Evaluasi Holistik dan Analisis Multidimensi Ekosistem Pendidikan: Studi Kasus Uji Coba Kebijakan Lima Hari Sekolah

Evaluasi Holistik dan Analisis Multidimensi Ekosistem Pendidikan: Studi Kasus Uji Coba Kebijakan Lima Hari Sekolah di UPTD SMP Negeri 3 Sinjai

Daftar Isi

1. Pendahuluan: Lanskap Transformasi Pendidikan di Dataran Tinggi Sinjai

Penerapan kebijakan lima hari sekolah (LHS) atau yang sering diasosiasikan dengan konsep Full Day School (FDS) merupakan salah satu isu paling dinamis dalam diskursus pendidikan nasional Indonesia kontemporer. Di Kabupaten Sinjai, inisiatif ini bukan sekadar perubahan jadwal administratif, melainkan sebuah transformasi fundamental yang menyentuh ritme biologis siswa, struktur sosial keluarga, dan beban profesional tenaga pendidik. Laporan riset ini menyajikan analisis mendalam (deep analysis) dan komprehensif mengenai uji coba pelaksanaan kebijakan lima hari sekolah yang diinisiasi oleh Dinas Pendidikan Kabupaten Sinjai pada awal tahun 2026, dengan fokus eksklusif pada locus studi di UPTD SMP Negeri 3 Sinjai, Kelurahan Tassililu, Kecamatan Sinjai Barat.

Uji coba yang berlangsung dalam rentang waktu strategis mulai 5 Januari hingga 5 Februari 2026 ini didasarkan pada payung hukum nasional yang kuat, yakni Peraturan Presiden Nomor 21 Tahun 2023 tentang Hari Kerja dan Jam Kerja Instansi Pemerintah serta Permendikbud Nomor 23 Tahun 2017 tentang Hari Sekolah. Kebijakan ini bertujuan untuk menyelaraskan jam kerja ASN (termasuk guru) dengan jam sekolah siswa, serta memperkuat pendidikan karakter melalui intrakurikuler, kokurikuler, dan ekstrakurikuler yang lebih terintegrasi. Namun, implementasi kebijakan “Satu Ukuran untuk Semua” (one size fits all) seringkali menghadapi tantangan resistensi ketika berbenturan dengan realitas lokal.

Konteks geografis

Kecamatan Sinjai Barat, khususnya wilayah Manipi, memiliki karakteristik topografi pegunungan dengan aksesibilitas yang menantang dan pola sosiologis masyarakat yang didominasi oleh sektor agraria. Konteks geografis ini menjadikan UPTD SMPN 3 Sinjai sebagai laboratorium sosial yang sempurna untuk menguji apakah kebijakan yang dirancang di pusat pemerintahan (Jakarta) dan diadopsi di ibu kota kabupaten (Sinjai Utara) dapat diterapkan secara efektif di wilayah hinterland atau pedesaan.

Laporan ini mengintegrasikan data primer dari survei evaluasi partisipatif yang melibatkan tiga pilar utama tri-pusat pendidikan: Guru (Pendidik), Siswa (Peserta Didik), dan Orang Tua (Wali Murid). Melalui triangulasi data dari dokumen , dan , serta diperkaya dengan data sekunder mengenai infrastruktur, iklim, dan budaya lokal, analisis ini bertujuan menyingkap dinamika tersembunyi, kontradiksi persepsi (perception gaps), dan implikasi sistemik dari kebijakan LHS.

1.1 Urgensi Evaluasi Berbasis Data

Pentingnya evaluasi ini terletak pada potensinya untuk memitigasi risiko kegagalan kebijakan. Dalam konteks pendidikan, kebijakan yang tidak berbasis pada evidence-based policy making berisiko mengorbankan kesejahteraan siswa (student well-being). Data menunjukkan bahwa pergeseran dari enam hari ke lima hari sekolah memadatkan durasi belajar harian menjadi sekitar 8 jam. Di wilayah urban dengan fasilitas lengkap, ini mungkin tantangan biasa. Namun, di Manipi, di mana siswa mungkin harus berjalan kaki sejauh 3 kilometer menembus kabut sore , implikasinya bisa menyangkut keselamatan fisik dan kesehatan mental.

1.2 Metodologi Analisis

Analisis ini menggunakan pendekatan mixed-method interpretatif. Data kuantitatif dari skala Likert (1-5) pada instrumen survei tidak hanya dibaca sebagai angka statistik, tetapi diterjemahkan sebagai indikator gejala sosial dan psikologis.

  • Data Guru : Dianalisis untuk memahami beban kerja, efektivitas pengajaran, dan persepsi subjektif terhadap siswa.
  • Data Siswa : Dianalisis untuk memetakan tingkat kelelahan fisiologis (cognitive fatigue), resistensi adaptasi, dan resiliensi akademik.
  • Data Orang Tua : Dianalisis untuk melihat dukungan sosial, dampak ekonomi, dan pergeseran pola interaksi keluarga.

Ketiga aliran data ini kemudian disintesiskan (di-cross reference) untuk menemukan pola keselarasan atau justru konflik kepentingan antar stakeholder.

2. Profil Institusional dan Tantangan Geografis

Sebelum masuk ke dalam analisis persepsi, sangat krusial untuk membedah konteks fisik di mana kebijakan ini beroperasi. UPTD SMP Negeri 3 Sinjai berlokasi di Jalan Persatuan No. 58 Manipi, Kelurahan Tassililu. Posisi geografis ini bukan sekadar alamat, tetapi determinan utama keberhasilan kebijakan.

2.1 Topografi dan Aksesibilitas

Wilayah Sinjai Barat merupakan daerah dataran tinggi dengan kontur yang berbukit-bukit. Data menunjukkan bahwa kondisi infrastruktur jalan di beberapa titik poros Sinjai Barat (Manipi) ke arah kota atau desa penyangga seringkali mengalami kerusakan, berlubang, atau rawan longsor, terutama saat musim hujan.

  • Implikasi LHS: Dengan pulang sore (sekitar pukul 15.30 – 16.00), siswa dan guru akan menempuh perjalanan pulang dalam kondisi pencahayaan matahari yang mulai meredup. Di daerah pegunungan, sore hari seringkali disertai turunnya kabut tebal yang mengurangi jarak pandang secara drastis. Ditambah dengan minimnya penerangan jalan umum (PJU) di beberapa ruas jalan desa , risiko kecelakaan lalu lintas meningkat signifikan dibandingkan kepulangan siang hari (pukul 13.00).

2.2 Iklim Mikro dan Dampak Fisik

Data prakiraan cuaca dan iklim di wilayah pegunungan Sinjai menunjukkan kecenderungan hujan pada sore hari. Kepulangan sore hari menghadapkan siswa pada risiko kehujanan yang lebih tinggi. Bagi siswa yang menggunakan kendaraan roda dua atau berjalan kaki, ini bukan hanya masalah kenyamanan, tetapi kesehatan. Seragam yang basah dan udara dingin pegunungan dapat menurunkan imunitas siswa, yang pada gilirannya berdampak pada tingkat absensi di sekolah.

2.3 Fasilitas Sekolah sebagai Penopang

Dalam skema Full Day School, sekolah bertransformasi menjadi “rumah kedua”. Kesiapan fasilitas menjadi non-negosiasi. Profil UPTD SMPN 3 Sinjai mencatat adanya fasilitas listrik 3.550 VA dan luas lahan 10.240 m². Namun, tantangan utamanya adalah ketersediaan air bersih dan sanitasi yang memadai untuk menampung ratusan siswa hingga sore hari. Berdasarkan respons guru, fasilitas ini dinilai “memadai” (skor dominan 5) , namun validitasnya perlu diuji dengan pengalaman siswa yang mungkin memiliki standar kenyamanan berbeda.

Baca juga: Dinamika, Tren, dan Evaluasi Kinerja Perencanaan Serta Realisasi Proses Belajar Mengajar

3. Analisis Perspektif Guru: Efisiensi Profesional di Tengah Bias Persepsi

Guru adalah ujung tombak implementasi kurikulum. Dalam uji coba ini, data menunjukkan bahwa guru adalah kelompok yang paling diuntungkan secara struktural dan administratif, namun menyimpan potensi bias dalam menilai kondisi siswa.

3.1 Revolusi Manajemen Waktu dan Beban Administrasi

Salah satu temuan paling konsisten dan signifikan dari survei guru adalah dampak transformatif LHS terhadap manajemen beban kerja profesional.

  • Konsensus Mutlak: Sebanyak 100% responden guru (18 dari 18 orang) memberikan respon positif (Setuju/Sangat Setuju) bahwa sistem 5 hari sekolah memberikan waktu yang cukup untuk mengerjakan administrasi dan koreksi nilai di sekolah.
  • Eliminasi “Pekerjaan Rumah” Guru: Indikator “Saya memiliki waktu yang cukup untuk mengerjakan administrasi… sehingga tidak membawa pekerjaan ke rumah” mendapatkan skor rata-rata yang nyaris sempurna. Guru mata pelajaran dengan beban koreksi tinggi seperti Matematika (Sutarni, Sofyan) dan Bahasa Indonesia (Nurul Ilma, Hatikah) memberikan skor 5 (Sangat Setuju).

Analisis Mendalam: Temuan ini mengindikasikan keberhasilan kebijakan dalam memulihkan work-life balance para pendidik. Dalam sistem 6 hari sekolah konvensional, guru seringkali membawa tumpukan kertas ujian atau RPP ke rumah, mengaburkan batas antara waktu dinas dan waktu keluarga. Kebijakan LHS di Sinjai tampaknya berhasil menciptakan demarkasi yang jelas: “Sekolah adalah tempat bekerja, Rumah adalah tempat beristirahat”. Ketenangan pikiran ini berkorelasi positif dengan kualitas pengajaran; guru yang beristirahat dengan baik (well-rested) cenderung memiliki emosi yang lebih stabil dan kreativitas yang lebih tinggi dalam mengajar.

3.2 Efektivitas Libur Sabtu: Restorasi Energi

Hari Sabtu yang libur total dinilai sangat efektif untuk pemulihan energi mengajar. Skor dominan 5 pada indikator ini menegaskan bahwa guru memandang Sabtu sebagai aset vital untuk recharging. Bagi guru perempuan yang juga memiliki peran domestik (seperti Darmawati Ismail, Sutarni, Hasbiah), libur Sabtu memberikan kesempatan untuk menyelesaikan urusan rumah tangga tanpa terbebani kewajiban sekolah, yang secara tidak langsung meningkatkan kesejahteraan psikologis mereka.

3.3 Ilusi Fokus dan Bias Persepsi Pengajar

Namun, terdapat temuan yang mengkhawatirkan ketika kita membedah persepsi guru terhadap kondisi siswa di siang hari.

  • Klaim Optimis: Mayoritas guru (10 dari 18 responden) memberikan skor 5 (Sangat Setuju) bahwa “Siswa tetap kondusif dan fokus menerima materi pada jam-jam terakhir (siang-sore)”.
  • Skeptisisme Data: Hanya satu guru, Bahtiar B (Pengampu IPS), yang memberikan skor 3 (Ragu-ragu) dan satu lagi skor 4. Sisanya sangat yakin siswa fokus.

Dekonstruksi Persepsi: Optimisme guru ini perlu dikritisi secara tajam. Ada kemungkinan besar terjadi bias persepsi di mana guru menyamakan “Kepatuhan” (Compliance) dengan “Keterlibatan Kognitif” (Cognitive Engagement).

  1. Passive Engagement: Siswa yang lelah secara fisiologis cenderung diam, tidak banyak bertingkah, dan menatap ke depan. Bagi guru, kelas yang tenang ini terlihat “kondusif”. Padahal, secara neurologis, otak siswa mungkin sudah masuk dalam fase shutdown atau melamun (zoning out).
  2. Subject Bias: Guru PJOK (Sahruddin) memberikan skor 5, yang masuk akal karena aktivitas fisik di sore hari mungkin justru menyegarkan atau siswa lebih antusias dibanding duduk di kelas. Namun, guru Matematika (Hasbiah) yang memberikan skor 5 mungkin tidak menyadari bahwa meskipun siswa diam mendengarkan, kapasitas working memory mereka untuk memproses rumus kompleks sudah menurun drastis akibat ritme sirkadian.

3.4 Variasi Antar Mata Pelajaran

Analisis data per mata pelajaran menunjukkan pola menarik:

  • Matematika & IPA: Guru-guru eksakta (Sutarni, Sofyan, Salmah) sangat setuju siswa fokus. Ini berisiko tinggi karena materi ini membutuhkan konsentrasi puncak. Jika guru merasa siswa paham padahal tidak, akan terjadi learning loss yang terakumulasi.
  • Bahasa & IPS: Guru Bahasa (Nurul Ilma, Aidal Yanhar) juga optimis. Namun, keraguan Bahtiar B (IPS) mungkin menjadi sinyal kejujuran paling valid dalam data ini—bahwa mengajak siswa berdiskusi sosial di jam 2 siang adalah tantangan berat yang seringkali gagal.

4. Analisis Perspektif Siswa: Realitas Fisiologis dan Perjuangan Adaptasi

Berbeda 180 derajat dengan persepsi guru, data dari 114 siswa menyajikan gambaran medan tempur fisik dan mental yang nyata. Narasi siswa didominasi oleh kelelahan, perjuangan melawan kantuk, namun diwarnai oleh semangat pantang menyerah yang paradoksal.

4.1 Fenomena “Jam Koma” dan Ritme Sirkadian

Analisis terhadap Variabel P1 (“Saya merasa tidak mengantuk dan lelah pada jam pelajaran terakhir”) menyingkap realitas biologis remaja.

  • Rata-rata Skor: Angka 3,46 menunjukkan tingkat kelelahan moderat hingga tinggi. Ini adalah skor terendah dalam kluster variabel siswa, menandakan bahwa kelelahan adalah isu utama (pain point).
  • Outlier Ekstrim: Terdapat segmen siswa yang memberikan skor 1 atau 2, seperti Ghefira Nur Patimah (Kelas VII), Muh. Irham (Kelas VIII), dan Yasmin Azzahra (Kelas IX). Mereka secara eksplisit menyatakan “Sangat Mengantuk/Lelah”.
  • Landasan Teori: Hal ini sejalan dengan penelitian tentang Post-Lunch Dip dan ritme sirkadian remaja. Pada pukul 13.00-15.00, suhu tubuh manusia menurun dan memicu pelepasan melatonin, menyebabkan kantuk alami. Memaksa aktivitas kognitif berat di jam ini melawan kodrat biologis, yang menjelaskan mengapa siswa merasa berat.

4.2 Analisis Komparatif Antar Tingkatan Kelas

Respons siswa tidak homogen. Terdapat gradasi pengalaman berdasarkan tingkatan kelas yang mencerminkan fase perkembangan psikologis mereka.

a. Kelas VII: Gejolak Transisi (The Shock of Transition)

Siswa Kelas VII adalah kelompok paling rentan. Baru saja lulus dari SD (yang umumnya pulang pukul 12.00), mereka langsung dihadapkan pada jadwal pukul 15.30.

  • Data: Siswa seperti Ghefira (Skor 1 untuk fokus, 2 untuk paham) dan Muh Rafli (Skor 1 untuk fokus) adalah bukti nyata culture shock. Tubuh mereka belum beradaptasi dengan stamina yang dibutuhkan untuk durasi SMP Full Day.
  • Resiliensi: Namun, ada anomali seperti Chelsea Olivia.A yang memberikan skor 5/5. Ini mungkin menunjukkan siswa yang memiliki stamina fisik di atas rata-rata atau dukungan gizi yang sangat baik dari rumah.

b. Kelas VIII: Titik Keseimbangan (The Sweet Spot)

Kelas VIII menunjukkan stabilitas terbaik. Mereka sudah terbiasa dengan ritme SMP namun belum tertekan ujian.

  • Data: Rata-rata skor kelelahan mereka sedikit lebih baik. Siswa seperti Wahda Islamia dan Fadel Faturrahman memberikan skor 5 untuk “Tidak Mengantuk” , menunjukkan adaptasi fisik yang sudah matang.

c. Kelas IX: Tekanan Ganda (Double Burden)

Siswa Kelas IX menghadapi situasi paling kompleks. Mereka harus mengejar materi ujian akhir dalam waktu yang dipadatkan.

  • Burnout: Meskipun skor motivasi tinggi (karena orientasi kelulusan), kelelahan mereka bersifat mental. Siswa seperti M. Yasin Paturusi (Skor 1/1) menunjukkan tanda-tanda burnout dini. Pulang sore berarti waktu untuk Bimbingan Belajar (Bimbel) atau les tambahan menjadi sangat sempit, menambah stres akademik.

4.3 Paradoks Resiliensi: “Lelah tapi Paham”

Temuan paling fenomenal dari survei siswa adalah kesenjangan antara skor P1 (Kelelahan) dan P2 (Pemahaman). Rata-rata skor pemahaman (3,75) lebih tinggi daripada skor energi (3,46).

  • Analisis Data Granular: Banyak siswa (contoh: Ihwan Kelas VII, Resky Ramadani Kelas IX) mengaku mengantuk (skor P1 rendah/sedang) namun mengklaim sangat paham materi (skor P2 tinggi: 5).
  • Interpretasi Sosio-Kultural: Fenomena ini bisa dibaca sebagai manifestasi etos kerja keras masyarakat Bugis-Makassar (Reso) yang tertanam pada anak-anak. Mereka diajarkan untuk tidak menyerah pada kelelahan. Namun, dari sudut pandang pedagogis, “paham saat lelah” seringkali bersifat ingatan jangka pendek (short-term memory). Informasi yang diserap saat otak lelah sulit dikonsolidasi menjadi ingatan jangka panjang.

4.4 Infrastruktur Pendukung: Makan Siang dan Ibadah

Faktor penentu ketahanan siswa adalah asupan energi. Variabel P8 (Fasilitas kantin/bekal) mendapat respons beragam.

  • Logistik: Siswa yang membawa bekal (seperti tersirat dari dukungan orang tua pada P4) cenderung lebih stabil energinya dibanding yang mengandalkan jajanan kantin. Jika kantin sekolah hanya menyediakan makanan tinggi karbohidrat/gula (gorengan, es manis), ini justru memperparah sugar crash dan kantuk di jam 14.00.
  • Ruang Restoratif: Kepuasan tinggi pada fasilitas ibadah (P7, skor rata-rata tinggi) menunjukkan bahwa Mushola sekolah berfungsi vital bukan hanya sebagai tempat spiritual, tetapi juga sebagai ruang istirahat sejenak (restorative niche) di mana siswa bisa mencuci muka (wudhu) dan menenangkan diri dari hiruk-pikuk kelas.

5. Analisis Perspektif Orang Tua: Pragmatisme Sosial di Atas Ekonomi

Orang tua siswa UPTD SMPN 3 Sinjai menunjukkan pola pikir yang sangat pragmatis dan berorientasi pada keselamatan sosial. Analisis data mereka mematahkan asumsi bahwa faktor ekonomi adalah penentu utama penerimaan kebijakan.

5.1 Teori “Sekolah sebagai Institusi Kustodial”

Orang tua siswa UPTD SMPN 3 Sinjai menunjukkan pola pikir yang sangat pragmatis dan berorientasi pada keselamatan sosial. Analisis data mereka mematahkan asumsi bahwa faktor ekonomi adalah penentu utama penerimaan kebijakan.

  • Konteks Kenakalan Remaja: Kabupaten Sinjai tidak luput dari isu kenakalan remaja, termasuk tawuran antar kelompok dan balap liar. Orang tua memandang perpanjangan jam sekolah sebagai mekanisme “penahanan” (custody) yang efektif.
  • Logika Pengaman: “Lebih baik anak saya lelah di sekolah daripada liar di jalanan.” Sekolah dianggap sebagai safe haven. Bagi orang tua yang bekerja (di kebun atau kantor), mengetahui anak mereka diawasi guru hingga pukul 16.00 memberikan ketenangan batin yang tak ternilai.

5.2 Sabtu sebagai Aset Kultural dan Ekonomi

Variabel dengan skor tertinggi absolut dalam seluruh survei adalah P5: “Libur hari Sabtu sangat efektif untuk kumpul keluarga” (Skor 4,62).

  • Dinamika Agraris: Di Sinjai Barat, hari Sabtu seringkali bertepatan dengan hari pasar atau hari panen intensif. Kehadiran anak laki-laki membantu di kebun (cengkeh/kopi) dan anak perempuan membantu urusan domestik atau pasar adalah bagian dari ekonomi keluarga.
  • Transmisi Nilai: Libur Sabtu memungkinkan terjadinya transmisi nilai budaya dan keterampilan hidup (life skills) dari orang tua ke anak yang tidak bisa diajarkan di sekolah. Kebijakan 5 hari sekolah, secara tidak sengaja, mendukung kelestarian struktur keluarga agraris ini.

5.3 Anomali Beban Biaya: Uang vs. Keamanan

Variabel P4 (Beban Uang Saku) memiliki skor terendah (3,94) di kalangan orang tua. Ini menandakan adanya tekanan ekonomi riil akibat harus menyediakan makan siang atau uang saku lebih besar.

  • Data Kontradiktif: Analisis terhadap Responden No. 12, 28, dan 63 sangat mencerahkan. Mereka memberikan skor rendah (1 atau 2) pada variabel biaya—artinya mereka merasa sangat terbebani—namun mereka memberikan skor 5 (Sangat Setuju) agar kebijakan dilanjutkan.
  • Kesimpulan: Ini membuktikan bahwa elastisitas permintaan orang tua terhadap keamanan anak sangat inelastis. Mereka bersedia menanggung beban ekonomi tambahan (berkorban uang) demi mendapatkan jaminan keamanan dan waktu keluarga berkualitas di akhir pekan. Nilai intangible (keamanan, kebersamaan) mengalahkan biaya tangible (uang saku).

6. Sintesis Lintas Sektoral: Kesenjangan, Konflik, dan Integrasi

Menggabungkan ketiga perspektif di atas menciptakan peta masalah yang lebih utuh.

6.1 Tabel Matriks Kesenjangan Persepsi (The Perception Gap Matrix)

Tabel berikut mengilustrasikan perbedaan pandangan tajam antara ketiga pilar pendidikan di SMPN 3 Sinjai:

Dimensi IsuPerspektif Guru (Pendidik)Perspektif Siswa (Subjek)Perspektif Orang Tua (Wali)Insight Analisis
Kondisi Sore (14.00-16.00)Sangat Kondusif (Skor 5). Guru merasa siswa fokus dan tenang.Lelah & Mengantuk (Skor ~3.5). Siswa berjuang melawan mata berat (Jam Koma).Cemas Fisik (Skor 3.55). Orang tua melihat anak pulang dengan wajah sangat lelah.Guru mengalami illusion of focus; siswa pasif karena lelah, bukan karena patuh.
Beban Tugas (PR/Admin)Ringan/Hilang. Admin selesai di sekolah, tidak bawa kerja ke rumah.Berat/Bertumpuk. Pulang sore tapi masih ada PR, waktu istirahat tergerus.Netral. Lebih peduli pada kehadiran fisik anak di rumah saat malam.Ketidakadilan beban: Guru bebas tugas di rumah, siswa justru membawa PR pulang.
Prioritas UtamaProfesionalisme & Target. Mengejar kurikulum & administrasi.Survival. Bertahan hidup hingga bel pulang berbunyi.Keamanan & Keluarga. Anak aman dari jalanan, Sabtu bisa kumpul.Ada irisan kepentingan pada “Sabtu Libur”, namun konflik pada manajemen energi harian.
Beban Biaya(Tidak Relevan/Tidak Ditanyakan)Lapar/Jajan. Membutuhkan uang saku lebih untuk makan siang.Terbebani tapi Rela. Biaya makan siang naik, tapi dianggap investasi keamanan.Sekolah perlu intervensi kantin murah/sehat untuk meringankan beban orang tua.

6.2 Konflik dengan Ekosistem Pendidikan Non-Formal

Isu yang tidak terekam dalam survei numerik namun muncul dalam analisis konteks adalah nasib Madrasah Diniyah (Madin).

  • Waktu yang Hilang: Di Sinjai yang religius, sore hari biasanya didedikasikan untuk mengaji di TPA/Madin. Dengan pulang pukul 16.00, siswa SMPN 3 Sinjai praktis kehilangan kesempatan ini.
  • Dampak Jangka Panjang: Jika tidak ada integrasi kurikulum (misalnya sekolah mengambil peran Madin melalui ekskul keagamaan yang serius), akan terjadi degradasi literasi Al-Qur’an pada generasi ini, yang pada akhirnya bisa memicu resistensi dari tokoh masyarakat/agama di Manipi.

6.3 Tantangan Transportasi di Medan Ekstrim

Kebijakan ini sangat bergantung pada mobilitas. Bantuan bus sekolah dari Kemenhub adalah langkah positif, namun topografi Sinjai Barat membatasi efektivitasnya.

  • Blind Spot: Bus sekolah mungkin hanya melayani rute poros utama. Siswa yang tinggal di pelosok desa dengan akses jalan rusak tetap harus menggunakan ojek atau jalan kaki. Pulang sore di saat hujan/kabut menambah risiko kecelakaan. Orang tua merasa aman anak di sekolah, tapi mungkin cemas saat anak di perjalanan pulang.

7. Rekomendasi Strategis dan Peta Jalan Masa Depan

Berdasarkan analisis multidimensi di atas, laporan ini merekomendasikan serangkaian langkah korektif dan strategis bagi Dinas Pendidikan Kabupaten Sinjai dan UPTD SMPN 3 Sinjai untuk menyempurnakan implementasi kebijakan 5 hari sekolah.

7.1 Rekayasa Jadwal Berbasis Biologis (Bio-Schedule Engineering)

Sekolah harus berhenti melawan ritme sirkadian siswa.

  • Strategi: Larang mata pelajaran kognitif berat (Matematika, IPA, Bahasa Inggris) di slot waktu 13.30 – 15.30.
  • Substitusi: Gunakan slot sore eksklusif untuk pembelajaran kinestetik dan afektif: Olahraga, Seni Budaya, Prakarya, Ekskul, atau Proyek P5 (Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila). Aktivitas fisik dan kreatif akan melawan kantuk secara alami dan membuat siswa pulang dengan perasaan “senang”, bukan “diperas”.

7.2 Moratorium PR: Menjaga Hak Istirahat Siswa

Jika guru bisa menikmati kebebasan dari pekerjaan rumah, siswa juga berhak mendapatkan hal sama.

  • Strategi: Terapkan kebijakan “Sekolah Tanpa PR” (No Homework Policy) untuk sekolah pelaksana 5 hari. Semua tugas akademik harus diselesaikan di sekolah dalam jam pelajaran yang sudah diperpanjang.
  • Dampak: Ini akan mengembalikan waktu malam siswa untuk istirahat total, interaksi keluarga, atau mengaji (menggantikan fungsi Madin secara mandiri), sehingga mereka bangun pagi dengan segar

7.3 Intervensi Gizi dan Kantin Sehat

Mengatasi kelelahan siswa dimulai dari perut.

  • Strategi: Sekolah memfasilitasi “Kantin Kejujuran & Sehat” yang disubsidi silang atau bekerjasama dengan orang tua/komite. Menu harus rendah gula (untuk mencegah sugar crash) dan seimbang.
  • Program: “Makan Siang Bersama” di sekolah bukan hanya soal makan, tapi pendidikan karakter dan kebersamaan, yang bisa menjadi momen istirahat berkualitas

7.4 Integrasi Pendidikan Keagamaan (Solusi Madin)

Untuk meredam potensi konflik dengan norma religius masyarakat:

  • Strategi: Formalkan kegiatan keagamaan di sekolah. Jam terakhir (15.00-15.30) bisa digunakan untuk Sholat Ashar berjamaah dilanjutkan One Day One Juz atau kajian singkat. Ini memastikan orang tua merasa kebutuhan spiritual anak tetap terpenuhi meski tidak ke Madin luar.

7.5 Peningkatan Infrastruktur Keselamatan

Dinas Pendidikan harus berkoordinasi dengan Dinas Perhubungan dan PU.

  • Strategi: Prioritaskan perbaikan PJU (Penerangan Jalan Umum) di rute-rute kepulangan siswa SMPN 3 Sinjai. Pastikan bus sekolah beroperasi dengan jadwal yang sinkron dengan jam pulang baru (16.00), dan pertimbangkan armada shuttle kecil (seperti angkot) untuk menjangkau jalan desa yang tidak bisa dilalui bus besar.

8. Penutup

Uji coba kebijakan lima hari sekolah di UPTD SMP Negeri 3 Sinjai pada awal 2026 ini menyingkap sebuah paradoks pendidikan di daerah pedesaan: Dukungan sosial yang tinggi berbanding lurus dengan kelelahan fisik yang tinggi.

Orang tua di Manipi, dengan segala keterbatasan ekonominya, telah memberikan “mandat kepercayaan” yang luar biasa kepada sekolah untuk menjaga anak-anak mereka dari bahaya pergaulan bebas, rela menukar biaya makan siang dengan rasa aman. Guru pun telah merasakan manisnya efisiensi kerja. Kini, beban terbesar ada di pundak siswa yang harus berjuang melawan kantuk dan jalanan berkabut.

Keberhasilan permanen kebijakan ini tidak ditentukan oleh seberapa rapi administrasi sekolah, melainkan seberapa mampu sekolah “memanusiakan” jam-jam terakhir di sore hari. Jika UPTD SMPN 3 Sinjai mampu mengubah “Jam Koma” menjadi “Jam Karya” melalui rekayasa kurikulum yang cerdas, maka kebijakan lima hari sekolah ini akan menjadi model percontohan sukses bagaimana modernitas pendidikan dapat bersanding harmonis dengan kearifan lokal masyarakat pegunungan.

Recommended For You

About the Author: SudutEdukasi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *