Analisis Evaluasi Implementasi Uji Coba Kebijakan Lima Hari Sekolah di UPTD SMP Negeri 3 Sinjai

Analisis Mendalam dan Komprehensif Evaluasi Implementasi Uji Coba Kebijakan Lima Hari Sekolah di UPTD SMP Negeri 3 Sinjai Tahun 2026. Tinjauan Multidimensi terhadap Kesejahteraan, Kinerja Akademik, dan Ekosistem Pendidikan.

Pendahuluan dan Lanskap Kebijakan Pendidikan

Latar Belakang: Transformasi Pendidikan di Kabupaten Sinjai

Pada awal tahun 2026, wajah pendidikan di Kabupaten Sinjai mengalami pergeseran paradigma yang signifikan melalui penerapan uji coba kebijakan lima hari sekolah. Kebijakan ini, yang secara resmi digulirkan oleh Dinas Pendidikan Kabupaten Sinjai pada tanggal 5 Januari 2026. Bukan sekadar perubahan jadwal administratif, melainkan sebuah rekayasa sosial-pedagogis yang dirancang untuk merespons dinamika kebutuhan pendidikan abad ke-21. UPTD SMP Negeri 3 Sinjai, sebagai salah satu institusi pendidikan menengah pertama yang menjadi lokus implementasi kebijakan ini. Berada di garis depan eksperimen pendidikan yang bertujuan menyelaraskan ritme belajar lokal dengan standar nasional yang diamanatkan dalam Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 23 Tahun 2017 tentang Hari Sekolah.

Transisi dari sistem enam hari sekolah (Senin-Sabtu) menuju sistem lima hari sekolah (Senin-Jumat) membawa implikasi yang luas dan mendalam. Kebijakan ini secara fundamental mengubah durasi interaksi siswa di lingkungan sekolah. Memadatkan beban akademik menjadi 8 jam per hari atau setara dengan 40 jam per minggu. Di balik angka-angka jam pelajaran tersebut, terdapat narasi besar tentang Penguatan Pendidikan Karakter (PPK) yang menjadi jiwa dari kebijakan ini. Pemerintah Kabupaten Sinjai, melalui Dinas Pendidikan, memiliki visi bahwa pemadatan hari sekolah akan memberikan ruang yang lebih luas bagi siswa untuk berinteraksi dengan keluarga pada akhir pekan, menciptakan keseimbangan antara schooling (persekolahan) dan parenting (pengasuhan).

Namun, implementasi kebijakan publik, terutama di sektor pendidikan, tidak pernah berjalan dalam ruang hampa. Ia berinteraksi dengan realitas psikologis siswa, kondisi fisik infrastruktur sekolah, serta dinamika sosial masyarakat setempat. Kabupaten Sinjai, dengan karakteristik sosio-geografisnya yang khas, menghadapi tantangan unik dalam mengadopsi model Full Day School yang sebelumnya lebih identik dengan sekolah-sekolah di wilayah urban metropolitan. Oleh karena itu, evaluasi mendalam terhadap uji coba ini menjadi imperatif untuk memastikan bahwa kebijakan yang berniat baik ini tidak justru menjadi beban kontraproduktif bagi subjek utamanya, yaitu peserta didik.

Urgensi Evaluasi Berbasis Data di UPTD SMPN 3 Sinjai

Laporan ini disusun sebagai respons terhadap kebutuhan mendesak untuk membedah efektivitas kebijakan tersebut di UPTD SMPN 3 Sinjai. Data empiris yang menjadi tulang punggung analisis ini bersumber dari instrumen “Kuesioner Evaluasi ujicoba 5 hari sekolah untuk SISWA”. Yang telah didistribusikan dan diisi oleh 114 responden siswa dari jenjang kelas VII, VIII, dan IX. Melalui analisis granular terhadap respon siswa, laporan ini bertujuan untuk memetakan tidak hanya tingkat kepuasan, tetapi juga korelasi antar-variabel yang mempengaruhi kesejahteraan siswa (student well-being).

Pentingnya evaluasi ini terletak pada kemampuannya untuk mendeteksi early warning signals atau sinyal peringatan dini terkait potensi dampak negatif. Seperti kelelahan kronis (burnout), penurunan kualitas interaksi sosial, hingga efektivitas penyerapan materi pelajaran di jam-jam kritis sore hari. Dengan menggunakan pendekatan data-driven, analisis ini akan melampaui asumsi-asumsi normatif dan menyajikan fakta lapangan yang otentik mengenai bagaimana siswa UPTD SMPN 3 Sinjai menavigasi ritme kehidupan baru mereka di tahun 2026.

Profil Institusi dan Metodologi Evaluasi

Profil UPTD SMP Negeri 3 Sinjai: Kesiapan Infrastruktur dan Lingkungan

UPTD SMP Negeri 3 Sinjai, yang terletak di Jalan Persatuan No. 58 Manipi, Kecamatan Sinjai Barat. Merupakan satuan pendidikan yang memiliki peran strategis dalam melayani kebutuhan pendidikan masyarakat di wilayah tersebut. Berdasarkan Data Pokok Pendidikan (Dapodik), sekolah ini memiliki status akreditasi B. Dan telah menerapkan Kurikulum Merdeka, yang menuntut fleksibilitas dan pembelajaran yang berpusat pada siswa.

Dalam konteks penerapan sekolah lima hari, kesiapan sarana dan prasarana menjadi variabel penentu keberhasilan. Data menunjukkan bahwa sekolah ini memiliki 11 ruang kelas, perpustakaan, dan laboratorium yang menjadi basis aktivitas siswa selama seharian penuh. Namun, tantangan utama dalam sistem Full Day School sering kali bukan pada ruang kelas. Melainkan pada fasilitas pendukung kehidupan harian (daily living facilities) seperti sanitasi, kantin, dan tempat ibadah. Ketersediaan air bersih, jamban yang layak, dan manajemen limbah yang baik, sebagaimana tercatat dalam profil sanitasi sekolah. Menjadi prasyarat mutlak untuk menjamin kesehatan siswa yang menghabiskan waktu lebih dari 8 jam di lingkungan sekolah.

Metodologi dan Demografi Responden

Evaluasi ini menggunakan pendekatan kuantitatif deskriptif dengan dukungan analisis korelasi untuk memahami hubungan antar-variabel. Instrumen evaluasi terdiri dari 8 butir pertanyaan tertutup (P1 hingga P8) yang menggunakan skala Likert 1-5. Di mana angka 1 merepresentasikan kondisi sangat negatif/tidak setuju dan angka 5 merepresentasikan kondisi sangat positif/setuju. Dengan pengecualian pada pertanyaan tertentu yang mungkin memiliki reverse coding secara interpretatif.

Total responden yang berhasil divalidasi berjumlah 114 siswa, dengan distribusi yang mencakup seluruh tingkatan kelas:

  • Kelas VII: Merupakan kelompok siswa yang sedang dalam masa transisi dari SD ke SMP, sehingga memiliki kerentanan adaptasi yang paling tinggi.
  • Kelas VIII: Kelompok siswa yang berada di fase pertengahan, sering kali dianggap sebagai masa yang paling stabil namun mulai menghadapi peningkatan beban materi.
  • Kelas IX: Kelompok siswa tingkat akhir yang menghadapi tekanan ganda antara beban kurikulum reguler dan persiapan ujian akhir/seleksi jenjang berikutnya.

Data responden ini mencakup berbagai latar belakang siswa, mulai dari mereka yang aktif dalam kegiatan ekstrakurikuler hingga mereka yang memiliki rutinitas keagamaan sore hari di lingkungan rumah. Keberagaman ini memungkinkan analisis yang lebih kaya mengenai bagaimana kebijakan lima hari sekolah berinteraksi dengan berbagai profil siswa.

Analisis Dimensi Fisiologis dan Kognitif

Fenomena “Jam Koma” dan Kelelahan Siswa (Analisis Variabel P1)

Salah satu indikator paling kritis dalam evaluasi ini adalah Tingkat Kelelahan atau Kantuk pada jam pelajaran terakhir (pukul 14.00 ke atas), yang direpresentasikan oleh variabel P1. Dalam kuesioner, pertanyaan berbunyi: “Saya merasa tidak mengantuk dan lelah pada jam pelajaran terakhir” (Interpretasi skala: 1 = Sangat Lelah/Mengantuk, 5 = Sangat Segar/Tidak Lelah).

Analisis statistik menunjukkan rata-rata skor P1 berada pada angka 3,46. Angka ini, meskipun berada di atas titik tengah (3,00), mengindikasikan adanya tingkat kelelahan moderat yang dialami oleh sebagian besar siswa. Secara lebih spesifik, terdapat 11 siswa yang memberikan respon sangat negatif (skor 1 atau 2), yang berarti mereka mengalami kelelahan ekstrem di sore hari. Fenomena ini selaras dengan apa yang disebut oleh Generasi Z sebagai “Jam Koma”. Sebuah istilah yang menggambarkan kondisi cognitive fatigue atau kelelahan kognitif. Yang memuncak pada sore hari akibat durasi aktivitas mental yang berkepanjangan tanpa jeda pemulihan yang memadai.

Dalam konteks biologis, ritme sirkadian remaja cenderung mengalami penurunan kewaspadaan (dip) pada siang hari (sekitar pukul 13.00-15.00). Ketika periode ini dipaksakan untuk aktivitas akademik yang berat, tubuh akan merespons dengan penurunan fokus dan peningkatan rasa kantuk. Data dari SMPN 3 Sinjai mengonfirmasi bahwa meskipun mayoritas siswa “bertahan” (skor 3 dan 4), mereka tidak berada dalam kondisi performa puncak (peak performance). Kelelahan ini bukan sekadar masalah fisik, tetapi berdampak langsung pada kemampuan eksekutif otak dalam memproses informasi baru.

Paradoks Resiliensi: Kelelahan vs. Pemahaman (Analisis Variabel P2)

Variabel P2 mengukur persepsi siswa terhadap pemahaman materi: “Saya masih bisa memahami pelajaran yang dijelaskan guru pada sore hari.” Rata-rata skor untuk variabel ini adalah 3,75, yang lebih tinggi dibandingkan skor kelelahan (P1).

Analisis korelasi silang antara P1 dan P2 mengungkapkan temuan yang menarik dan somewhat paradoksal. Secara teoritis, kelelahan fisik (P1 rendah) seharusnya menyebabkan penurunan pemahaman (P2 rendah). Namun, data menunjukkan bahwa siswa yang melaporkan kelelahan tinggi (P1 skor 1-2) sering kali masih memberikan skor tinggi pada pemahaman (P2 skor 4-5). Terdapat 4 siswa yang secara eksplisit berada dalam kategori “Lelah tapi Paham”, sementara hanya 2 siswa yang konsisten “Lelah dan Tidak Paham”.

Interpretasi terhadap fenomena ini dapat dilihat dari dua sudut pandang:

  1. Resiliensi Akademik (Academic Resilience): Siswa Indonesia sering kali dididik dalam budaya yang menekankan ketekunan dan kerja keras. Mereka mungkin mengabaikan sinyal kelelahan fisik demi mematuhi tuntutan akademik. Mereka memaksakan fokus kognitif (forced attention) meskipun cadangan energi fisik menipis.
  2. Strategi Pengajaran Guru: Tingginya skor pemahaman di tengah kelelahan bisa jadi merupakan indikator keberhasilan guru di SMPN 3 Sinjai dalam menerapkan strategi pembelajaran yang tepat di sore hari. Penggunaan metode yang lebih interaktif, joyful learning, atau materi yang lebih ringan pada jam terakhir mungkin membantu siswa tetap terhubung dengan pelajaran meskipun energi mereka menurun.

Namun, perlu diwaspadai bahwa “merasa paham” tidak selalu sama dengan “retensi jangka panjang”. Kelelahan kognitif dapat mengganggu proses konsolidasi memori, sehingga apa yang dipelajari di sore hari mungkin mudah dilupakan keesokan harinya.

Ekosistem Pendukung: Logistik dan Infrastruktur

Manajemen Gizi dan Kantin Sekolah (Analisis Variabel P8)

Kesiapan logistik menjadi tulang punggung keberhasilan sistem sekolah sehari penuh. Variabel P8, yang mengukur kecukupan bekal makan siang atau ketersediaan makanan di kantin, mencatatkan skor rata-rata tertinggi dalam survei ini, yaitu 4,43.

Skor yang sangat tinggi ini menunjukkan bahwa SMPN 3 Sinjai telah berhasil mengatasi salah satu tantangan terbesar Full Day School: kelaparan. Dalam sistem sekolah sampai sore, makan siang bukan lagi sekadar waktu istirahat, melainkan kebutuhan biologis kritis untuk me-recharge glukosa otak. Ketersediaan kantin yang memadai dan budaya membawa bekal yang kuat di kalangan siswa menjadi faktor protektif utama terhadap penurunan performa akademik.

Sesuai dengan standar Kementerian Kesehatan dan BPOM tentang Kantin Sehat, keberhasilan ini harus dipertahankan dengan memastikan kualitas nutrisi makanan yang tersedia. Makanan yang tinggi gula dan karbohidrat sederhana mungkin memberikan energi instan, namun dapat menyebabkan sugar crash yang justru memperparah kantuk di sore hari. Oleh karena itu, pengawasan terhadap menu kantin menjadi langkah lanjutan yang krusial.

Fasilitas Ibadah sebagai Ruang Restoratif (Analisis Variabel P7)

Variabel P7 mengenai kenyamanan fasilitas ibadah (Mushola/Tempat Wudhu) mendapatkan skor rata-rata 4,40, yang merupakan skor tertinggi kedua. Data ini mengindikasikan bahwa sekolah telah menyediakan infrastruktur spiritual yang sangat baik.

Dalam konteks psikologi lingkungan, mushola di sekolah Full Day memiliki fungsi ganda. Pertama, sebagai tempat pemenuhan kewajiban religius (Sholat Dzuhur dan Ashar). Kedua, sebagai ruang restoratif (restorative niche). Aktivitas berwudhu yang melibatkan air dingin dan gerakan fisik sholat memberikan jeda sensorik yang menyegarkan bagi siswa yang telah duduk berjam-jam di kelas. Ketenangan di dalam mushola juga memberikan kesempatan bagi otak untuk beristirahat sejenak dari stimulasi akademik yang intens. Tingginya kepuasan siswa terhadap fasilitas ini menunjukkan bahwa aspek spiritual dan mental siswa terfasilitasi dengan baik, yang merupakan komponen penting dalam pendidikan karakter.

Baca juga: Analisis dan Tren Iklim Kebinekaan Pada Rapor Pendidikan

Beban Akademik dan Dinamika Sosial (PR dan Ekstrakurikuler)

Polemik Pekerjaan Rumah (PR) dalam Sistem 5 Hari (Analisis Variabel P6)

Jika P8 dan P7 adalah kisah sukses, maka variabel P6 adalah titik kritis yang memerlukan intervensi segera. Pertanyaan mengenai “PR tidak memberatkan” mendapatkan skor rata-rata terendah bersama dengan kelelahan, yaitu 3,46. Sebanyak 21 siswa memberikan respon negatif (skor 1 atau 2), menyatakan bahwa mereka merasa terbebani oleh PR meskipun sudah pulang sore.

Temuan ini menyoroti diskoneksi antara kebijakan makro dan implementasi mikro. Secara konseptual, Kurikulum Merdeka dan sistem 5 hari sekolah mendorong pengurangan beban tugas rumah konvensional, dengan asumsi bahwa pendalaman materi sudah tuntas dilakukan di sekolah. Namun, realitas di SMPN 3 Sinjai menunjukkan bahwa siswa masih membawa pulang beban akademik yang signifikan.

Dampak dari beban PR ini sangat serius:

  1. Pengurangan Waktu Istirahat: Siswa yang pulang pukul 15.30 dan sampai di rumah pukul 16.00, masih harus mengerjakan PR di malam hari. Ini memotong waktu istirahat dan tidur yang krusial bagi pertumbuhan remaja.
  2. Kualitas Interaksi Keluarga: Tujuan utama sekolah 5 hari untuk meningkatkan waktu berkualitas dengan keluarga menjadi ternegasi jika siswa menghabiskan waktu di rumah dengan terkurung di kamar mengerjakan tugas.
  3. Potensi Burnout: Kombinasi sekolah durasi panjang dan PR menumpuk adalah resep sempurna untuk academic burnout, di mana siswa merasa lelah secara emosional, sinis terhadap sekolah, dan merasa tidak kompeten.

Keseimbangan Kehidupan Sosial dan Agama (Analisis Variabel P5)

Kekhawatiran bahwa sekolah 5 hari akan mematikan kegiatan Madrasah Diniyah (Madin) atau Taman Pendidikan Al-Quran (TPA) adalah isu nasional yang sensitif. Namun, data dari SMPN 3 Sinjai memberikan gambaran yang cukup optimis. Skor rata-rata untuk P5 (Waktu untuk mengaji/bermain) adalah 3,77.

Meskipun tidak setinggi skor fasilitas, angka ini menunjukkan bahwa sebagian besar siswa merasa masih memiliki celah waktu untuk aktivitas sosial dan keagamaan. Hal ini mungkin disebabkan oleh:

  • Pengaturan jadwal pulang yang masih memungkinkan siswa mengejar waktu Ashar/Maghrib di tempat mengaji.
  • Fleksibilitas lembaga pendidikan non-formal setempat yang menyesuaikan jadwal dengan jam pulang sekolah.
  • Kemampuan adaptasi siswa dalam memanajemen waktu mereka yang terbatas.

Namun, bagi siswa yang tinggal jauh dari sekolah atau memiliki akses transportasi yang sulit, waktu luang sore hari ini mungkin benar-benar hilang, tergantikan oleh waktu perjalanan (commuting time), yang menambah akumulasi kelelahan.

Kebahagiaan Akhir Pekan (Analisis Variabel P4)

Variabel P4, “Saya senang hari Sabtu libur”, mendapatkan skor rata-rata 4,28 secara umum, dan melonjak hingga 4,62 pada siswa Kelas VIII. Ini adalah bukti empiris terkuat mengenai dukungan siswa terhadap kebijakan ini. Libur hari Sabtu dianggap sebagai kompensasi yang sepadan atas kelelahan yang dialami selama lima hari kerja.

Tingginya skor ini menandakan pergeseran pola hidup siswa menuju model siklus mingguan yang lebih tegas: bekerja keras (belajar) selama lima hari, dan beristirahat total selama dua hari. Akhir pekan menjadi waktu yang sakral untuk recharging energi, hobi, dan interaksi keluarga tanpa gangguan jadwal sekolah.

Analisis Komparatif Antar Tingkatan Kelas

Kelas VII: Adaptasi di Tengah Gejolak Transisi

Siswa Kelas VII menunjukkan pola respon yang mencerminkan perjuangan adaptasi. Sebagai pendatang baru dari jenjang SD, lonjakan durasi belajar menjadi 8 jam merupakan kejutan fisiologis. Data menunjukkan beberapa siswa Kelas VII, seperti Ghefira Nur Patimah (ID 35), memberikan skor sangat rendah pada kelelahan (2) dan pemahaman (1). Ini mengindikasikan bahwa kelompok usia termuda ini paling rentan terhadap kelelahan fisik. Namun, mereka juga menunjukkan antusiasme tinggi terhadap hal-hal baru, yang menyeimbangkan skor rata-rata mereka.

Kelas VIII: Menikmati “Sweet Spot”

Kelas VIII tampak sebagai kelompok yang paling menikmati sistem ini. Rata-rata skor mereka untuk kesenangan libur Sabtu (4,62) adalah yang tertinggi. Mereka sudah melewati fase adaptasi Kelas VII namun belum terbebani tekanan ujian akhir Kelas IX. Bagi mereka, sekolah 5 hari memberikan struktur yang jelas dan waktu luang akhir pekan yang sangat dinikmati untuk eksplorasi diri dan sosialisasi.

Kelas IX: Tekanan Ujian dan Risiko Burnout

Analisis terhadap Kelas IX menunjukkan data yang paling mengkhawatirkan. Rata-rata skor Beban PR (P6) mereka adalah yang terendah (3,38). Ini wajar mengingat mereka sedang dalam fase persiapan ujian sekolah dan seleksi masuk SMA. Namun, dalam sistem 5 hari, tekanan ini terkompresi. Siswa Kelas IX harus memadatkan materi pengayaan, try out, dan tugas harian ke dalam waktu yang lebih sempit. Hal ini meningkatkan risiko stres akademik yang signifikan. Skor kelelahan (P1) mereka yang rendah (3,44) mengonfirmasi bahwa mereka adalah kelompok yang paling terforsir energinya.

Kesimpulan dan Rekomendasi Strategis

Kesimpulan Analisis

Evaluasi uji coba sekolah 5 hari di UPTD SMPN 3 Sinjai Tahun 2026 mengungkapkan sebuah gambaran yang kompleks. Secara infrastruktur dan dukungan logistik (kantin, mushola), sekolah telah sangat siap dan berhasil menciptakan lingkungan yang nyaman (Skor > 4,40). Secara politis, kebijakan ini didukung kuat oleh siswa yang sangat menikmati libur hari Sabtu (Skor 4,28).

Namun, keberhasilan ini dibayangi oleh biaya fisiologis dan psikologis yang ditanggung siswa: Kelelahan dan Beban PR. Skor moderat pada kedua variabel ini (3,46) adalah “lampu kuning” yang menandakan bahwa sistem belum sepenuhnya ramah terhadap kesejahteraan siswa. Jika dibiarkan tanpa intervensi, pola ini dapat mengarah pada penurunan kualitas kesehatan siswa dan efektivitas pembelajaran jangka panjang, terutama bagi siswa Kelas IX yang rentan.

Rekomendasi Kebijakan dan Praktik (Best Practices)

Berdasarkan analisis data dan tinjauan literatur, berikut adalah rekomendasi komprehensif untuk penyempurnaan implementasi kebijakan di UPTD SMPN 3 Sinjai:

  1. Penerapan Kebijakan “Zero PR” atau Redefinisi Tugas Rumah
    • Rasional: Mengingat tingginya beban jam sekolah, PR konvensional (mengerjakan LKS/soal) harus dihapuskan karena menambah kelelahan dan mengurangi waktu istirahat.
    • Strategi: Guru harus memaksimalkan jam tatap muka untuk penugasan. Jika tugas rumah harus diberikan, ubahlah menjadi kegiatan yang bersifat life skills, literasi ringan (membaca novel pilihan), atau proyek karakter yang tidak membebani kognitif secara berlebihan (misal: membantu orang tua, observasi lingkungan).
  2. Rekayasa Jadwal Pelajaran Berbasis Kronobiologi
    • Rasional: Mengatasi “Jam Koma” di sore hari.
    • Strategi: Tempatkan mata pelajaran dengan beban kognitif tinggi (Matematika, IPA, Bahasa Inggris) pada jam pagi (07.00-11.00). Alokasikan jam setelah makan siang (13.00-15.00) untuk mata pelajaran yang bersifat afektif, psikomotorik, atau rekreatif seperti Seni Budaya, PJOK, Prakarya, atau Proyek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5) yang bersifat dinamis dan melibatkan gerak fisik
  3. Implementasi “Micro-Breaks” dan Manajemen Energi
    • Rasional: Memulihkan fokus siswa secara berkala.
    • Strategi: Terapkan teknik ice breaking atau peregangan fisik sederhana selama 3-5 menit di setiap pergantian jam pelajaran, terutama di sore hari. Guru dapat menggunakan teknik Pomodoro dalam penyampaian materi untuk menjaga atensi siswa.
  4. Integrasi Kokurikuler dan Ekstrakurikuler yang Efektif
    • Rasional: Mengurangi persepsi sekolah sebagai “penjara akademik”.
    • Strategi: Pastikan kegiatan ekstrakurikuler di sore hari benar-benar berbasis minat (hobi) dan menyenangkan, bukan menambah beban belajar. Kegiatan seperti e-sport, seni tari, atau klub olahraga harus didorong sebagai sarana pelepasan stres.
  5. Sinergi dengan Pendidikan Non-Formal (Madin/TPA)
    • Rasional: Menjaga keseimbangan pendidikan agama masyarakat.
    • Strategi: Sekolah dapat berkolaborasi dengan Madin setempat, misalnya dengan mengonversi keikutsertaan siswa di Madin sebagai nilai praktikum Pendidikan Agama Islam, atau memfasilitasi guru Madin untuk mengajar di sekolah pada jam terakhir (ekstrakurikuler keagamaan), sehingga siswa tidak perlu berpindah lokasi yang melelahkan.
  6. Pendampingan Khusus untuk Kelas IX
    • Rasional: Mencegah burnout menjelang ujian.
    • Strategi: Konseling kelompok rutin untuk manajemen stres. Pengurangan drastis kegiatan non-akademik yang tidak esensial bagi Kelas IX di semester genap, dan fokus pada efisiensi belajar di sekolah agar mereka tidak perlu terlalu banyak mengikuti bimbel di luar yang semakin menguras energi.

Dengan langkah-langkah perbaikan ini, UPTD SMPN 3 Sinjai tidak hanya akan berhasil menerapkan kebijakan 5 hari sekolah secara administratif, tetapi juga secara substansial menciptakan ekosistem pendidikan yang memanusiakan siswa, menyehatkan fisik dan mental, serta tetap prestatif secara akademik. Transformasi ini akan menjadikan sekolah sebagai rumah kedua yang sesungguhnya, bukan sekadar tempat singgah yang melelahkan.

Recommended For You

About the Author: SudutEdukasi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *