Menumbuhkan Lingkungan Kelas yang Sadar Trauma. Banyak guru mulai menyadari betapa trauma membentuk cara siswa belajar dan berperilaku di kelas. Terkadang trauma berasal dari satu peristiwa, dan terkadang juga dari stres yang berkelanjutan; bagaimanapun juga, trauma seringkali muncul di kelas.
Bagi sebagian anak, hal ini mungkin tampak seperti menarik diri atau menghindari interaksi. Bagi yang lain, hal ini mungkin tampak sebagai perilaku buruk atau kesulitan memperhatikan. Bagaimanapun manifestasinya pada siswa, hal ini jelas meninggalkan dampak.
Membangun kelas dan pengajaran yang berwawasan trauma berarti Anda menciptakan tempat yang terasa aman dan suportif. Ketika Anda menerapkan rutinitas yang dapat diprediksi, disiplin yang penuh kasih sayang, dan mengajari siswa cara mengelola emosi, Anda tidak hanya membantu mereka belajar, tetapi juga pulih.
Berikut ini beberapa cara praktis untuk menumbuhkan kelas yang sadar trauma.
Prioritaskan Keselamatan Psikologis
Siswa yang mengalami trauma perlu tahu bahwa mereka berada di tempat yang aman. Tempat di mana mereka tidak akan merasa dihakimi atau malu atas perasaan atau perilaku mereka. Anda dapat menciptakan tempat seperti ini dengan melakukan hal-hal sederhana seperti menyapa siswa di pintu, menanyakan kabar mereka, dan mengakui perasaan mereka.
Ruang kelas dengan warna-warna netral yang lembut, pencahayaan yang hangat, sudut yang tenang untuk bersantai dan membaca, serta tempat yang bersih dan tertata rapi dapat membantu siswa merasa lebih tenang dan nyaman. Lingkungan seperti ini terasa aman dan nyaman.
Membangun Rutinitas yang Kuat dan Dapat Diprediksi
Trauma sering kali membuat anak-anak merasa dunia mereka tidak dapat diprediksi dan mereka kehilangan kendali. Berada di lingkungan yang tidak konsisten dapat memperparah perasaan, sementara lingkungan dan rutinitas yang lebih mudah diprediksi menciptakan rasa aman karena mereka tahu apa yang akan terjadi.
Saat menciptakan lingkungan kelas yang ramah trauma, tetapkan rutinitas harian dan patuhi. Pasang jadwal agar siswa dapat melihatnya dan pastikan untuk memberikan peringatan sebelum beralih ke kegiatan berikutnya. Ini akan membantu mempersiapkan siswa menghadapi perubahan yang akan datang dan meredakan kecemasan mereka. Selain itu, ketika sesuatu yang tidak terduga muncul – seperti latihan kebakaran, ajak siswa untuk mengikuti perubahan rutinitas tersebut agar mereka dapat beradaptasi dengan cepat.
Ajarkan dan Modelkan Keterampilan Pengaturan Diri
Siswa yang pernah mengalami trauma seringkali kesulitan mengatur emosi mereka. Ajari mereka strategi pengaturan diri untuk mendukung pembelajaran, agar mereka memiliki bekal yang dibutuhkan sepanjang hidup mereka.
Mulailah dengan mencontohkan pengaturan diri sendiri. Ketika Anda merasa stres, beri tahu siswa bagaimana perasaan Anda dan tunjukkan bagaimana Anda akan mengatasinya. Ini bisa dilakukan melalui pernapasan dalam, peregangan, menggunakan bola stres, atau latihan pereda stres lainnya.
Masukkan teknik menenangkan ke dalam hari-hari, seperti mengambil napas dalam-dalam beberapa kali atau menggunakan bola stres, atau sisipkan waktu istirahat otak di mana siswa bangun dan bergerak pada bagian-bagian tertentu dalam sehari.
Pertimbangkan untuk mengajarkan strategi spesifik seperti berbicara positif kepada diri sendiri, menulis jurnal, dan berhitung perlahan sambil menarik napas dalam-dalam. Seiring waktu, siswa akan mempelajari teknik mana yang paling cocok untuk mereka dan memilih cara yang dapat membantu menenangkan mereka.
Gunakan Disiplin yang Penuh Kasih Sayang
Disiplin di kelas yang berbasis trauma adalah tentang mempelajari “alasan” di balik perilaku siswa; bukan tentang menghukum mereka. Meniadakan waktu istirahat atau menyuruh siswa ke kantor hanya akan berhasil sementara.
Yang dibutuhkan siswa-siswa ini adalah keterampilan dan alat untuk mengetahui cara menangani situasi tersebut di lain waktu. Misalnya, seorang siswa yang suka mengganggu mungkin kesulitan mengendalikan impuls. Jika demikian, tawarkan mereka kesempatan untuk berlatih mengendalikan diri.
Jika terjadi perilaku buruk, cobalah menerapkan praktik pemulihan . Tanyakan kepada siswa, “Menurutmu, bagaimana tindakanmu telah memengaruhi orang lain?” atau “Menurutmu, apa yang bisa kamu lakukan untuk memperbaikinya?” Pendekatan ini membantu siswa bertanggung jawab.
Membangun Hubungan yang Kuat Antara Siswa dan Guru
Hubungan adalah fondasi kelas yang sadar trauma. Siswa yang merasa diperhatikan dan didengar cenderung lebih terlibat dalam pembelajaran. Luangkan waktu untuk terhubung dengan siswa secara personal. Tanyakan tentang hari, akhir pekan, dan kehidupan mereka, lalu ingat detailnya.
Hal ini dapat membuat perbedaan besar bagi anak yang merasa tidak diperhatikan orang lain. Tindak lanjuti juga, karena keandalan membangun kepercayaan, dan kepercayaan adalah hal yang paling dibutuhkan oleh siswa yang memahami trauma.
Seimbangkan Harapan Tinggi dengan Empati
Pertahankan standar yang tinggi; ini menunjukkan bahwa Anda yakin akan kemampuan siswa Anda untuk berhasil. Ketika Anda melihat siswa yang sedang kesulitan, tunjukkan empati dengan mengatakan, “Saya tahu ini sulit, mari kita coba cari tahu cara untuk membantumu mencapai tujuanmu.” Ini akan menunjukkan bahwa Anda peduli dengan kesuksesan mereka dan tidak marah karena mereka tidak memenuhi harapan Anda.
Penting juga untuk memberi siswa pilihan . Pertimbangkan untuk menggunakan papan pilihan atau izinkan mereka memilih di antara dua tugas yang berbeda. Biarkan mereka memilih buku yang ingin mereka baca atau di mana mereka ingin membacanya di kelas. Ketika Anda memberi mereka pilihan, hal itu memberi mereka rasa kendali, sesuatu yang seringkali dirampas dari mereka akibat trauma.
Mengapa Pendekatan Ini Penting
Mengembangkan strategi pengajaran yang berwawasan trauma bukan hanya tentang membantu siswa yang kesulitan melewati hari; ini tentang menciptakan ruang di mana mereka memiliki alat dan keterampilan untuk berkembang secara mandiri. Ketika siswa merasa aman dan didukung, mereka lebih siap untuk membangun hubungan yang sehat, menjadi lebih tangguh, dan berani mengambil risiko. Alih-alih bertanya, “Apa yang salah dengan siswa ini?” Tanyakan pada diri sendiri, “Bagaimana saya bisa memberikan dukungan terbaik kepada siswa ini?”
Bagi banyak siswa, trauma memang tak terelakkan. Namun, ruang kelas bisa menjadi tempat di mana mereka merasa dipahami, dihargai, dan aman. Ruang kelas juga bisa menjadi tempat mereka memulihkan diri. Dengan berfokus pada strategi-strategi spesifik yang telah disebutkan, Anda dapat menciptakan ruang kelas di mana setiap orang memiliki kesempatan untuk sukses.