Laporan Analisis Komprehensif Observasi Praktik Pembelajaran: Evaluasi Penerapan Disiplin Positif dalam Konteks Pembelajaran Bahasa Inggris di UPTD SMPN 3 Sinjai.
1. Pendahuluan
1.1 Latar Belakang Transformasi Pendidikan dan Paradigma Disiplin Positif
Dalam lanskap pendidikan kontemporer Indonesia, terjadi pergeseran tektonik dari pendekatan behavioristik tradisional menuju pendekatan humanistik-konstruktivis yang termanifestasi dalam Kurikulum Merdeka. Salah satu pilar fundamental dari transformasi ini adalah perubahan mekanisme pengelolaan perilaku peserta didik, yang bergerak dari paradigma “Kepatuhan dan Hukuman” (Compliance and Punishment) menuju paradigma “Disiplin Positif” (Positive Discipline). Platform Merdeka Mengajar (PMM) telah menetapkan Penerapan Disiplin Positif sebagai indikator kinerja prioritas yang wajib diobservasi dan dievaluasi secara berkala oleh kepala sekolah terhadap guru.
Laporan ini menyajikan analisis mendalam, granular, dan multidimensi terhadap hasil observasi kinerja guru atas nama Aidal Yanhar, S.Pd, seorang pendidik mata pelajaran Bahasa Inggris di UPTD SMPN 3 Sinjai. Observasi yang dilaksanakan pada tanggal 13 Februari 2026 oleh penilai Mohammad Burham, S.Pd, ini bukan sekadar aktivitas administratif pemenuhan Sasaran Kinerja Pegawai (SKP), melainkan sebuah proses diagnostik klinis untuk membedah kesehatan iklim psikologis dan efektivitas interaksi pedagogis di dalam ruang kelas.
Urgensi dari analisis ini terletak pada peran sentral “Disiplin Positif” dalam menciptakan lingkungan belajar yang aman dan mendukung (psychologically safe environment), yang merupakan prasyarat mutlak bagi terjadinya pembelajaran yang bermakna (meaningful learning). Khususnya dalam konteks mata pelajaran Bahasa Inggris sebagai bahasa asing (English as a Foreign Language/EFL), tingkat kecemasan siswa (language anxiety) seringkali menjadi penghambat utama akuisisi bahasa. Oleh karena itu, kemampuan guru dalam mengelola dinamika kelas melalui refleksi, penguatan positif, dan restitusi memiliki korelasi langsung dengan keberhasilan akademik siswa. Data empiris yang terekam dalam dokumen rekapitulasi observasi menunjukkan adanya disparitas kinerja yang signifikan antar indikator, yang menuntut investigasi mendalam untuk merumuskan strategi intervensi yang presisi.
1.2 Tujuan dan Lingkup Analisis
Analisis ini bertujuan untuk mengeksplorasi secara komprehensif efektivitas implementasi disiplin positif oleh guru terobservasi. Lingkup analisis mencakup bedah data kuantitatif dari skor penilaian, interpretasi kualitatif atas kategori kinerja, serta sintesis implikasi pedagogis dari tiga target perilaku utama:
- Refleksi Dinamika Kelas: Kemampuan guru melibatkan peserta didik dalam mengevaluasi dan memelihara kesepakatan kelas.
- Penguatan Positif: Strategi guru dalam memberikan apresiasi dan penguatan untuk memelihara perilaku yang diinginkan.
- Restitusi: Pendekatan guru dalam menangani pelanggaran dan membantu siswa memperbaiki diri tanpa kehilangan identitas positif.
Melalui pendekatan berbasis bukti (evidence-based analysis), laporan ini akan mengidentifikasi gap antara praktik aktual dengan standar ideal yang ditetapkan dalam rubrik PMM, serta memberikan rekomendasi strategis yang dapat ditindaklanjuti untuk pengembangan keprofesian berkelanjutan.
2. Metodologi Analisis dan Kerangka Teoretis
2.1 Kerangka Konseptual Disiplin Positif dalam PMM
Disiplin positif dalam kerangka Platform Merdeka Mengajar (PMM) tidak dimaknai sebagai ketiadaan aturan atau kebebasan tanpa batas, melainkan sebagai upaya kolaboratif untuk membangun kesadaran diri (self-awareness) dan tanggung jawab sosial peserta didik. Kerangka ini berakar pada Teori Kontrol (Control Theory) yang dipopulerkan oleh Dr. William Glasser dan dikembangkan lebih lanjut dalam konsep Restitusi oleh Diane Gossen.
Dalam rubrik observasi PMM, kinerja guru dinilai berdasarkan kemunculan perilaku spesifik yang dianjurkan dan ketiadaan perilaku yang harus dihindari. Penilaian menggunakan skala rating yang dikonversi menjadi kategori kualitas:
- Dilakukan dan Efektif (Skor 80-100): Praktik pembelajaran telah membudaya, konsisten, dan memberikan dampak nyata pada perubahan perilaku serta motivasi intrinsik peserta didik.
- Dilakukan tapi Belum Efektif (Skor 60-79): Guru telah berupaya menerapkan strategi disiplin positif, namun eksekusinya mungkin masih kaku, tidak konsisten, atau belum sepenuhnya dipahami oleh peserta didik sehingga dampaknya belum optimal.
- Belum Dilakukan (Skor <60): Indikator perilaku tidak muncul selama observasi atau guru masih terjebak pada pola-pola disiplin tradisional (hukuman, sindiran, pengabaian).
2.2 Profil Data Kinerja Guru: Tinjauan Umum
Berdasarkan dokumen “Copy of Penerapan Disiplin Positif Aidal Yanhar – REKAP.pdf”, profil kinerja Aidal Yanhar, S.Pd menunjukkan karakteristik yang unik dan asimetris.
| 1. Refleksi Dinamika Kelas | 70.00 | Dilakukan tapi Belum Efektif | Guru berupaya melibatkan siswa, namun prosesnya masih prosedural dan belum mendalam. |
| 2. Penguatan Positif | 60.00 | Dilakukan tapi Belum Efektif | Area kinerja terendah dan paling kritis. Terdapat defisit apresiasi spesifik. |
| 3. Restitusi | 80.56 | Dilakukan dan Efektif | Kekuatan utama guru. Sangat terampil dalam manajemen konflik dan pemulihan hubungan. |
| Total Capaian | 70.19 | Dilakukan tapi Belum Efektif | Kinerja keseluruhan berada di level berkembang (developing). |
Data kuantitatif ini mengungkapkan sebuah paradoks pedagogis: Guru Aidal Yanhar sangat efektif dalam menangani situasi negatif (pelanggaran/konflik), namun kurang efektif dalam memelihara situasi positif (penguatan/apresiasi). Pola ini sering ditemukan pada guru yang memiliki orientasi “Problem Solver” yang kuat namun kurang memiliki orientasi “Strength Builder”.
3. Analisis Mendalam Target Perilaku 1: Refleksi Dinamika Kelas
3.1 Sub-Indikator 1: Mengajak Peserta Didik Melakukan Refleksi (Skor: 72.22) Status: Dilakukan tapi Belum Efektif
Pada sub-indikator ini, guru diharapkan secara aktif mengajak peserta didik meninjau ulang kesepakatan kelas dan mengevaluasi apakah perilaku kelas sudah selaras dengan kesepakatan tersebut. Skor 72.22 mengindikasikan bahwa guru telah meluangkan waktu—kemungkinan di akhir pelajaran atau saat terjadi transisi kegiatan—untuk bertanya mengenai dinamika kelas.
Analisis Kualitatif dan Kontekstual
Dalam konteks pembelajaran Bahasa Inggris, tantangan terbesar dalam refleksi adalah hambatan bahasa (language barrier). Jika guru Aidal Yanhar melakukan refleksi sepenuhnya dalam Bahasa Inggris (Target Language), siswa mungkin mengalami kesulitan kognitif untuk memproses pertanyaan reflektif yang abstrak seperti “How do you feel about our class dynamics today?”. Akibatnya, respon siswa cenderung dangkal, standar (“Good, Sir”), atau hanya berupa anggukan pasif.
Status “Belum Efektif” menyiratkan bahwa refleksi ini kemungkinan besar bersifat satu arah atau retoris. Guru mungkin bertanya, “Apakah kita sudah tertib hari ini?”, dan siswa menjawab serentak “Sudah”. Dialog semacam ini memenuhi syarat administratif “dilakukan”, tetapi gagal mencapai substansi “efektif” karena tidak memicu metakognisi siswa tentang perilaku mereka sendiri. Refleksi yang efektif seharusnya berbasis data observasi konkret, misalnya: “Saya mencatat ada 5 siswa yang berbicara saat teman sedang presentasi. Mari kita lihat kesepakatan kelas poin ke-3 tentang ‘Saling Menghargai’. Bagaimana menurut kalian?”. Kegagalan mengaitkan data faktual dengan kesepakatan kelas membuat refleksi terasa normatif dan membosankan bagi siswa.
3.2 Sub-Indikator 2: Kesediaan Mendengarkan Pandangan Peserta Didik (Skor: 66.67) Status: Dilakukan tapi Belum Efektif
Ini adalah sub-indikator dengan skor terendah dalam dimensi Refleksi. Angka 66.67 adalah sinyal peringatan (red flag) yang menunjukkan adanya sumbatan komunikasi. Indikator ini menuntut guru untuk tidak bersikap defensif dan benar-benar membuka ruang bagi suara siswa (student voice), bahkan jika suara tersebut berupa kritik terhadap metode mengajar atau suasana kelas.
Dekonstruksi Hambatan “Mendengarkan”
Mengapa skor ini rendah? Beberapa faktor psikologis dan situasional mungkin berperan:
- Teacher-Centeredness yang Persisten: Meskipun Kurikulum Merdeka mendorong Student-Centered Learning, kebiasaan lama di mana guru adalah pusat otoritas pengetahuan masih sulit dihilangkan. Dalam sesi refleksi, guru mungkin lebih banyak berbicara (preaching) tentang bagaimana seharusnya siswa bersikap, daripada mendengarkan perspektif siswa tentang mengapa mereka bersikap demikian.
- Ketidaknyamanan terhadap Kritik: Mendengarkan pandangan siswa tentang dinamika kelas berisiko membuka kotak pandora keluhan. Guru yang merasa insecure atau lelah mungkin secara tidak sadar memotong pembicaraan siswa atau melakukan validasi semu (“Ya, Bapak mengerti, TAPI…”). Kata “TAPI” ini membatalkan proses mendengarkan dan mengembalikan dominasi narasi ke guru.
- Kendala Waktu: Seringkali refleksi dilakukan di 5 menit terakhir saat siswa sudah tidak sabar ingin pulang atau istirahat. Kondisi ini membuat guru terburu-buru dan tidak sabar mendengarkan elaborasi siswa, sehingga proses deep listening tidak terjadi.
Dalam pembelajaran Bahasa Inggris, aspek “mendengarkan” juga berkaitan dengan kesabaran guru menanti siswa merangkai kalimat. Jika siswa mencoba menyampaikan perasaannya dalam Bahasa Inggris yang terbata-bata, dan guru tidak sabar lalu memotong atau langsung mengoreksi grammar-nya, maka siswa akan merasa pandangannya tidak dihargai. Ini mematikan keinginan untuk berpartisipasi dalam refleksi selanjutnya.
3.3 Sub-Indikator 3: Sikap Adaptif Mengubah Kesepakatan (Skor: 70.83) Status: Dilakukan tapi Belum Efektif
Skor 70.83 menunjukkan bahwa guru memiliki fleksibilitas moderat. Guru bersedia memodifikasi aturan jika dirasa tidak lagi relevan atau efektif. Namun, efektivitasnya masih dipertanyakan. Perubahan kesepakatan kelas yang efektif haruslah merupakan hasil konsensus (consensus-based), bukan dekrit guru.
Jika guru mengubah aturan secara sepihak—meskipun dengan niat baik untuk adaptasi—maka rasa kepemilikan (sense of ownership) siswa terhadap aturan baru tersebut akan rendah. Indikator “adaptif” dalam PMM menuntut guru untuk memfasilitasi diskusi demokratis di mana siswa sendiri yang mengusulkan perubahan. Misalnya, jika kesepakatan “Dilarang menggunakan HP” ternyata menghambat akses kamus daring, guru yang adaptif akan mengajak siswa merumuskan ulang menjadi “HP hanya digunakan untuk keperluan akademik atas instruksi guru”. Jika perubahan ini datang dari instruksi guru semata tanpa diskusi, maka skornya akan tertahan di level “Belum Efektif”.
Baca juga: Observasi Implementasi TIK dalam Pembelajaran
4. Analisis Mendalam Target Perilaku 2: Penguatan Positif
Analisis terhadap Target Perilaku 2 menyingkap area paling rapuh dalam praktik pembelajaran Aidal Yanhar, dengan skor rata-rata hanya 60.00. Penguatan positif (Positive Reinforcement) adalah fondasi dari motivasi intrinsik dan pembentukan kebiasaan. Kegagalan di area ini memiliki dampak sistemik: tanpa tabungan emosi positif yang cukup, siswa akan merasa bahwa upaya mereka untuk berperilaku baik adalah sia-sia atau tidak dihargai (taken for granted).
4.1 Sub-Indikator 1: Memberi Pujian Terhadap Perilaku yang Sesuai (Skor: 60.00) Status: Dilakukan tapi Belum Efektif
Skor 60.00 berada tepat di garis batas antara “Belum Dilakukan” dan “Dilakukan”. Ini menunjukkan frekuensi pujian yang sangat minim atau kualitas pujian yang sangat rendah. Dalam observasi, ini biasanya terlihat ketika guru hanya memberikan respon standar seperti “Oke”, “Lanjut”, atau “Bagus” tanpa antusiasme.
Psikologi Pujian Umum vs. Pujian Efektif
Pujian umum (General Praise) seperti “Good job” memiliki nilai informasional yang mendekati nol. Siswa tidak mengetahui secara persis perilaku mana yang dipuji. Apakah karena mereka duduk diam? Apakah karena jawaban mereka benar? Atau karena tulisan mereka rapi? Ketidakjelasan ini membuat perilaku positif sulit direplikasi. Dalam teori Operant Conditioning Skinner, reinforcement hanya efektif jika subjek memahami hubungan kausalitas antara perilaku dan hadiah (pujian). Skor 60.00 mengindikasikan bahwa link kausalitas ini kabur di kelas Pak Aidal. Analisis terhadap Target Perilaku 2 menyingkap area paling rapuh dalam praktik pembelajaran Aidal Yanhar, dengan skor rata-rata hanya 60.00. Penguatan positif (Positive Reinforcement) adalah fondasi dari motivasi intrinsik dan pembentukan kebiasaan. Kegagalan di area ini memiliki dampak sistemik: tanpa tabungan emosi positif yang cukup, siswa akan merasa bahwa upaya mereka untuk berperilaku baik adalah sia-sia atau tidak dihargai (taken for granted).
4.2 Sub-Indikator 2: Penguatan Positif dengan Beragam Cara (Skor: 65.00) Status: Dilakukan tapi Belum Efektif
Variasi adalah kunci untuk mencegah habituasi (kebosanan) terhadap penguatan. Skor 65.00 menunjukkan guru Aidal Yanhar sangat terbatas dalam repertoar penguatannya. Kemungkinan besar ia hanya mengandalkan pujian verbal monoton.
Rubrik PMM dan literatur pendidikan menyarankan diversifikasi penguatan yang mencakup:
- Penguatan Gestural: Senyuman, acungan jempol, tepuk tangan, tatapan mata yang hangat (warm eye contact).
- Penguatan Simbolik (Token Economy): Pemberian stiker, bintang, poin kelas, atau sertifikat mini.
- Penguatan Kegiatan (Activity Reinforcement): Memberikan privilese seperti memimpin doa, memilih lagu untuk listening section, atau menjadi asisten guru.
- Penguatan Proksimitas: Berdiri di dekat siswa yang sedang bekerja dengan baik sebagai tanda perhatian positif.
Ketidakhadiran variasi ini membuat suasana kelas menjadi “kering”. Dalam kelas Bahasa Inggris, di mana siswa sering merasa tegang, penguatan non-verbal (seperti senyuman tulus saat siswa berani berbicara) seringkali lebih bermakna daripada kata-kata.
4.3 Sub-Indikator 3: Mengakui Perilaku Positif Secara Spesifik (Skor: 50.00) Status: Belum Dilakukan / Kritis
Skor 50.00 pada sub-indikator ini adalah temuan paling mengkhawatirkan dalam laporan observasi. Penilai memberikan skor di bawah ambang batas lulus (60), yang berarti praktik ini hampir tidak muncul atau dilakukan dengan sangat keliru. Indikator ini menuntut penerapan Behavior-Specific Praise (BSP).
Mengapa BSP Sangat Krusial dan Sulit Dilakukan?
BSP memiliki formula: ** + +**. Contoh: “Andi, Bapak menghargai ketekunanmu membuka kamus saat tidak tahu arti kata, itu menunjukkan kemandirian belajar yang hebat.” Bandingkan dengan praktik Pak Aidal yang (berdasarkan skor 50) mungkin hanya berkata: “Andi, bagus.”
Analisis Penyebab Rendahnya Skor:
- Beban Kognitif Guru (Cognitive Load): Memberikan BSP menuntut guru untuk melakukan monitoring detail di tengah kesibukan mengajar materi. Otak guru harus memproses konten pelajaran, manajemen waktu, dan sekaligus merumuskan kalimat pujian yang spesifik. Bagi banyak guru, kapasitas kognitif ini sudah habis untuk materi ajar, sehingga pujian menjadi otomatis dan generik.
- Keterbatasan Kosakata Emosional Bahasa Inggris: Sebagai guru Bahasa Inggris, Aidal mungkin merasa tertekan untuk memberikan pujian dalam Bahasa Inggris. Merangkai kalimat BSP yang kompleks (“I appreciate how you specifically used…”) jauh lebih sulit daripada instructional phrases standar. Rasa takut salah grammar atau terdengar kaku bisa menghambat guru memberikan pujian spesifik.
- Bias Negatif (Negativity Bias): Secara evolusioner, manusia lebih waspada terhadap ancaman (perilaku buruk) daripada hal positif. Guru secara tidak sadar terprogram untuk memindai kelas mencari siapa yang tidak memperhatikan, bukan siapa yang sedang memperhatikan. Akibatnya, perilaku positif luput dari pengamatan spesifik (unnoticed), dan siswa merasa “tak terlihat” jika mereka menjadi anak baik.
Dampak dari skor 50.00 ini sangat destruktif. Siswa belajar bahwa menjadi “biasa-biasa saja” atau “baik” tidak mendatangkan perhatian. Perhatian guru (meskipun negatif berupa teguran) hanya didapat jika mereka berbuat salah. Ini dapat memicu perilaku mencari perhatian negatif (negative attention seeking behavior).
5. Analisis Mendalam Target Perilaku 3: Restitusi
Berbanding terbalik dengan Penguatan Positif, Aidal Yanhar menunjukkan kompetensi yang matang dan canggih dalam aspek Restitusi (Skor Rata-rata 80.56). Restitusi adalah proses menciptakan kondisi bagi murid untuk memperbaiki kesalahan mereka, sehingga mereka bisa kembali pada kelompok mereka dengan karakter yang lebih kuat. Kinerja tinggi ini menempatkan Aidal Yanhar sebagai figur otoritas yang adil dan pemulih, bukan penghukum.
5.1 Sub-Indikator 1: Membantu Menyadari Konsekuensi (Skor: 80.00) Status: Dilakukan dan Efektif
Skor 80.00 menandakan bahwa guru berhasil menerapkan prinsip “Bukan Hukuman, Tapi Konsekuensi”. Hukuman bersifat menyakiti dan tidak berkolerasi logis (misal: lari keliling lapangan karena terlambat), sedangkan konsekuensi logis berhubungan langsung dengan perbuatan (misal: terlambat masuk berarti harus mengejar materi yang tertinggal saat jam istirahat).
Guru Aidal mampu memandu dialog rasional dengan siswa. Ia tidak marah-marah, melainkan bertanya: “Apa akibatnya jika kamu tidak membawa kamus?”. Siswa diajak berpikir sebab-akibat. Ini mengembangkan nalar kritis dan tanggung jawab pribadi (personal responsibility), yang merupakan inti dari Profil Pelajar Pancasila.
5.2 Sub-Indikator 2: Mendengarkan Sudut Pandang Peserta Didik (Skor: 73.33) Status: Dilakukan tapi Belum Efektif
Meskipun secara umum restitusi efektif, aspek “mendengarkan” kembali muncul sebagai titik yang sedikit lebih lemah dibandingkan sub-indikator restitusi lainnya (meski masih jauh lebih baik dari Refleksi). Skor 73.33 menunjukkan bahwa dalam proses restitusi, guru mungkin kadang terjebak ingin segera memberikan solusi (fixing reflex).
Dalam Segitiga Restitusi , langkah pertama adalah “Menstabilkan Identitas” dan langkah kedua adalah “Validasi Tindakan yang Salah”. Validasi membutuhkan pendengaran aktif. Guru harus memahami kebutuhan dasar apa yang sedang berusaha dipenuhi siswa melalui perilaku salah tersebut (misal: kebutuhan akan kesenangan, kekuasaan, atau kebebasan). Jika guru mendengarkan, ia akan tahu bahwa siswa ribut di kelas mungkin karena bosan (butuh kesenangan) atau ingin dianggap jagoan (butuh pengakuan). Skor 73.33 menyiratkan guru sudah mendengarkan, tapi mungkin belum sampai pada level identifikasi kebutuhan dasar tersebut secara presisi.
5.3 Sub-Indikator 3: Memberikan Dukungan Perbaikan Perilaku (Skor: 85.42) Status: Dilakukan dan Efektif
Ini adalah puncak kinerja Aidal Yanhar (Skor Tertinggi). Guru tidak meninggalkan siswa dalam rasa bersalah, melainkan aktif membantu merancang jalan keluar.
- Bukti Perilaku: Guru bertanya, “Apa yang bisa Bapak bantu agar besok kamu bisa membawa tugas tepat waktu?”.
- Implikasi Pedagogis: Pendekatan suportif ini membangun Psychological Safety. Siswa tidak takut berbuat salah karena mereka tahu guru akan membantu memperbaikinya, bukan mempermalukan mereka. Dalam pembelajaran bahasa, ini sangat krusial. Siswa yang merasa didukung akan lebih berani mengambil risiko (risk-taking) dalam berbicara Bahasa Inggris, karena mereka tahu kesalahan (baik perilaku maupun linguistik) akan ditangani dengan martabat.
6. Sintesis Profil Guru dan Implikasi Pedagogis
6.1 “The Benevolent Repairman”: Profil Guru Aidal Yanhar
Berdasarkan sintesis data , kita dapat membangun profil pedagogis Aidal Yanhar sebagai “The Benevolent Repairman” (Sang Pemulih yang Baik Hati).
- Kekuatan: Sangat ahli memperbaiki situasi yang rusak (Restitusi tinggi). Memiliki empati dan orientasi solusi yang kuat saat masalah terjadi.
- Kelemahan: Kurang proaktif dalam merawat kondisi agar tidak rusak (Penguatan Positif rendah). Kurang teliti dalam mengamati benih-benih kebaikan kecil.
Metafora yang tepat adalah seorang dokter yang sangat hebat mengobati pasien sakit (kuratif), namun lupa memberikan vitamin dan nasihat hidup sehat agar pasien tidak jatuh sakit (preventif). Kelas Pak Aidal mungkin terasa aman bagi siswa bermasalah, namun terasa hampa bagi siswa yang berprestasi atau berperilaku baik.
6.2 Dampak pada Ekosistem Pembelajaran Bahasa Inggris
Analisis ini tidak bisa dilepaskan dari konteks mata pelajaran. Bahasa Inggris adalah mata pelajaran yang sarat dengan kecemasan (high-anxiety subject).
- Dampak Defisit Pujian Spesifik pada Efikasi Diri: Siswa yang sedang belajar bahasa asing sangat haus akan umpan balik. Ketika mereka berhasil menyusun kalimat yang kompleks, mereka butuh konfirmasi spesifik. Jika guru hanya diam atau memberi respon datar, siswa meragukan kompetensi mereka. Self-efficacy mereka tidak tumbuh. Skor 50.00 di penguatan spesifik berpotensi menghambat laju language acquisition siswa di SMPN 3 Sinjai.
- Peran Restitusi dalam Menurunkan “Affective Filter”: Di sisi lain, kemampuan restitusi yang tinggi (80-85) adalah aset besar. Menurut Stephen Krashen, pembelajaran bahasa optimal terjadi saat Affective Filter rendah (siswa tidak cemas, tidak takut, merasa percaya diri). Sikap Pak Aidal yang memanusiakan kesalahan membuat filter afektif siswa menurun saat mereka melakukan kesalahan. Mereka tidak takut “dimatikan” mentalnya. Ini adalah modal dasar yang sangat baik yang perlu dipertahankan.
7. Rekomendasi Strategis dan Rencana Tindak Lanjut
Untuk mentransformasi kinerja dari status “Dilakukan tapi Belum Efektif” menjadi “Dilakukan dan Efektif” secara menyeluruh, diperlukan intervensi terstruktur yang melibatkan guru, kepala sekolah, dan sistem pendukung di PMM.
7.1 Rencana Pengembangan Diri Guru (Individual Development Plan)
Fokus Utama: Revolusi Penguatan Positif (Menaikkan Skor 60 -> 80)
Guru Aidal Yanhar harus memprioritaskan perbaikan pada Target Perilaku 2.
- Teknik “Narrating the Positive” (Narasi Positif): Berhenti berusaha “memuji”, mulailah “mendeskripsikan”. Otak manusia lebih mudah mendeskripsikan fakta daripada mencari kata sifat pujian.
- Latihan: Alih-alih berpikir “Siapa yang bagus?”, berpikirlah “Apa yang saya lihat?”.
- Script: “Saya melihat barisan belakang sudah membuka buku halaman 10.” (Tanpa kata ‘bagus’, tapi ini adalah pengakuan spesifik atas perilaku kepatuhan). Teknik ini menurunkan beban kognitif guru namun tetap memberikan efek pengakuan bagi siswa.
- Penerapan Rasio Ajaib 4:1: Riset psikologi pendidikan menyarankan rasio 4 interaksi positif untuk setiap 1 interaksi korektif. Guru harus menantang dirinya sendiri: “Saya tidak boleh menegur siswa yang ribut sebelum saya memuji 4 siswa yang tertib.” Ini memaksa mata guru untuk mencari hal positif (scanning for positives).
- Bank Frasa Bahasa Inggris untuk Pujian Spesifik: Untuk mengatasi kendala bahasa, guru perlu mencetak dan menempelkan cheat sheet di meja atau papan tulis berisi frasa-frasa seperti:
- “I noticed you…” (Saya perhatikan kamu…)
- “It was helpful when you…” (Sangat membantu ketika kamu…)
- “I appreciate your effort in…” (Saya menghargai usahamu dalam…)
- “That strategy of checking the dictionary is excellent because…” (Strategi mengecek kamus itu hebat karena…).
Fokus Sekunder: Deepening Reflection (Menaikkan Skor 70 -> 85)
- Refleksi Non-Verbal: Gunakan instrumen tertulis atau simbolik untuk mengatasi kendala bahasa dan keberanian bicara. Gunakan Sticky Notes (Metode “Stop, Start, Continue”). Siswa menuliskan satu hal yang harus kelas Hentikan, Mulai lakukan, dan Lanjutkan. Ini memberikan data konkret bagi guru untuk dibahas, sehingga refleksi tidak lagi retoris.
- Validasi Emosi dalam Refleksi: Guru harus berlatih teknik Active Listening. Ketika siswa menyampaikan keluhan, guru dilarang menjawab dengan kata “Tapi”. Ganti dengan “Dan”.
- Salah: “Saya mengerti kamu bosan, TAPI kita harus belajar.” (Menolak perasaan).
- Benar: “Saya mengerti kamu merasa bosan karena teksnya panjang, DAN kita perlu strategi agar membacanya lebih seru. Ada ide?” (Menerima perasaan, mengajak solusi).
7.2 Peran Kepala Sekolah dan Penilai (Supervisi Klinis)
Mohammad Burham, S.Pd sebagai penilai memiliki peran krusial dalam pasca-observasi:
- Fokuskan Diskusi Umpan Balik: Jangan bahas restitusi terlalu lama karena sudah baik. Habiskan 80% waktu diskusi untuk membedah rekaman/catatan observasi tentang kapan guru melewatkan kesempatan memberikan pujian. Tunjukkan data: “Pak Aidal, di menit ke-15, Budi membantu temannya memungut pulpen. Bapak melihat itu, tapi Bapak diam saja. Itu adalah missed opportunity untuk penguatan spesifik.”
- Modeling Kelas: Kepala sekolah bisa masuk ke kelas sebentar untuk mendemonstrasikan cara memberikan pujian spesifik yang natural. “Wah, Pak Aidal, saya lihat siswa di pojok sana mencatat dengan sangat rapi menggunakan dua warna pulpen. Itu strategi belajar yang cerdas sekali.” (Guru melihat contoh langsung/modeling).
7.3 Pemanfaatan Platform Merdeka Mengajar (PMM)
Rencana Tindak Lanjut di PMM harus diisi dengan presisi :
- Pilihan Belajar: Topik “Disiplin Positif”, Modul “Keyakinan Kelas” dan “Segitiga Restitusi”. Namun, tambahkan eksplorasi materi tentang “Growth Mindset” untuk memahami pentingnya memuji usaha (proses) bukan hanya hasil atau kecerdasan.
- Aksi Nyata: “Mempraktikkan Segitiga Restitusi” (untuk memperkuat yang sudah ada) dan “Membuat Papan Apresiasi Kelas” (sebagai bentuk penguatan positif visual/simbolik untuk mengatasi kelemahan verbal).
8. Kesimpulan
Observasi kinerja Aidal Yanhar, S.Pd di UPTD SMPN 3 Sinjai menyajikan studi kasus yang kaya tentang dinamika transisi disiplin di sekolah Indonesia. Dengan skor agregat 70.19, guru ini menunjukkan potensi besar untuk menjadi pendidik yang transformatif. Kekuatan fundamentalnya dalam Restitusi (80.56) adalah aset moral yang tidak mudah diajarkan—ia memiliki hati yang berada di tempat yang tepat.
Namun, efektivitas pedagogisnya tertahan oleh “kehampaan apresiasi” di ruang kelas, yang tercermin dari skor kritis Penguatan Positif (60.00) dan khususnya kegagalan dalam memberikan pengakuan spesifik (50.00). Tanpa perbaikan di sektor ini, kelas Bahasa Inggris akan tetap menjadi ruang yang aman namun kurang memotivasi, di mana siswa tidak takut salah, namun juga tidak bersemangat untuk menjadi benar.
Melalui intervensi yang terfokus pada teknik observasi mikro dan narasi positif, serta dukungan coaching yang tepat sasaran dari kepala sekolah, Aidal Yanhar diproyeksikan dapat mengubah profil kinerjanya. Transformasi dari “Guru Pemadam Kebakaran” (yang sibuk saat ada masalah) menjadi “Guru Arsitek Kebiasaan” (yang membangun fondasi perilaku positif) adalah kunci untuk mencapai standar “Dilakukan dan Efektif” yang sesungguhnya, demi terwujudnya Profil Pelajar Pancasila yang mandiri dan berkebhinekaan global.
Data hasil observasi dapat dilihat pada link berikut: Hasil Observasi Kelas Penerapan Disiplin Positif