan Masalah: Refleksi bersama dan penarikan kesimpulan yang dipandu oleh guru.
2. Rencana Aktivitas & Rancangan Diskusi Kelompok
Setiap kelompok diberikan fokus bahasan dan pertanyaan pemantik yang menuntut kemampuan berpikir tingkat tinggi (High Order Thinking Skills / HOTS).
Kelompok 1: Klasifikasi & Dilema Etika Pemanfatan SDA
- Materi: Pengertian, Klasifikasi SDA (Renewable, Non-renewable, Golongan A/B/C).
- Pertanyaan Diskusi:
- Mengapa bahan galian Golongan A (seperti minyak bumi dan batu bara) dikuasai penuh oleh negara? Apa dampaknya jika Pengelolaannya diserahkan sepenuhnya ke pihak swasta asing?
- Banyak sumber daya alam seperti hutan dianggap renewable (dapat diperbarui). Dalam kondisi seperti apa hutan justru bisa menjadi non-renewable atau rusak secara permanen?
- Tugas Praktis: Buatlah matriks klasifikasi untuk 5 barang tambang utama di Indonesia beserta fungsinya dalam kehidupan sehari-hari.
Kelompok 2: Analisis Spasial & Faktor Sebaran SDA
- Materi: Sebaran SDA Indonesia (Sumatra, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, Papua, Nusa Tenggara).
- Pertanyaan Diskusi:
- Bagaimana faktor pembentukan geologi (pertemuan lempeng tektonik) mempengaruhi keterdapatan emas di Papua dan nikel di Sulawesi, sedangkan Kalimantan didominasi oleh batu bara?
- Wilayah Nusa Tenggara memiliki keterbatasan curah hujan dibandingkan wilayah Indonesia Barat. Bagaimana kondisi geografis ini memengaruhi potensi SDA hayati yang ada di sana?
- Tugas Praktis: Petakan 3 persebaran SDA unggulan dari masing-masing pulau besar di Indonesia pada Peta Buta yang disediakan.
Kolompok 3: Hilirisasi, Ekoefisiensi, dan Ekonomi
- Materi: Pengelolaan SDA Berkelanjutan, Ekoefisiensi, dan Hilirisasi Pertambangan.
- Pertanyaan Diskusi:
- Kebijakan larangan ekspor bijih nikel mentah (hilirisasi) meningkatkan nilai tambah ekonomi Indonesia secara drastis. Namun, proses peleburan (smelter) membutuhkan daya listrik besar yang sering kali masih menggunakan PLTU batu bara. Bagaimana kelompok kalian memandang trade-off (pilihan sulit) antara keuntungan ekonomi dan dampak emisi lingkungan ini?
- Jabarkan konsep Ekoefisiensi dan berikan contoh konkret penerapannya di sektor perkebunan kelapa sawit!
Kelompok 4: Evaluasi AMDAL & Isu Krisis Lingkungan
- Materi: Permasalahan SDA (Deforestasi, Kebakaran Gambut, Destructive Fishing) dan Instrumen AMDAL.
- Pertanyaan Diskusi:
- Apabila suatu kawasan hutan lindung akan dialihfungsikan menjadi area pertambangan strategis nasional, indikator apa saja dalam dokumen AMDAL yang harus diprioritaskan agar ekosistem lokal tidak hancur?
- Kerusakan hutan gambut di Sumatra dan Kalimantan memicu emisi karbon yang sangat tinggi. Apa langkah konkret yang bisa dilakukan masyarakat lokal dan pemerintah untuk melakukan restorasi gambut secara berkelanjutan?
