Kerja Sama Indonesia-Korea Selatan Menuju Visi Emas 2045. Arsitektur Hubungan Spesial: Laporan Analisis Komprehensif Transformasi Kerja Sama Bilateral Indonesia-Korea Selatan Menuju Visi Emas 2045. ( Materi Lembar Kerja Mata Pelajaran Geografi SMA Kelas XII)
Transformasi hubungan diplomatik antara Republik Indonesia dan Republik Korea (Korea Selatan) telah mencapai titik kulminasi historis pada April 2026 melalui peresmian status Kemitraan Strategis Komprehensif Spesial (Special Comprehensive Strategic Partnership). Peningkatan status ini bukan sekadar retorika diplomatik konvensional, melainkan manifestasi dari pergeseran tektonik dalam arsitektur keamanan dan ekonomi di kawasan Indo-Pasifik. Di tengah ketidakpastian global yang dipicu oleh eskalasi konflik di Timur Tengah, Seoul dan Jakarta telah memilih untuk mengintegrasikan kepentingan nasional mereka ke dalam sebuah aliansi yang menyatukan keunggulan teknologi mutakhir dengan kekayaan sumber daya alam strategis.
Evolusi hubungan ini mencerminkan perjalanan panjang yang dimulai sejak pembukaan hubungan resmi pada 10 Desember 1973. Dari hubungan perdagangan komoditas dasar pada dekade 1970-an, kedua negara meningkatkannya menjadi Kemitraan Strategis pada tahun 2006, dan kemudian menjadi Kemitraan Strategis Spesial pada tahun 2017. Pada April 2026, di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto dan Presiden Lee Jae Myung, kedua negara sepakat untuk melangkah lebih jauh ke jenjang “Komprehensif Spesial”—sebuah terminologi unik yang menjadikannya satu-satunya kemitraan jenis ini yang dipertahankan oleh Korea Selatan dengan mitra internasional mana pun. Langkah ini menandai komitmen kedua belah pihak untuk menciptakan “Proyek Berorientasi Masa Depan” yang melampaui sektor perdagangan tradisional, mencakup kecerdasan buatan (AI), ekonomi hijau, pertahanan tingkat tinggi, dan keamanan rantai pasok mineral kritis.
Dinamika Geopolitik dan Urgensi Keamanan Rantai Pasok Global
Peningkatan hubungan bilateral ini secara intrinsik dipicu oleh guncangan eksternal yang mengancam stabilitas ekonomi kedua negara. Perang di Timur Tengah telah mengganggu jalur distribusi energi global, memaksa Korea Selatan untuk mencari jaminan keamanan energi dari mitra yang lebih stabil. Dalam konteks ini, Indonesia muncul sebagai pilar stabilitas energi bagi Seoul. Sebagai eksportir utama gas alam cair (LNG) dan batu bara termal, Indonesia memberikan jaminan pasokan yang sangat dibutuhkan untuk menjaga kelangsungan industri dan rumah tangga di Korea Selatan.
Data pemerintah menunjukkan bahwa perusahaan-perusahaan Korea Selatan dijadwalkan menerima sekitar 820.000 ton LNG dari Indonesia pada tahun 2026, volume yang cukup untuk mengoperasikan seluruh pembangkit listrik tenaga gas di Korea Selatan selama kurang lebih 12 hari. Ketergantungan ini menjelaskan mengapa Presiden Lee Jae Myung menggambarkan Indonesia sebagai “teman lama yang tepercaya” dan mitra vital dalam memitigasi kejutan energi. Namun, kerja sama ini kini telah berevolusi dari sekadar ekstraksi sumber daya fosil menjadi penguasaan teknologi mineral kritis yang diperlukan untuk transisi energi hijau global.
Indonesia, sebagai produsen nikel terbesar di dunia, memegang kunci bagi ambisi Korea Selatan untuk mendominasi pasar baterai kendaraan listrik (EV) global. Melalui nota kesepahaman (MoU) tentang Kemitraan Mineral Kritis, kedua negara telah membangun kerangka kerja institusional yang mencakup seluruh rantai nilai—mulai dari eksplorasi, pengembangan, pengolahan, pemurnian, hingga pengembangan tenaga kerja. Hal ini menciptakan ketergantungan simbiotik: Indonesia membutuhkan modal dan teknologi Korea untuk melakukan hilirisasi industri, sementara Korea Selatan membutuhkan akses yang stabil terhadap bahan baku esensial untuk menjaga daya saing industri otomotif dan elektroniknya di pasar global.
Profil Perdagangan Bilateral dan Struktur Ekonomi (2024-2026)
Meskipun volume perdagangan sempat mengalami fluktuasi akibat pandemi, tren jangka panjang menunjukkan pertumbuhan yang solid dengan target ambisius sebesar US$ 50 miliar pada tahun 2030. Pada tahun 2024, volume perdagangan telah menunjukkan pemulihan yang signifikan dengan struktur yang mencerminkan profil ekonomi kedua negara.
| Indikator Perdagangan (2024) | Nilai (US$ Miliar) |
| Total Impor Korea Selatan dari Indonesia | 12,56 |
| Total Ekspor Korea Selatan ke Indonesia | 7,95 |
| Saldo Perdagangan (Defisit bagi Korea) | 4,61 |
| Target Perdagangan Bilateral 2030 | 50,00 |
Analisis lebih mendalam terhadap kategori produk menunjukkan bahwa sektor energi dan bahan mentah masih mendominasi arus masuk ke Korea Selatan, sementara produk manufaktur bernilai tambah tinggi mendominasi arus keluar dari Seoul menuju Jakarta.
| Komoditas Utama Impor Korea dari RI (2024) | Nilai (US$ Miliar) |
| Bahan Bakar Mineral dan Minyak | 4,76 |
| Peralatan Listrik dan Elektronik | 1,27 |
| Bijih, Terak, dan Abu | 1,09 |
| Besi dan Baja | 0,44 |
| Alas Kaki | 0,43 |
| Komoditas Utama Ekspor Korea ke RI (2024) | Nilai (US$ Juta) |
| Peralatan Listrik dan Elektronik | 986,03 |
| Plastik dan Artikel Terkait | 868,45 |
| Besi dan Baja | 803,25 |
| Bahan Bakar Mineral dan Produk Distilasi | 750,69 |
| Mesin, Reaktor Nuklir, dan Boiler | 715,27 |
Data ini menegaskan bahwa kerja sama ekonomi antara kedua negara bersifat komplementer. Indonesia berfungsi sebagai penyedia input industri dan energi, sementara Korea Selatan berfungsi sebagai penyedia teknologi modal dan barang antara yang diperlukan oleh industri manufaktur Indonesia. Keberadaan lebih dari 700 perusahaan Korea yang beroperasi di kawasan regional juga menjadi tulang punggung bagi stabilitas investasi jangka panjang.
Revolusi Industri Pertahanan: Menavigasi KF-21 dan Kedaulatan Teknologi
Sektor pertahanan merupakan pilar paling strategis sekaligus paling kompleks dalam hubungan bilateral ini. Program pengembangan pesawat tempur supersonik KF-21 Boramae (atau IF-X di Indonesia) telah menjadi ujian bagi ketahanan kemitraan kedua negara. Sejak diluncurkan pada tahun 2015, proyek ini sempat mengalami hambatan serius terkait keterlambatan pembayaran kontribusi dari pihak Indonesia, yang dipicu oleh kendala fiskal domestik dan prioritas anggaran yang bergeser.
Namun, pada awal 2026, sebuah terobosan diplomatik dicapai. Setelah serangkaian negosiasi intensif, kedua pemerintah sepakat untuk merevisi kontribusi finansial Indonesia menjadi 600 miliar won (sekitar US$ 400 juta). Meskipun nilai ini lebih rendah dari komitmen awal sebesar 1,6 triliun won, kesepakatan ini memungkinkan proyek untuk tetap berjalan menuju tahap produksi massal. Sebagai bagian dari “Paket Transfer Nilai” ini, Korea Selatan setuju untuk menyerahkan prototipe kelima (single-seat) KF-21 kepada Indonesia, sebuah pesawat yang telah digunakan dalam uji coba radar AESA dan pengisian bahan bakar di udara.
Kontribusi RI (Revisi)
Penting untuk dicatat bahwa pengurangan kontribusi finansial ini membawa konsekuensi pada tingkat transfer teknologi yang diterima oleh Indonesia. Seoul memilih untuk memberikan prototipe yang memiliki nilai operasional terbatas dibandingkan dengan teknologi sensitif yang terintegrasi pada pesawat produksi penuh, sebuah langkah taktis untuk menjaga keamanan teknologi sambil tetap mempertahankan kemitraan strategis. Di sisi lain, Indonesia kini tengah menegosiasikan pembelian 16 unit KF-21 hasil produksi massal, yang jika terealisasi, akan menjadi ekspor pertama bagi industri dirgantara Korea Selatan dan memperkuat kedaulatan udara Indonesia dengan jet tempur generasi 4,5.
| Parameter | Detail Status Program |
| Status Program KF-21 | Transisi dari Pengembangan ke Produksi Massal |
| Kontribusi RI (Revisi) | 600 Miliar Won (Sekitar US$ 400 Juta) |
| Pembayaran Terkumpul | 536 Miliar Won per Maret 2026 |
| Batas Akhir Pembayaran | Juni 2026 |
| Aset yang Ditransfer | Prototipe #5 (Single-seat) dan Dokumentasi Teknis |
| Potensi Ekspor | Negosiasi Pembelian 16 Unit Produksi Massal |
Sementara kerja sama dirgantara menunjukkan kemajuan, sektor maritim mengalami dinamika yang berbeda. Indonesia baru-baru ini memperkuat kemitraan pertahanan dengan Prancis melalui kontrak pembangunan dua kapal selam Scorpène Evolved oleh Naval Group dan PT PAL. Pergeseran ini menunjukkan bahwa Indonesia menerapkan strategi diversifikasi pemasok pertahanan untuk menghindari ketergantungan pada satu negara. Meskipun demikian, Korea Selatan tetap menjadi mitra penting dalam pengembangan sistem artileri seperti K9 mobile howitzers dan sistem peluncur roket multipel Chunmoo, serta proyek kendaraan lapis baja yang dikembangkan oleh Hanwha Aerospace.
Mobilisasi Investasi US$ 10,2 Miliar dan Peran Danantara
Kunjungan kenegaraan Presiden Prabowo ke Seoul pada April 2026 menghasilkan komitmen investasi yang masif sebesar US$ 10,2 miliar atau sekitar Rp 173 triliun. Investasi ini merupakan bagian dari visi besar “Indonesia Emas 2045” yang menargetkan transformasi Indonesia menjadi negara maju. Sektor-sektor yang menjadi fokus utama mencakup transisi energi hijau, infrastruktur digital, AI, dan industri manufaktur maju.
Salah satu mekanisme baru yang diperkenalkan dalam kemitraan ini adalah peran strategis Danantara (Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara). Sebagai lembaga pengelola investasi kedaulatan Indonesia yang baru disentralisasi, Danantara kini mengelola aset yang diperkirakan mencapai US$ 900 miliar, menjadikannya salah satu dana kekayaan kedaulatan terbesar di dunia. Presiden Lee Jae Myung secara eksplisit menyatakan minat Korea Selatan untuk berkolaborasi dengan Danantara dalam mendanai proyek-proyek industri strategis dan mempercepat transformasi digital di ekosistem Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Indonesia.
Melalui platform Danantara, investor Korea seperti POSCO dan Lotte Group berencana untuk memperluas jejak industri mereka. POSCO, yang telah lama menjadi pilar industri baja di Cilegon, bermaksud untuk menginvestasikan modal lebih lanjut guna mendukung hilirisasi baja yang diperlukan untuk produksi kendaraan listrik dan infrastruktur IKN. Sementara itu, Lotte akan menjajaki peluang kolaborasi investasi dalam sektor petrokimia dan distribusi ritel modern yang terintegrasi dengan teknologi AI Korea.
Rincian Sektor Investasi dalam 16 Nota Kesepahaman (MoU)
Kerja sama yang ditandatangani pada April 2026 mencakup spektrum luas yang dirancang untuk memodernisasi lanskap industri nasional.
| Bidang Kerja Sama | Cakupan Utama dan Target |
| Ekonomi & Komunikasi | Restart Komite Kerja Sama Ekonomi (Economic Cooperation 2.0) |
| Mineral Kritis | Eksplorasi, Pengolahan, dan Pemurnian Nikel serta Logam Tanah Jarang |
| Energi Bersih | Pembangkit Listrik Tenaga Surya dan Teknologi Penangkapan Karbon (CCS) |
| Energi Nuklir | Kerja Sama Kebijakan dan Pengembangan Reaktor Modular Kecil (SMR) |
| Teknologi Digital & AI | Integrasi Big Data Indonesia dengan Teknologi AI Korea Selatan |
| Kesehatan & Medis | AI untuk Diagnostik Kesehatan dan Pengembangan Smart Hospital |
| Infrastruktur Kota | Pengembangan Smart City Bumi Serpong Damai (BSD) oleh Daewoo |
| Industri Maritim | Layanan Offshore Plant dan Teknologi Perkapalan Modern |
| Kekayaan Intelektual | Penegakan Hukum dan Perlindungan Hak Kekayaan Intelektual |
Investasi ini juga mencakup komitmen untuk memperkuat modal manusia melalui pelatihan tenaga kerja terspesialisasi di bidang teknologi tinggi. Pemerintah Indonesia juga menjanjikan mekanisme “debottlenecking” untuk menghapus hambatan regulasi yang selama ini menghambat realisasi investasi Korea di lapangan
Pembangunan Berkelanjutan: IKN Nusantara dan Manajemen Air Pintar
Korea Selatan telah memposisikan dirinya sebagai “arsitek utama” di balik pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN) di Kalimantan Timur. Melalui kepemimpinan K-water (Korea Water Resources Corporation), Seoul telah meluncurkan berbagai proyek infrastruktur air yang mengadopsi prinsip emisi nol bersih (net-zero). Proyek unggulan di IKN dirancang untuk menyediakan pasokan air bersih bagi populasi awal sebanyak 118.125 orang dengan kapasitas Fase 1 sebesar 350 liter per detik (lps).
Keunggulan Korea Selatan dalam teknologi manajemen air sangat relevan bagi Indonesia, mengingat Korea Selatan sendiri diklasifikasikan sebagai negara dengan stres air sebesar 58%, namun berhasil mencapai tingkat kualitas air keran peringkat ke-8 di dunia. Di IKN, K-water menerapkan teknologi pengolahan air yang dioptimalkan dengan kondisi air baku lokal, mengintegrasikan panel surya untuk mencapai operasi netral karbon. Selain itu, proyek pilot di Denpasar, Bali, menggunakan sensor IoT untuk deteksi kebocoran dan pemantauan pipa secara real-time, sebuah model yang diharapkan dapat direplikasi di kota-kota besar lainnya di Indonesia guna mengurangi kehilangan air non-pendapatan (NRW).
Di wilayah Tangerang, proyek Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) Karian-Serpong merupakan proyek kemitraan pemerintah-swasta (PPP) yang signifikan, di mana K-water memegang 70% saham konsorsium. Proyek ini bertujuan untuk menyediakan akses air minum bagi jutaan penduduk di Jakarta (70% volume), Tangerang, dan Tangerang Selatan melalui pembangunan instalasi pengolahan berkapasitas 4.600 lps. Hal ini membuktikan bahwa kerja sama infrastruktur antara kedua negara tidak hanya terbatas pada pembangunan fisik, tetapi juga pada transfer pengetahuan tentang pengelolaan sumber daya yang berkelanjutan di tengah tantangan perubahan iklim.
Ekosistem Kendaraan Listrik: Karawang sebagai Pusat Regional
Visi Indonesia untuk menjadi pusat kendaraan listrik (EV) global mendapatkan dukungan penuh dari raksasa industri Korea. Di Karawang, Jawa Barat, dua proyek baterai skala besar sedang menuju tahap operasional penuh pada tahun 2026. PT Contemporary Amperex Technology Indonesia Battery (CATIB), sebuah perusahaan patungan yang melibatkan BUMN MIND ID dan mitra strategis, tengah mempercepat pembangunan fasilitas sel baterai dengan kapasitas awal 6,9 GWh.
Secara bersamaan, Hyundai Motor Group telah mengoperasikan pabrik sel baterai PT HLI Green Power yang merupakan fasilitas pertama dan terbesar di Asia Tenggara dengan kapasitas 10 GWh per tahun. Sinergi antara produksi sel baterai ini dengan perakitan paket baterai oleh Hyundai Energy Indonesia akan memungkinkan produksi massal kendaraan listrik dengan tingkat komponen dalam negeri (TKDN) yang tinggi. Ioniq 5 dan Kona Electric versi produksi lokal menjadi bukti nyata dari integrasi rantai nilai ini.
Target pemerintah Indonesia untuk memproduksi 600.000 unit kendaraan listrik berbasis baterai per tahun pada 2030 sangat bergantung pada stabilitas investasi Korea ini. Selain unit kendaraan, kerja sama ini juga mencakup pembangunan infrastruktur pengisian daya (charging stations) dan pengembangan sistem penyimpanan energi (Energy Storage Systems/ESS) untuk mendukung integrasi energi terbarukan di jaringan listrik nasional.
| Nama Fasilitas / Entitas | Lokasi | Kapasitas & Target | Status Proyek |
| PT CATIB (Baterai Cell) | Karawang, Jabar | 6,9 GWh (Fase 1) | Operasi Komersial Q3 2026 |
| PT HLI Green Power | Karawang, Jabar | 10 GWh per Tahun | Sudah Beroperasi |
| Hyundai Energy Indonesia | Karawang, Jabar | 50.000 Unit BSA / tahun | Sudah Beroperasi |
| Smelter Nikel (Pyrometallurgy) | Terintegrasi | 88.000 ton Refined Nickel | Operasi Awal 2027 |
Pertumbuhan industri ini diproyeksikan akan menyerap sekitar 3.000 tenaga kerja terampil dan memberikan kontribusi signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi Jawa Barat, yang ditargetkan mencapai 7,44% pada tahun 2030 melalui pengembangan koridor industri Rebana.
Diplomasi Tenaga Kerja dan Pertukaran Budaya: Dimensi Kemanusiaan
Aspek yang sering kali terabaikan namun krusial dalam hubungan bilateral ini adalah mobilitas tenaga kerja dan pengaruh budaya (soft power). Korea Selatan, yang menghadapi krisis demografi serius, semakin bergantung pada tenaga kerja asing untuk menjaga roda ekonominya tetap berputar. Untuk tahun 2026, pemerintah Korea Selatan telah menetapkan kuota gabungan pekerja asing sebesar 218.000 orang, yang mencakup visa non-profesional (E-9) dan pekerja musiman (E-8).
Indonesia secara konsisten menjadi salah satu mitra pengirim tenaga kerja terbesar di bawah skema Employment Permit System (EPS). Sektor manufaktur memegang alokasi terbesar dengan 100.000 slot, diikuti oleh konstruksi (30.000 slot) dan pertanian (20.000 slot). Kehadiran puluhan ribu pekerja Indonesia di Korea Selatan tidak hanya memberikan manfaat remitansi yang signifikan—dengan rata-rata gaji bulanan di sektor manufaktur mencapai US$ 1.540 hingga US$ 1.770—tetapi juga menciptakan jembatan pemahaman antar-masyarakat yang kuat.
Penetrasi budaya Korea (Hallyu)
Di sisi lain, penetrasi budaya Korea (Hallyu) di Indonesia telah mencapai puncaknya. Menurut survei pemerintah Korea Selatan tahun 2023, Indonesia menempati peringkat pertama di dunia dalam konsumsi konten budaya Korea, dengan persentase mencapai 35,5%. Antusiasme ini terlihat nyata pada konser-konser K-Pop besar di Jakarta dan popularitas drama Korea yang membentuk persepsi positif masyarakat Indonesia terhadap Korea Selatan. Afinitas budaya ini memiliki implikasi ekonomi yang nyata, di mana permintaan terhadap produk makanan, kosmetik, dan fashion Korea terus meningkat, sekaligus mendorong minat pariwisata warga Indonesia ke Seoul yang kini telah melampaui level pra-pandemi.
| Kategori Visa / Sektor | Jumlah Slot (2026) | Gaji Rata-rata (USD) |
| Visa E-9 (Manufaktur) | 100.000 | $1.540 – $1.770 |
| Visa E-9 (Konstruksi) | 30.000 | $1.690 – $2.000 |
| Visa E-9 (Pertanian) | 20.000 | $1.460 – $1.615 |
| Visa E-9 (Perikanan) | 10.000 | $1.460 – $1.615 |
| Visa E-9 (Layanan – Pilot) | 5.000 | Bervariasi |
| Visa E-8 (Pekerja Musiman) | 53.000 | Jangka Pendek |
| Cadangan Fleksibel | 10.000 | Respons Kebutuhan |
Pendidikan juga menjadi pilar baru dalam hubungan ini. Dengan dibukanya “Hallyu International College” di Sookmyung Women’s University secara eksklusif untuk pelajar internasional, diharapkan akan lahir generasi pemimpin masa depan yang mampu menjembatani perbedaan budaya dan memperkuat kolaborasi industri kreatif antara kedua negara. Hubungan “Education Bridge” yang menghubungkan 23 Institut Teknologi India (IIT) dengan konsorsium universitas Korea (KNU10) juga menjadi model yang mungkin direplikasi di Indonesia di masa depan untuk mendukung pengembangan SDM teknologi.
Kesimpulan: Navigasi Menuju Kemitraan Strategis yang Resilien
Rekomendasi strategis bagi pengambil kebijakan meliputi:
- Penguatan Dialog Strategis: Memastikan mekanisme “Special Comprehensive Strategic Dialogue” tingkat menteri dilakukan secara tahunan untuk memitigasi risiko geopolitik dan ekonomi.
- Optimalisasi Danantara: Memanfaatkan dana kekayaan kedaulatan untuk menjamin pembiayaan jangka panjang proyek-proyek infrastruktur hijau dan transformasi digital yang melibatkan perusahaan Korea.
- Hilirisasi yang Berkeadilan: Memastikan bahwa transfer teknologi dari Korea Selatan benar-benar terjadi melalui penguatan standar TKDN dan program pelatihan tenaga kerja lokal yang intensif.
- Diversifikasi Kerja Sama: Memperluas cakupan kolaborasi ke bidang-bidang futuristik seperti energi nuklir (SMR), ekonomi luar angkasa, dan keamanan siber yang telah mulai dirintis dalam 16 MoU terbaru.
Dengan kepemimpinan yang bervisi dan komitmen yang berkelanjutan, kemitraan Indonesia-Korea Selatan berpotensi menjadi “Miracle on the Archipelago” yang mereplikasi kesuksesan pembangunan Korea Selatan di tanah air, sekaligus memperkuat stabilitas dan kemakmuran di jantung kawasan Pasifik.
Unduh Masteri lengkap : Arsitektur Hubungan Spesial: Laporan Analisis Komprehensif Transformasi Kerja Sama Bilateral Indonesia-Korea Selatan Menuju Visi Emas 2045
Rincian Aktivitas Pembelajaran
- Baca materi pelajaran diatas dengan seksama termasuk dari sumber lain yang relevan baik buku pegangan atau sumber online lainnya.
- Perhatikan dan saksikan dengan baik penjelasan tentang 46 Tahun Kemesraan Indonesia-Korea Selatan yang terkandung pada video diatas !
- Diskusikan dengan anggota kelompokmu yang telah dibentuk sebelumnya, mengenai
- Profil Perdagangan Bilateral dan Struktur Ekonomi (2024-2026) Indonesia Korea Selatan
- Revolusi Industri Pertahanan: Menavigasi KF-21 dan Kedaulatan Teknologi Indonesia Korea Selatan
- Pembangunan Berkelanjutan: IKN Nusantara dan Manajemen Air Pintar
- Amati kembali isi video dengan seksama siapkan catatan kemudian amati hal-hal sebagai berikut
- Sekilas hubungan Indonesia dengan Korea Selatan
- Penjelasan Duta Besar Korea Selatan sehubungan kerja sama dengan Indonesia
Pertanyaan
- Indonesia mengekspor energi dan bahan mentah ke Korea Selatan, sementara mengimpor produk manufaktur bernilai tambah tinggi. Analisislah dampak pola ini terhadap struktur ekonomi Indonesia, terutama terkait dengan nilai tambah domestik, penyerapan tenaga kerja, dan teknologi.
- Mengapa sektor pertahanan, khususnya proyek KF-21/IF-X, dianggap sebagai pilar paling strategis sekaligus paling kompleks dalam hubungan bilateral Indonesia dengan Korea Selatan? Jelaskan dengan merujuk pada dinamika geopolitik, kepentingan nasional kedua negara, dan tantangan teknis-ekonomi yang dihadapi.
- Mengacu pada peran Korea Selatan sebagai “arsitek utama” pembangunan IKN, analisislah bagaimana kolaborasi internasional melalui K-water (Korea Water Resources Corporation) dapat menjadi model keberhasilan sekaligus tantangan dalam transfer teknologi air berkelanjutan ke Indonesia. Berikan argumen Anda mengenai potensi ketergantungan teknologi asing vs. penguatan kapasitas lokal.
- Amati kembali isi video dengan seksama kemudian jawab pertanyaan berikut
- Jelaskan secara umum dan ringkas Hubungan Kerja sama Indonesia dengan Korea Selatan
- Bidang apa saja yang dijelaskan Duta Besar Korea Selatan untuk Indonesia? Berikan 3 (tiga ) bidang yang ditekankan