Menangani Siswa Berisiko di Kelas. Menemukan cara untuk mendukung beragam kelompok siswa di kelas Anda bisa menjadi salah satu tantangan terbesar yang dihadapi seorang guru . Dari kebutuhan akademis hingga kebutuhan sosial dan emosional mereka, pendidikan adalah tentang mendukung anak secara keseluruhan—bukan hanya nilai membaca dan matematika mereka. Salah satu kelompok siswa yang membutuhkan banyak pemikiran, perencanaan, dan perhatian adalah siswa yang berisiko.
Apa itu Siswa Berisiko?
Istilah “siswa berisiko” sering digunakan untuk menggambarkan siswa yang mengalami kesulitan akademis dan memiliki kemungkinan lebih tinggi untuk gagal dalam tugas sehari-hari, ujian, atau bahkan putus sekolah.
Namun, istilah ini juga mencakup siswa yang menghadapi situasi kehidupan tertentu yang berkontribusi terhadap kesulitan mereka. Faktor-faktor terkait pembelajaran ini dapat berdampak negatif terhadap kinerja pendidikan dan kesuksesan mereka secara keseluruhan. Contoh faktor-faktor tersebut meliputi:
- Tantangan sosial ekonomi : Tunawisma, kemiskinan, atau lingkungan rumah yang tidak stabil.
- Masalah keluarga : Memiliki orang tua di penjara atau masalah terkait keluarga lainnya.
- Kesehatan dan kesejahteraan : Masalah kesehatan kronis atau tekanan emosional.
- Masalah perilaku : Kekerasan, masalah disiplin, atau membolos.
- Disabilitas belajar : Perbedaan belajar yang tidak terdiagnosis atau tidak ditangani.
EdGlossary mencatat bahwa siswa berisiko menghadapi banyak tantangan lebih dari sekadar gagal dalam tugas kelas. Mengatasi masalah mendasar ini sangat penting bagi keberhasilan mereka.
Tantangan yang Dihadapi Siswa Berisiko
Menangani siswa yang berisiko menghadapi banyak tantangan, sering kali setiap hari.
- Kesulitan akademis : Mereka mungkin tidak memahami pelajaran kelompok dan membutuhkan bantuan serta instruksi kelompok kecil untuk mengajarkan kembali konsep-konsep pada tingkat spesifik mereka. Pelajaran kelompok dapat membuat mereka merasa kewalahan, bingung, dan putus asa.
- Kurang percaya diri : Akibat kemunduran akademik dan perilaku yang berulang, siswa-siswa ini seringkali memiliki rasa percaya diri yang rendah. Mereka membutuhkan keyakinan dan dorongan terus-menerus dari guru mereka. Keyakinan guru terhadap potensi mereka sangat penting untuk memotivasi mereka agar tekun menghadapi kesalahan dan berusaha mencapai tujuan mereka.
- Hubungan negatif : Bagi banyak siswa yang berisiko, interaksi dengan guru dan administrator sering kali negatif, yang mengikis kepercayaan dan membuat lingkungan sekolah terasa bermusuhan alih-alih mendukung.
Baca juga: Mengajarkan Tanggung Jawab kepada Siswa
Cara Mendukung Siswa Berisiko di Kelas
Mendukung siswa yang berisiko memerlukan pendekatan multifaset yang menjawab kebutuhan akademis, sosial, dan emosional mereka.
Prioritaskan Membangun Hubungan
Membangun hubungan yang kuat dan positif dengan siswa berisiko adalah salah satu hal paling berdampak yang dapat dilakukan seorang guru. Dengan memupuk hubungan ini, Anda dapat meraih kepercayaan mereka dan menciptakan lingkungan yang suportif.
- Kenali mereka secara pribadi : Tanyakan tentang minat, keluarga, dan hobi mereka. Ini menunjukkan bahwa Anda peduli kepada mereka sebagai pribadi, bukan hanya sebagai siswa.
- Berbagi tentang diri Anda : Balas dengan berbagi hal-hal tentang kehidupan Anda sendiri, yang membantu mereka melihat Anda sebagai seorang pribadi dan bukan sekadar figur otoritas.
Menerapkan Model Kelas yang Demokratis
Model kelas yang demokratis memberi siswa suara dan rasa kepemilikan , yang krusial bagi keterlibatan dan penerimaan. Ketika siswa merasa pendapat mereka penting, mereka cenderung berpartisipasi dan bertanggung jawab.
- Berkolaborasi dalam aturan : Biarkan siswa membantu membuat aturan dan konsekuensi kelas. Mereka cenderung lebih mematuhi aturan yang mereka buat sendiri.
- Tawarkan pilihan : Berikan pilihan dalam cara mereka mendemonstrasikan pembelajaran mereka (misalnya, laporan tertulis, presentasi, atau video). Hal ini memberdayakan mereka untuk bertanggung jawab atas pendidikan mereka.
- Libatkan mereka dalam desain : Biarkan siswa memiliki suara dalam tata letak dan desain kelas, menjadikan ruang terasa seperti komunitas yang mereka bantu bangun.
Gunakan Sistem Check-In/Check-Out
Sistem check-in/check-out merupakan alat yang ampuh untuk membangun hubungan dan mengurangi perilaku mengganggu. Ini menghubungkan siswa dengan orang dewasa tepercaya di sekolah (selain guru kelas mereka).
- Check-in Pagi : Siswa melakukan check-in dengan orang dewasa yang ditunjuk di awal hari. Mereka meninjau lembar tujuan dan membahas tantangan apa pun dari hari sebelumnya. Ini menciptakan suasana positif dan membantu mereka mempersiapkan hari yang sukses.
- Pengamatan Akhir Hari : Siswa kembali bertemu dengan orang dewasa yang sama di akhir hari untuk meninjau kemajuan dan merenungkan bagaimana hari itu berjalan. Ini memberikan penutup dan mengakhiri hari dengan positif.
Sistem harus disesuaikan untuk memenuhi kebutuhan individu setiap siswa.
Pertahankan Log Komunikasi dengan Orang Tua
Komunikasi terbuka dengan orang tua atau wali sangat penting menangani keberhasilan siswa. Catatan komunikasi memastikan semua orang tetap terhubung dan memastikan sistem dukungan yang konsisten antara rumah dan sekolah.
- Catatan harian atau mingguan : Gunakan buku catatan atau lembar tujuan untuk mencatat cepat tentang hari siswa—baik keberhasilan maupun area yang perlu ditingkatkan.
- Dorong umpan balik orang tua : Berikan ruang bagi orang tua untuk berkomentar atau bertanya. Komunikasi timbal balik ini bisa lebih efektif dan nyaman daripada permainan kejar-kejaran telepon.
- Berikan insentif : Anda dapat menawarkan insentif kecil bagi siswa yang mengembalikan catatan komunikasi yang telah ditandatangani, yang mendorong tanggung jawab dan tindak lanjut.
Dengan menerapkan strategi ini, guru dapat secara efektif menangani/mendukung siswa yang berisiko, membantu mereka tidak hanya berprestasi secara akademis tetapi juga merasa seperti anggota komunitas kelas yang berharga dan berkontribusi.