Klasifikasi dan Tipe Iklim (LKPD Geografi X)

Klasifikasi dan Tipe Iklim. Iklim merupakan sintesis atau rata-rata kondisi cuaca dalam jangka waktu yang panjang, biasanya mencakup periode 30 tahun, pada suatu wilayah tertentu. Berbeda dengan cuaca yang bersifat dinamis dan berubah dalam hitungan jam, iklim memberikan gambaran yang lebih stabil mengenai pola temperatur, kelembapan, curah hujan, dan angin. Pemahaman mengenai iklim menjadi sangat krusial karena ia merupakan faktor pembentuk ekosistem, pola pertanian, hingga karakteristik sosial budaya manusia di berbagai belahan dunia.

a) Iklim dan Faktor Pembentuknya

Beberapa faktor yang berpengaruh terhadap kondisi iklim di suatu tempat, sebagai berikut:

  1. letak garis lintang,
  2. tinggi tempat,
  3. banyak sedikitnya curah hujan yang jatuh,
  4. posisi daerah: dekat dengan laut, gunung, dataran pasir, atau denganbentang alam lain,
  5. daerah pegunungan yang dapat memengaruhi posisi bayangan hujan,
  6. keadaan awan dan suhu udara,
  7. pengaruh luas daratan,
  8. kelembapan udara dan keadaan awan,
  9. pengaruh arus laut,
  10. panjang pendeknya musim setempat, dan
  11. pengaruh topografi dan penggunaan lahan (vegetasi).

b) Macam-Macam Iklim

Macam-macam iklim yang disesuaikan dengan dasar dalam pembagian daerah-daerah iklim sebagai berikut.

(1) Iklim Matahari

Dasar perhitungan dalam melakukan pembagian daerah iklim matahari adalah kedudukan dan pergeseran semu matahari yang memengaruhi banyaknya sinar matahari yang diterima oleh permukaan bumi. Karena matahari selalu bergeser di antara lintang 23½° LU sampai dengan 23½° LS, terjadilah perbedaan penyinaran di muka bumi.

Secara teoritis dapat dinyatakan bahwa makin jauh suatu tempat dari khatulistiwa, makin besar sudut datang sinar matahari. Ini berarti makin sedikit pula jumlah sinar matahari yang diterima oleh permukaan bumi.

Pembagian daerah iklim matahari berdasarkan pada letak garis lintangnya, sebagai berikut.

  • Daerah iklim tropis, berada pada 0° LU–23½° LU dan 0° LS–23½° LS.
  • Daerah iklim sedang, berada pada 23½°LU–66½° LU dan 23½° LS 66½° LS.
  • Daerah iklim dingin, berada pada 66½° LU–90° LU dan 66½° LS 90° LS

Karena pembagian iklim matahari didasarkan pada suatu teori, temperatur udara makin rendah jika letaknya makin jauh dari khatulistiwa, para ahli menyebut iklim matahari dengan istilah iklim teoritis. Pada kondisi yang sebenarnya di beberapa tempat terjadi distorsi terhadap teori tersebut.

Sumber: https://www.youtube.com/@MrDomenos Iklim Matahari – Klasifikasi Iklim

(2) Iklim Fisis

Iklim fisis ialah iklim yang pembagiannya didasarkan pada kenyataan kondisi sebenarnya suatu daerah yang disebabkan pengaruh lingkungan alamnya.

Faktor-faktor lingkungan itu sebagai berikut: (a) pengaruh daratan yang luas, (b) pengaruh penutup lahan (vegetasi), (c) pengaruh topografi (relief), (d) pengaruh arus laut, (e) pengaruh lautan, dan (f) pengaruh angin.

Iklim fisis dapat dibedakan menjadi: (a) iklim laut atau maritim, (b) iklim darat atau kontinental, (c) iklim dataran tinggi, (d) iklim gunung dan pegunungan, dan (e) iklim musim (muson).

(3) Iklim Menurut Koppen

Pada tahun 1918, seorang ahli iklim Jerman bernama W. Koppen membagi dunia menjadi lima zona iklim pokok berdasarkan temperatur dan hujan, dengan menggunakan ciri-ciri temperatur dan hujan berupa huruf-huruf besar dan huruf-huruf kecil. Kelima iklim pokok tersebut masih dirinci lagi menjadi sebelas macam iklim sebagai variasinya

Ciri-ciri temperatur menurut Koppen sebagai berikut.

(a) Temperatur normal dari bulan-bulan terdingin paling rendah 18°C. Suhu tahunan antara 20°C sampai 25°C dengan curah hujan rata-rata dalam setahun > 60 mm. (b) Temperatur normal dari bulan-bulan yang terdingin antara 18°C – 3°C. (c) Temperatur bulan-bulan terdingin < 3°C. (d) Temperatur bulan-bulan terpanas > 0°C. (e) Temperatur bulan-bulan terpanas < 10°C. (f)Temperatur bulan-bulan terpanas <0°–10°C. (g) Temperatur bulan-bulan terpanas < 0°C.

Koppen membedakan iklim menjadi lima kelompok utama, sebagai berikut.

  • (a) Iklim A yaitu iklim khatulistiwa yang terdiri atas: (1) Af : iklim hutan hujan tropis (2) Aw : iklim sabana
  • (b) Iklim B yaitu iklim subtropik yang terdiri atas: (1) BS : iklim stepa (2) BW : iklim gurun
  • (c) Iklim C yaitu iklim sedang maritim yang terdiri atas: (1) Cf : iklim sedang maritim tidak dengan musim kering
  • (2) Cw : iklim sedang maritim dengan musim dingin yang kering (3) Cs : iklim sedang maritim dengan musim panas yang kering
  • (d) Iklim D yaitu iklim sedang kontinental yang terdiri atas: (1) Df : iklim sedang kontinental yang selalu basah
  • (2) Dw : iklim sedang kontinental dengan musim dingin yang kering
  • (e) Iklim E yaitu iklim arktis atau iklim salju yang terdiri atas: (1) ET : iklim tundra (2) EF : iklim dengan es abadi

Ciri iklim di pegunungan menurut Koppen sebagai berikut:

  • (1) Iklim RG : iklim pegunungan ketinggian < 3.000 m.
  • (2) Iklim H : iklim pegunungan ketinggian > 3.000 m.
  • (3) Iklim RT : iklim pegunungan sesuai dengan ciri- ciri iklim ET (tundra)

Untuk menentukan tipe iklim suatu daerah menurut W. Koppen dapat dilakukan dengan menghubungkan jumlah hujan pada bulan terkering dengan jumlah hujan setahun, secara lurus pada diagram Koppen.

(4) Iklim Menurut Oldeman

Oldeman mengklasifikasikan iklim berdasar pada banyaknya bulan basah dan bulan kering dalam penentuan tipe iklimnya yang dikaitkan dengan sistem pertanian di suatu daerah tertentu, yaitu kebutuhan air yang digunakan tanaman pertanian untuk hidup. Penggolongan iklim tersebut lebih sering disebut zona agroklimat.

Curah hujan merupakan sumber utama dari tanaman yang beririgasi nonteknis (tadah hujan). Tanaman pertanian pada umumnya dapat tumbuh normal dengan curah hujan antara 200 mm – 300 mm, dan curah hujan di bawah 200 mm sudah mencukupi untuk tanaman palawija. Zona agroklimat pada klasifikasi ini dibagi menjadi lima subdivisi utama. Kemudian dari tiap-tiap subdivisi tersebut terdapat bulan kering yang berurutan sesuai dengan masa tanamnya, dengan tidak menambahkan faktor-faktor lain yang memengaruhinya, tetapi penggolongan iklim ini sangat berguna bagi pemanfaatan lahan pertanian dan cenderung bersifat ringkas dan praktis.

Berdasarkan klasifikasi jumlah bulan basah dan bulan kering yang telah diketahui tersebut, pengelolaan lahan pertanian mendapatkan informasi yang berguna dalam perencanaan pola tanam dan sistem tanamnya. Hasil ini juga sangat mungkin digunakan untuk kepentingan lain selain bidang pertanian.

Baca juga: Proses Terjadinya Bumi dan Tata Surya (LKPD Geografi X)

c) Distribusi Curah Hujan di Indonesia

Indonesia terletak di daerah ekuatorial dan secara geografis menyebabkan besarnya penguapan yang terjadi. Hal tersebut ditunjukkan masih cukup besarnya curah hujan yang jatuh pada musim kemarau.

Suhu yang tinggi dan luas perairan yang dominan menyebabkan penguapan udara yang terjadi sangat tinggi, dan mengakibatkan kelembapan udara yang tinggi pula. Kelembapan udara yang tinggi inilah yang menyebabkan curah hujan di Indonesia selalu tinggi, apalagi dipengaruhi oleh wilayah hutan yang luas.

Besar kecilnya curah hujan di suatu tempat sangat dipengaruhi beberapa faktor klasifikasi, yaitu:

  • (1) letak daerah konvergensi antartropis,
  • (2) posisi geografis suatu daerah,
  • (3) bentuk bentang lahan dan arah kemiringan lerengnya,
  • (4) panjang medan datar sebagai jarak perjalanan angin, dan
  • (5) arah angin yang sejajar dengan pantai.

Curah hujan di Indonesia tergolong tinggi dengan rata-rata > 2.000 mm/tahun. Rata-rata curah hujan tertinggi terdapat di daerah Baturaden di kaki Gunung Slamet, dengan curah hujan rata-rata > 589 mm/bulan, sedangkan rata-rata curah hujan terkecil terdapat di daerah Palu, Sulawesi Tengah, dengan curah hujan rata-rata ± 45,6 mm/bulan

Rincian Aktivitas Pembelajaran

  1. Baca materi pelajaran diatas dengan seksama termasuk dari sumber lain yang relevan baik buku pegangan atau sumber online lainnya.
  2. Perhatikan dan saksikan dengan baik penjelasan tentang Iklim Matahari  yang terkandung pada video diatas !
  3. Diskusikan dengan anggota kelompokmu yang telah dibentuk sebelumnya, mengenai
    • Iklim dan Faktor Pembentuknya
    • Macam-Macam Iklim
    • Distribusi Curah Hujan di Indonesia
  4. Amati kembali isi video dengan seksama siapkan catatan kemudian amati hal-hal sebagai berikut
    • Faktor yang mempengaruhi pembentukan iklim di suatu tempat
    • Karakteristik iklim
    • Klasifikasi iklim matahari
    • ciri-ciri setiap pembagian iklim matahari

Pertanyaan

  1. Sebutkan perbedaan cuaca dan iklim?
  2. Sebutkan 5 (lima) faktor pembentuk iklim?
  3. Sebutkan 4 (empat) macam iklim?
  4. Sebutkan 5 (lima) faktor yang mempengaruhi besar kecilnya curah hujan di suatu tempat?
  5. Perhatikan kembali video tentang iklim matahari diatas kemudian jawab pertanyaan berikut
    • Sebutkan 4 (empat) faktor yang mempengaruhi pembentukan iklim suatu tempat?
    • Sebutkan karakteristik ikklim suatu tempat?
    • Sebutkan 4 (empat) macam pembagian iklim matahari?
    • Sebutkan ciri-ciri iklim tropis dan iklim sedang?

Tugas

  1. Soal 1: Analisis Hubungan Astronomis dan Sosio-Ekonomi Indonesia terletak di wilayah tropis berdasarkan klasifikasi iklim matahari karena berada di antara 23,5 derajat LU – 23,5 derajat LS. Analisislah bagaimana posisi astronomis ini memengaruhi pola kalender tanam dan strategi ketahanan pangan di Indonesia dibandingkan dengan negara yang berada di zona iklim sedang (seperti Belanda atau Jepang)!
  2. Soal 4: Analisis Kausalitas (Sebab-Akibat) Iklim matahari ditentukan oleh besar kecilnya sudut datang sinar matahari. Jelaskan mengapa wilayah ekuator memiliki variasi suhu tahunan yang relatif kecil dibandingkan dengan wilayah iklim kutub, dan hubungkan jawaban Anda dengan konsep akumulasi panas yang diterima permukaan bumi!

Quiz

Klasifikasi dan Tipe Iklim

Mata Pelajaran Geografi Kelas X SMA/MA

1 / 10

Perubahan penggunaan lahan dari hutan menjadi kawasan industri di wilayah beriklim Af (Koppen) dapat memicu perubahan iklim mikro berupa...

2 / 10

Mengapa klasifikasi iklim Oldeman dianggap lebih relevan untuk perencanaan pertanian di Indonesia dibandingkan klasifikasi Koppen?

3 / 10

Perbedaan mendasar antara klasifikasi iklim Koppen dan klasifikasi iklim Schmidt-Ferguson terletak pada...

4 / 10

Jika suhu rata-rata di permukaan laut adalah 26,3∘
C, maka menurut rumus Braak, suhu udara di puncak Gunung Gede yang berketinggian 2.958 meter adalah sekitar...

5 / 10

Dalam klasifikasi Oldeman, wilayah tipe E dikategorikan sebagai wilayah yang tidak disarankan untuk pertanian padi sawah tanpa irigasi teknis. Hal ini dikarenakan...

6 / 10

Wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT) cenderung memiliki klasifikasi iklim Aw menurut Koppen. Faktor geografis utama yang menyebabkan terbentuknya tipe iklim tersebut adalah...

7 / 10

Fenomena El Nino berdampak pada perubahan tipe iklim sementara di wilayah Indonesia, terutama berdasarkan klasifikasi Oldeman. Dampak nyata dari fenomena ini adalah...

8 / 10

Klasifikasi iklim Koppen menggunakan simbol huruf untuk menentukan karakteristik wilayah. Simbol 'Af' yang banyak ditemukan di wilayah Sumatera dan Kalimantan menunjukkan karakteristik...

9 / 10

Perhatikan data curah hujan suatu wilayah: Bulan Basah (curah hujan > 100 mm) = 8 bulan, Bulan Kering (curah hujan < 60 mm) = 2 bulan. Menurut klasifikasi Schmidt-Ferguson, wilayah tersebut masuk dalam tipe iklim...

10 / 10

Sebuah wilayah di Indonesia berada pada ketinggian 1.600 meter di atas permukaan laut. Berdasarkan klasifikasi iklim Junghuhn, jenis tanaman yang paling cocok dibudidayakan di wilayah tersebut dan alasan logis di baliknya adalah...

Your score is

The average score is 0%

0%

Recommended For You

About the Author: SudutEdukasi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *