Berbagai Usaha untuk Mengurangi Terjadinya Erosi Tanah (LKPD Geografi X)

1. Tekstur dan Kesuburan Tanah

Berbagai Usaha untuk Mengurangi Terjadinya Erosi Tanah. Tanah yang tidak mengalami erosi mempunyai lapisan tanah yang subur sehingga banyak ditumbuhi tumbuh-tumbuhan. Pada tanah yang tidak tererosi lapisan bunga tanahnya akan mampu menambah kesuburannya. Lain halnya dengan tanah yang mengalami erosi, tanah ini akan tandus, tidak mengandung bunga tanah dan tidak banyak tumbuhan yang dapat hidup di sini. Demikian juga jika penebangan hutan dilakukan tanpa adanya reboisasi, terutama pada daerah-daerah yang mempunyai kemiringan yang tinggi dan kemungkinan terjadinya erosi tanah atau angin sangat tinggi.

Selain yang telah disebutkan di atas, tingkat kesuburan tanah dapat diketahui dari tekstur dan struktur tanahnya, baik yang butir tanahnya sedang, mengandung garam pertumbuhan dalam persentase yang tinggi, maupun banyak mengandung air sebagai pelarutnya.

Ukuran partikel tanah ditentukan oleh tekstur tanahnya. Kelompok lempung mempunyai rentang ukuran partikel tanah yang terbesar dengan diameter partikel 0,0002 mm hingga hampir sebesar molekul. Struktur tanah adalah susunan butir-butir suatu tanah dengan komposisi 90% bahan mineral, 1–5% bahan organik, dan 0,9% udara dan air

Beberapa faktor yang berpengaruh terhadap tekstur tanah adalah komposisi mineral dan batuan atau bahan induk, sifat, dan cepatnya proses pembentukan tanah lokal serta umur relatif tanah.

Tekstur tanah

Tekstur tanah dapat menentukan beberapa hal pengerjaan tanah, pengerjaan tanah berpasir di daerah beriklim kering, dan pengerjaan tanah lempung. Misalnya, pengerjaan tanah lempung lebih sulit jika dibandingkan dengan tanah pasir. Hal ini disebabkan tanah lempung bersifat plastis dan sukar untuk diolah jika basah, serta keras jika kering. Namun, di daerah
iklim tropis basah tanah lempung memiliki permeabilitas walaupun rendah.

Permeabilitas tanah adalah cepat atau lambatnya air meresap ke dalam tanah melalui pori-pori tanah baik ke arah horizontal maupun ke arah vertikal. Tekstur tanah sangat berpengaruh pada kecepatan perembesan air. Semakin halus tekstur tanah semakin lambat perembesan airnya.

Ketebalan atau solum tanah menunjukkan tebal tanah jika diukur dari permukaan sampai ke batuan induk. Drainase adalah pengaturan dan pengaliran air yang berada dalam tanah atau permukaan tanah yang menggenang.

Di daerah yang mempunyai solum tanah dalam, drainase yang baik, tekstur halus, dan kemiringan lereng 1–2% dapat diusahakan secara intensif tanpa bahaya erosi atau penurunan produktivitas. Kemampuan daerah bersolum tanah dangkal, drainase buruk, tekstur tanah sangat halus atau sangat kasar, dan berlereng curam adalah terbatas, dan jika lahan itu digunakan banyak hambatannya.

Kesuburan Tanah

Berdasarkan kesuburannya, tanah dapat dibagi menjadi tanah muda, dewasa, tua, dan sangat tua.

  • a) Tanah muda, tanah ini belum subur karena unsur hara atau zat makanan yang terkandung masih sedikit.
  • b) Tanah dewasa, merupakan tanah yang sangat subur dan paling cocok untuk pertanian karena tanah ini banyak mengandung unsur hara atau zat makanan.
  • c) Tanah tua, kesuburan tanahnya sudah mulai berkurang karena unsur atau zat hara makanan yang terkandung di dalamnya juga sudah mulai berkurang.
  • d) Tanah sangat tua, tanah ini merupakan tanah yang tidak subur, juga disebut tanah mati karena unsur hara atau zat makanan yang terkandung di dalamnya sudah sangat sedikit, bahkan hampir habis.

Unsur K, P, N, C, H, O, Na, Ca, S, Mg, Fe, Zn, B, Cu, dan Mn sangat diperlukan oleh tanah. Seperti halnya manusia yang sangat memerlukan bahan makanan untuk tumbuh dan berkembang, unsur-unsur tersebutdiperlukan oleh tanah untuk berubah dan berkembang menjadi tanah yang subur. Dengan kata lain, unsur-unsur itulah yang merupakan bahan makanan bagi tanah. Jika ada salah satu unsur yang tidak terpenuhi, tanaman yang tumbuh di atasnya pun akan tumbuh kurang sempurna. Unsur-unsur di atas dapat diperoleh dari mana saja, baik dari dalam tanah, udara, maupun air. Namun, jika salah satu unsur itu tidak dapat diperoleh secara bebas di alam, tanaman dapat disuplai dengan pupuk dan unsur mineral pupuk organik dan anorganik. Pupuk organik adalah pupuk yang berasal dari sisa-sisa tumbuhan, hewan, dan manusia yang telah membusuk. Contoh pupuk organik adalah pupuk hijau, pupuk kandang, dan pupuk kompos.

Keuntungan Pupuk organik

Pupuk organik memberikan banyak keuntungan, karena membantu penyerapan air hujan, memperbaiki daya mengikat air, mengurangi erosi, dan mempercepat pertumbuhan. Pupuk anorganik disebut juga dengan pupuk buatan merupakan pupuk yang dibuat dalam pabrik. Sedang Pupuk fosfat (P), pupuk kalium (K), dan pupuk nitrogen (N) biasa dikenal sebagai pupuk urea, amonium sulfat, dan amonium klorida merupakan beberapa contoh pupuk anorganik tunggal, sedangkan pupuk NP, NK, PK, dan NPK merupakan contoh dari pupuk anorganik majemuk. Petani mempunyai kecenderungan menggunakan pupuk anorganik dalam pertaniannya karena mereka berpendapat bahwa pupuk pabrik lebih praktis pemakaiannya, ringan, mudah larut, dan cepat bereaksi.

Beberapa hal yang harus diperhatikan sebelum menggunakan pupuk anorganik adalah potensi tanah, jenis pupuk, dosis pemupukan, waktu, dan pemberian pupuk. Dengan memerhatikan hal-hal tersebut produksi pertanian yang diusahakan dapat memperoleh hasil yang optimal.

2. Menjaga Kesuburan Tanah dan Usaha Mengurangi Erosi Tanah

Sumber: https://www.youtube.com/@HaloEdukasi 5 Cara Mencegah Erosi Tanah

Kesuburan tanah dapat dijaga dan dipertahankan dengan cara:

  • a) pemupukan, diusahakan dengan pupuk hijau, pupuk kandang, pupuk buatan, dan pupuk kompos;
  • b) pembuatan bendungan untuk melancarkan sistem irigasi;
  • c) pembuatan hutan cadangan pada lereng-lereng gunung;
  • d) reboisasi atau penghijauan di lereng-lereng gunung yang gundul;
  • e) pembuatan lahan bertingkat untuk pertanian di daerah miring.

Kemiringan suatu lahan terhadap bidang horizontal sering disebut dengan kemiringan lereng. Jika sudut kemiringan lahannya semakin besar, risiko terjadi erosi dan longsor akan semakin besar pula.

Ada beberapa langkah untuk menjaga kelestarian lahan pertanian daerah miring, menghindari erosi tanah dan longsor, yaitu dengan cara membuat terasering; menanami lahan menurut garis kontur agar perakaran dapat menahan tanah (contour farming); pembuatan tanggul pasangan (sengkedan); menanam menurut garis kontur horizontal tanah (contour plowing); bertani dengan cara membagi bidang-bidang tanah itu dalam bentuk sempit dan memanjang mengikuti garis kontur sehingga berbelok-belok bentuknya (contour sinp cropping); pergantian jenis tanaman ketersediaan unsur hara tanah terjaga
dan tidak kehabisan salah satu unsur hara akibat penanaman satu jenis tanaman secara terusmenerus (crop rotation); dan melakukan penanaman hutan kembali (reboisasi) pada hutanhutan gundul.

Baca juga: Dinamika Perubahan Litosfer dan Dampaknya terhadap Kehidupan di Muka Bumi (LKPD Geografi X)

3. Lahan Kritis dan Lahan Potensial

a) Lahan Potensial

Lahan potensial merupakan lahan subur yang sebenarnya dapat dimanfaatkan, tetapi belum dimanfaatkan atau belum diolah, padahal jika diolah akan memberikan nilai ekonomi yang tinggi. Selain itu, juga mempunyai daya dukung terhadap kebutuhan manusia. Dari keadaan tersebut dapat diartikan bahwa lahan potensial merupakan aset yang dapat digunakan sebagai modal untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Untuk itu, harus ditangani dan dikelola secara bijaksana.

Di luar Pulau Jawa masih banyak lahan produktif dan potensial yang belum tergarap, daerah ini sering disebut sebagai lahan tidur.

Kebutuhan pangan

Kebutuhan pangan yang semakin meningkat, memaksa manusia untuk mencari lahan-lahan pertanian baru, tempat mereka mengubah hutan menjadi ladang pertanian, dan tuntutan kebutuhan perumahan memaksa mereka untuk mengubah lahan pertanian tersebut menjadi areal permukiman penduduk. Namun, jika program untuk meningkatkan produksi pangan dan perluasan permukiman dalam skala besar-besaran tidak diatur secara tegas dapat menyebabkan meningkatnya erosi, berkurangnya kesuburan dan produktivitas lahan, dan hilangnya habitat. Berbagai upaya telah dilakukan pemerintah dengan menetapkan kawasan cagar alam dan taman nasional, tetapi tetap saja sejumlah besar lahan dirusak oleh para penebang liar.

Lahan potensial tersebar di tiga wilayah utama daratan, yaitu di daerah pantai, dataran rendah, dan dataran tinggi. Lahan-lahan di wilayah pantai didominasi oleh tanah aluvial (tanah hasil pengendapan). Wilayah dataran rendah dihitung mulai dari dataran pantai sampai ketinggian 300 m dpl. Pada curah hujan yang sesuai dengan kawasan ini merupakan daerah subur seperti pada dataran aluvial. Wilayah dataran tinggi dihitung mulai dari ketinggian 500 m dpl sampai ke atas merupakan wilayah yang berkontur, berbukit-bukit sampai daerah pegunungan. Bagi daerah-daerah tanah tinggi yang dipengaruhi oleh gunung api, kondisi lahannya didominasi oleh tanah vulkanik yang subur yang kandungan mineral haranya cukup tinggi.

Meskipun daerahnya subur, daerah pegunungan merupakan daerah yang berisiko tinggi untuk terjadinya erosi tanah dan tanah longsor. Pengaruh erosi, di daerah-daerah yang memiliki curah hujan tinggi keadaan tanahnya biasanya berwarna merah kecokelatan (pucat), karena unsur-unsur hara dan humusnya banyak tercuci dan terhanyutkan oleh air hujan. Jenis tanah ini kurang subur. Contoh tanah yang sudah banyak mengalami pencucian di antaranya tanah latosol dan tanah podzolik serta tanah laterit.

Usaha pelestarian

Usaha pelestarian dan peningkatan kegunaan lahan-lahan potensial, antara lain, dilakukan dengan cara membuat perencanaan penggunaan lahan; menciptakan keserasian dan keseimbangan fungsi lahan; mengintensifkan penggunaan lahan dalam waktu tertentu; pembuatan perencanaan pembangunan tata lahan untuk menghindari pencemaran; penggunaan lahan seoptimal mungkin untuk kepentingan rakyat; adanya pemisahan penggunaan lahan untuk permukiman, industri, perkantoran, maupun pertanian; pembuatan peraturan atau UU pengalihan hak atas tanah untuk kepentingan umum dan; peraturan perpajakan. Adanya kajian yang berhubungan dengan kebijakan tata ruang, perizinan atau pajak untuk memberikan tambahan wawasan bagi masyarakat tentang konservasi lahan, adanya perhatian terhadap teknologi pengolahan tanah, penghijauan (reboisasi), dan pembuatan sengkedan terutama di daerah-daerah pegunungan, penanaman lahan di permukiman penduduk agar mempunyai ladang yang tetap dan tidak berpindah-pindah, pengelolaan daerah DAS di sepanjang aliran sungai.

b. Lahan Kritis

Lahan kritis sering disebut dengan lahan yang tidak produktif karena meski sudah dikelola tetap saja produktivitas lahannya rendah. Jika ditanami pun hasilnya akan lebih kecil daripada modal yang dikeluarkan. Keadaan tersebut membuat petani enggan mengusahakan tanah-tanah di lahan kritis tersebut. Biasanya lahan kritis ini merupakan lahan tandus, gundul, dan tidak dapat digunakan untuk usaha pertanian karena tingkat kesuburannya sangat rendah.

Lahan kritis dapat terbentuk karena beberapa faktor, antara lain, adanya kekeringan, genangan air secara terusmenerus seperti di daerah pantai dan rawa, terjadinya erosi tanah dan masswasting di daerah dataran tinggi, pegunungan, dan daerah yang miring, adanya kesalahan dalam pengelolaan lahan yang kurang memerhatikan aspekaspek kelestarian lingkungan, masuknya material yang dapat bertahan lama ke lahan pertanian yang tak dapat diuraikan oleh bakteri seperti plastik yang dapat bertahan selama ± 200 tahun di dalam tanah, adanya pembekuan air di daerah kutub atau pegunungan tinggi, serta adanya pencemaran zat seperti pestisida dan limbah pabrik yang masuk ke lahan pertanian.

Perbaikan lahan kritis

Perbaikan terhadap lahan kritis perlu dilakukan karena jika lahan kritis dibiarkan dan tidak ada perlakuan perbaikan, secara langsung atau tidak dapat mengganggu kehidupan manusia. Oleh karena itu, perlu adanya usaha-usaha perbaikan lahan kritis. Untuk menghindari bahaya yang ditimbulkan oleh adanya lahan kritis tersebut, pemerintah Indonesia telah mengambil kebijakan, yaitu melakukan rehabilitasi dan konservasi lahanlahan kritis di Indonesia.

Usaha-usaha yang dilakukan untuk mencegah dan mengatasi lahan kritis adalah:

  • (1) pemanfaatan lahan seoptimal mungkin, baik untuk pertanian, perkebunan, peternakan, maupun usaha lainnya;
  • (2) melakukan penghijauan atau reboisasi;
  • (3) pembuatan terrasering pada lereng bukit untuk mencegah terjadinya erosi tanah;
  • (4) program kali bersih (prokasih);
  • (5) reklamasi lahan bekas pertambangan;
  • (6) pengelolaan wilayah terpadu di wilayah perairan dan daerah aliran sungai (DAS);
  • (7) mempertahankan keanekaragaman hayati dan pola pergiliran tanaman;
  • (8) ditetapkannya sanksi yang tegas bagi siapa saja yang merusak lahan, yang mengarah pada terjadinya lahan kritis;
  • (9) sedapat mungkin digunakan pupuk organik secara tepat dan terusmenerus. Pupuk organik tersebut, antara lain, pupuk kandang atau kompos;
  • (10) memanfaatkan tumbuhan eceng gondok guna menurunkan zat pencemar yang ada pada lahan pertanian; meski dapat digunakan untuk menyerap zat pencemar dan dapat dimanfaatkan untuk makanan ikan, tetapi tetap harus diperhatikan karena eceng gondok sangat mudah berkembang, sehingga dapat menutup permukaan air dan dapat mengganggu lahan pertanian;
  • (11) penggemburan tanah sawah dilakukan dengan tumbuhan azola

Rincian Aktivitas Pembelajaran

  1. Baca materi pelajaran diatas dengan seksama termasuk dari sumber lain yang relevan baik buku pegangan atau sumber online lainnya.
  2. Perhatikan dan saksikan dengan baik penjelasan tentang 5 Cara Mencegah Erosi Tanah yang terkandung pada video diatas !
  3. Diskusikan dengan anggota kelompokmu yang telah dibentuk sebelumnya, mengenai
    • Tekstur dan Kesuburan Tanah
    • Menjaga Kesuburan Tanah dan Usaha Mengurangi Erosi Tanah
    • Lahan Kritis dan Lahan Potensial
  4. Amati kembali isi video dengan seksama siapkan catatan kemudian amati hal-hal sebagai berikut
    • Pengertian Erosi
    • akibat dari erosi tanah
    • Cara mencegah erosi tanah

Pertanyaan

  1. Sebutkan 4 (empat) jenis tanah berdasarkan kesuburannya?
  2. Sebutkan 5 (lima) cara menjaga dan mempertahankan Kesuburan tanah?
  3. Jelaskan perbedaan antara Lahan Kritis dan Lahan Potensial?
  4. Sebutkan 5 (lima) usaha yang dapat dilakukan untuk mencegah dan mengatasi lahan kritis?
  5. Amati kembali isi video dengan seksama kemudian jawab pertanyaan berikut
    • Jelaskan pengertian erosi
    • Jelaskan akibat dari erosi tanah
    • Sebutkan dan jelaskan 5 (lima) cara mencegah erosi tanah

Quiz

Berbagai Usaha untuk Mengurangi Terjadinya Erosi Tanah (LKPD Geografi X)

Mata Pelajaran Geografi kelas X SMA/MA

1 / 10

Penggunaan mulsa (sisa tanaman atau plastik) di permukaan tanah pertanian memiliki peran ganda dalam konservasi tanah, yaitu...

2 / 10

Penggunaan mulsa (sisa tanaman atau plastik) di permukaan tanah pertanian memiliki peran ganda dalam konservasi tanah, yaitu...

3 / 10

Salah satu metode konservasi mekanik adalah pembuatan cekdam (bendungan pengendali). Apa fungsi utama cekdam dalam konteks erosi parit?

4 / 10

Dalam manajemen lahan kritis, seringkali diterapkan agroforestry (wanatani). Mengapa kombinasi tanaman pertanian dan tanaman kehutanan ini dianggap sangat efektif mengurangi erosi?

5 / 10

Dalam manajemen lahan kritis, seringkali diterapkan agroforestry (wanatani). Mengapa kombinasi tanaman pertanian dan tanaman kehutanan ini dianggap sangat efektif mengurangi erosi?

6 / 10

Pak Andi menerapkan sistem strip cropping (pertanaman lorong) di lahannya. Ia menanam jagung diselingi dengan barisan rumput gajah secara berselang-seling tegak lurus arah lereng. Apa fungsi utama barisan rumput gajah dalam sistem ini?

7 / 10

Di daerah dataran tinggi Dieng, petani sering menanam kentang dengan barisan memotong lereng (searah kontur). Jika dibandingkan dengan menanam searah lereng (dari atas ke bawah), apa keuntungan utama metode memotong lereng ini?

8 / 10

Metode konservasi kimiawi menggunakan preparat kimia (soil conditioner) jarang menjadi pilihan utama petani kecil dibanding metode mekanik atau vegetatif. Apa analisis yang paling logis mengenai hal ini?

9 / 10

Angin kencang sering menerbangkan lapisan topsoil di daerah berpasir yang kering. Upaya konservasi yang paling tepat untuk memecahkan masalah erosi angin (deflasi) ini adalah...

10 / 10

Angin kencang sering menerbangkan lapisan topsoil di daerah berpasir yang kering. Upaya konservasi yang paling tepat untuk memecahkan masalah erosi angin (deflasi) ini adalah...

Your score is

The average score is 0%

0%

Recommended For You

About the Author: SudutEdukasi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *